Proyeksi Harga Emas Sepekan ke Depan, Berpeluang Tembus Rp2,88 Juta per Gram
Christoper Desmawangga June 16, 2026 07:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Grafik pergerakan harga emas batangan atau logam mulia diperkirakan masih bergerak sepanjang sepekan ke depan.

Kendati masih dibayangi risiko koreksi landai, harga emas dinilai menyimpan momentum besar untuk meroket hingga menyentuh level Rp2,88 juta per gram, apabila disokong oleh sentimen positif dari dinamika geopolitik serta arah kebijakan moneter global.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memaparkan bahwa fluktuasi harga emas di dalam negeri secara historis tetap berkorelasi linier dan interdependen dengan pergerakan harga emas di pasar spot dunia.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 15 Juni 2026 di Balikpapan Naik, Tembus Rp2,729 Juta per Gram Awal Pekan

Jika mengacu pada skenario optimistis di mana harga emas dunia mengalami reli penguatan dalam sepekan ke depan, level resistance pertama diproyeksikan akan menguji angka 4.394 dollar AS per troy ons.

Kondisi ini berpotensi mendongkrak harga logam mulia Antam ke posisi Rp2.740.000 per gram.

"Kemudian kalau seandainya menguat lagi, resistance kedua di 4.571 dollar AS per troy ons, kemudian logam mulianya di Rp 2.880.000 per gram," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/6/2026).

Sebaliknya, Ibrahim mengingatkan bahwa ruang untuk koreksi ke bawah (bearish) juga masih terbuka lebar di pasar harian.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Senin 15 Juni 2026 di Pegadaian, Antam, UBS hingga Galeri 24

Dalam skenario pesimistis, jika tekanan jual meluas, harga emas global diprediksi bakal melosor ke zona support pertama di level 4.058 dollar AS per troy ons, yang akan menyeret harga emas domestik turun ke kisaran Rp2.610.000 per gram.

Apabila tren penurunan tersebut terus berlanjut tanpa perlawanan buyback, level support kedua akan berada di posisi 3.929 dollar AS per troy ons dengan draf proyeksi harga logam mulia yang merosot hingga Rp2.500.000 per gram.

Ibrahim mengidentifikasi terdapat dua variabel makro utama yang akan memegang kendali penuh dalam menentukan arah kompas pergerakan emas pada pekan depan.

Dua faktor tersebut adalah perkembangan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta keputusan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Baca juga: Update Harga Emas UBS, Galeri24, Antam di Pegadaian 14 Juni 2026 dan Link Grafik Perhiasan Terbaru

"Jadi cuma ada dua faktor itu yang akan mempengaruhi pergerakan indeks dollar AS, minyak mentah, kemudian harga emas dan logam mulia," jelasnya.

Dari koridor geopolitik, pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi realisasi draf kesepakatan damai hibrida antara Washington dan Teheran, yang salah satu klausul krusialnya mencakup pembukaan kembali jalur logistik Selat Hormuz serta penandatanganan sejumlah nota kesepahaman ekonomi.

Jika draf perdamaian tersebut terealisasi secara konkret, peta sentimen pasar keuangan global dipastikan akan berubah drastis.

Meski begitu, implementasi pakta perdamaian ini dinilai masih menyisakan riak risiko ekor (tail risk), termasuk potensi gesekan susulan di Timur Tengah yang sewaktu-waktu bisa memicu ketidakpastian baru.

Baca juga: Harga Emas Anjlok ke Level Terendah, Pengamat: Ingat! Ini Investasi Jangka Panjang

Namun, apabila Selat Hormuz benar-benar dibuka secara aman dan tensi politik mendingin, para manajer investasi yang sebelumnya memarkir dana mereka di aset dollar AS (safe haven currency) diprediksi bakal mengalihkan portofolionya kembali ke instrumen emas.

"Kalau benar-benar terjadi perdamaian antara AS dan Iran kemudian Selat Hormuz dibuka, kemungkinan besar investor akan kembali ke logam mulia sebagai safe haven," kata Ibrahim.

Di samping memantau perkembangan Timur Tengah, perhatian investor harian juga tertuju pada draf hasil pertemuan berkala (monetary policy meeting) sejumlah bank sentral raksasa dunia, meliputi Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England (BoE), dan Bank of Japan (BoJ).

Ibrahim menganalisis bahwa The Fed masih memiliki probabilitas tinggi untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan.

Baca juga: Update Harga Emas 13 Juni 2026: Antam Rp2,8 Juta per Gram, Cek Harga Galeri24 dan UBS Hari Ini

Namun, apabila kurva inflasi di AS kembali mendaki akibat efek rambatan kenaikan harga komoditas energi, tidak menutup kemungkinan bank sentral pimpinan Jerome Powell tersebut akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga.

Langkah pengetatan ini tentu akan menjadi sentimen negatif yang menekan harga emas.

Sebaliknya, jika pendinginan geopolitik sukses menurunkan harga minyak mentah global, maka tekanan inflasi dunia otomatis akan mereda.

Kondisi pelonggaran ini akan memberikan ruang bagi bank-bank sentral untuk mengeksekusi draf kebijakan moneter yang lebih longgar (dovish), yang pada akhirnya akan bertindak sebagai katalis positif bagi kenaikan harga emas dunia maupun logam mulia domestik dalam waktu dekat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.