K-SIGN Rote Ndao Masuk Tahap Krusial, AMDAL Terbit, Pemerintah Pacu Swasembada Garam Nasional
Apolonia Matilde June 16, 2026 07:19 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti

 

POS-KUPANG.COM - Pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao memasuki fase krusial setelah izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tahap pertama resmi terbit. 

Pemerintah kini mempercepat penyelesaian berbagai dokumen dan perizinan untuk mendukung perluasan kawasan garam yang diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung swasembada garam nasional.

Percepatan pembangunan K-SIGN menjadi fokus utama dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Miftahul Huda. 

Rapat tersebut membahas penyelesaian perizinan lingkungan untuk mendukung alokasi anggaran K-SIGN tahun 2025 dan 2026, sekaligus mempercepat proses Penetapan Lokasi (Penlok)

 tahap kedua.

AMDAL tahap pertama untuk proyek strategis tersebut telah resmi diterbitkan pada 8 Juni 2026. 

Terbitnya izin lingkungan itu menjadi landasan penting bagi pelaksanaan pembangunan fisik kawasan industri garam di Rote Ndao.

"Dengan terbitnya AMDAL Tahap 1, kita memastikan bahwa seluruh blueprint pembangunan fisik K-SIGN di Rote Ndao tidak hanya mengejar target produksi, tetapi telah sepenuhnya tervalidasi dan aman dari aspek lingkungan serta sosial kemasyarakatan," kata Miftahul Huda.

Untuk mendukung pengembangan tahap kedua, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini terus bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur guna mempercepat penyelesaian dokumen lingkungan hidup dan persyaratan administratif yang dibutuhkan dalam penerbitan surat Penetapan Lokasi.

Langkah tersebut dinilai penting agar perluasan lahan produksi garam dapat segera dilakukan tanpa terhambat proses birokrasi.

Miftahul Huda menilai Rote Ndao memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan industri garam nasional. 

Wilayah paling selatan Indonesia ini memiliki musim kemarau yang panjang dengan tingkat penguapan tinggi, sehingga dinilai sangat ideal untuk menghasilkan garam industri berkualitas tinggi.

Selain memperluas areal produksi, program K-SIGN juga akan mengintegrasikan berbagai teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas. 

Teknologi geomembrane dan sistem resirkulasi air akan diterapkan guna meningkatkan hasil produksi per hektare sekaligus menjaga stabilitas harga garam di tingkat petambak.

Ia menegaskan, garam merupakan komoditas strategis yang tidak hanya dibutuhkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga menjadi bahan baku penting bagi industri pangan, farmasi dan kimia.

Karena itu, keberhasilan pembangunan K-SIGN di Rote Ndao diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap garam impor sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui sektor kelautan dan perikanan.

Dengan dukungan regulasi yang terus dipercepat, pemerintah optimistis K-SIGN Rote Ndao akan menjadi pusat produksi garam nasional yang mampu menopang target swasembada dan memperkuat ketahanan industri dalam negeri. (rio)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.