TRIBUNTRENDS.COM - Diskusi publik bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” yang digelar dalam agenda KOPDAR BARENG MAS DAR di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Senin (16/6/2026) malam, berakhir ricuh setelah didatangi sekelompok mahasiswa.
Kegiatan yang menghadirkan sejumlah pejabat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu semula berlangsung normal sebelum situasi memanas di tengah jalannya diskusi.
Tiga pejabat yang hadir sebagai narasumber dalam forum tersebut yakni Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.
Kehadiran para pejabat tersebut menjadi daya tarik utama dalam diskusi yang mengangkat tema persatuan bangsa melalui nilai-nilai Pancasila.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang sebelumnya masuk dalam daftar pembicara tidak terlihat menghadiri acara hingga kegiatan berlangsung.
Baca juga: Reaksi Wapres Gibran soal Demo Mahasiswa, Ajak Diskusi, Janji Sampaikan ke Prabowo: Banyak Minusnya
Peserta diskusi tampak mengikuti pemaparan para narasumber sejak awal acara.
Namun, suasana berubah ketika forum memasuki sesi penyampaian pandangan dari Budiman Sudjatmiko.
Saat Budiman berbicara di atas panggung, sekelompok mahasiswa mendatangi lokasi kegiatan dan memicu ketegangan di area acara.
Aksi tersebut membuat jalannya diskusi terganggu dan memunculkan kericuhan yang menarik perhatian peserta maupun panitia penyelenggara.
Situasi di dalam lokasi acara pun sempat tidak kondusif akibat meningkatnya tensi antara kelompok mahasiswa dengan pihak yang berada di forum diskusi.
Kericuhan akhirnya menjadi penutup dari rangkaian acara yang sebelumnya dirancang sebagai ruang dialog mengenai Pancasila dan persatuan bangsa Indonesia.
Tiba-tiba sekelompok mahasiswa datang dan menginterupsi jalannya acara menggunakan pengeras suara, mengutip tayangan video di akun Instagram @totalpolitikcom.
Massa kemudian membentangkan spanduk dan menyampaikan protes secara terbuka di dalam arena diskusi.
"Budiman Sudjatmiko adalah pengkhianat Reformasi," teriak salah seorang peserta aksi.
Teriakan serupa kemudian disusul oleh peserta lain yang mendesak para pejabat meninggalkan lokasi acara.
Melihat hal tersebut tampak Budiman tertawa, termasuk Sudaryanto.
"SPPG ini adalah Satuan Penjilat Prabowo Gibran, orang-orang ini pergi dari sini," ujar seorang peserta aksi yang sempat mengambil mikrofon dari pembawa acara.
Situasi semakin memanas ketika teriakan revolusi menggema di lokasi.
Di tengah kondisi yang tidak kondusif, aparat keamanan akhirnya mengevakuasi ketiga pejabat dari arena diskusi.
Baca juga: Wapres Gibran Ajak Mahasiswa Demo Diskusi di Istana, Isi Pembahasan, Konsekuensi Jika Tak Penuhi
Menanggapi insiden tersebut, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa dirinya bersama Nusron Wahid dan Budiman Sudjatmiko datang ke UGM untuk berdialog secara terbuka dengan mahasiswa.
"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," kata Sudaryono.
Menurutnya, forum sempat berlangsung sekitar 30 hingga 40 menit dengan sesi tanya jawab terbuka sebelum muncul kelompok yang menghendaki diskusi dihentikan.
"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ujarnya.
Sudaryono membantah anggapan bahwa dirinya dan rombongan meninggalkan lokasi karena menghindari dialog.
Ia mengklaim tetap bertahan hingga situasi memanas akibat pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.
"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," kata Sudaryono.
Ia menegaskan bahwa dirinya dan Nusron Wahid bahkan sempat kembali keluar dari kendaraan dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog dengan mahasiswa.
"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.
Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang hadir untuk berdiskusi namun tidak dapat mengikuti forum hingga selesai akibat kericuhan tersebut.
Ia menegaskan pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan siap kembali berdialog apabila mendapat undangan dari mahasiswa.
(TribunTrends/Tribunnews/Garudea Prabawati)