TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pura Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan Surakarta kembali menggelar tradisi sakral Kirab Pusaka Malam 1 Suro pada Selasa (16/6/2026) malam.
Tradisi tahunan yang menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Jawa ini selalu menjadi magnet bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung prosesi budaya yang sarat makna sejarah dan spiritual.
Di Solo, peringatan malam 1 Suro identik dengan kirab pusaka yang dilakukan oleh dua pusat kebudayaan Jawa tersebut.
Baca juga: Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Selasa 16 Juni 2026 : Lengkap Rute Stasiun Palur hingga Stasiun Tugu
Meski memiliki tujuan yang sama, yakni menghormati pusaka leluhur dan menyambut pergantian tahun Jawa, terdapat sejumlah perbedaan dalam pelaksanaannya.
Puro Mangkunegaran menjadwalkan Kirab Pusaka Malam 1 Suro mulai pukul 19.00 WIB.
Prosesi diawali dari Taman Pamedan yang merupakan pintu utama kawasan Puro Mangkunegaran.
Dari titik tersebut, rombongan kirab akan bergerak menyusuri sejumlah ruas jalan di pusat Kota Solo sebelum kembali ke kompleks Puro Mangkunegaran.
Rute yang akan dilalui meliputi:
Setelah menyelesaikan perjalanan mengelilingi kawasan kota, rombongan kirab kembali memasuki kompleks Puro Mangkunegaran melalui Taman Pamedan sebagai penutup prosesi.
Setiap tahunnya, kirab ini selalu menarik perhatian ribuan warga yang memadati sepanjang rute untuk menyaksikan jalannya prosesi adat tersebut.
Baca juga: Agenda Solo Hari Ini Selasa 16 Juni 2026 : Ada Kirab Pusaka Malam 1 Suro
Pada malam yang sama, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat juga menggelar Kirab Pusaka Malam 1 Suro dengan rute yang relatif sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kirab dimulai dari Kori Kamandungan Keraton Solo menuju Jalan Supit Urang.
Selanjutnya rombongan bergerak ke Jalan Pakubuwono di sisi barat Alun-Alun Utara hingga mencapai Simpang Gladag.
Dari Gladag, kirab melanjutkan perjalanan melalui Jalan Jenderal Sudirman menuju Simpang Bank Indonesia, kemudian menyusuri Jalan Mayor Kusmanto.
Perjalanan diteruskan menuju Jalan Kapten Mulyadi hingga Simpang Baturono, lalu berbelok ke Jalan Veteran menuju Simpang Gemblegan.
Dari lokasi tersebut rombongan bergerak ke Jalan Yos Sudarso hingga Simpang Nonongan sebelum menyusuri Jalan Slamet Riyadi dan kembali ke kawasan keraton melalui Jalan Pakubuwono serta Jalan Supit Urang sisi timur.
Prosesi ini menjadi salah satu tradisi budaya terbesar di Kota Solo yang selalu dinantikan masyarakat setiap pergantian tahun Jawa.
Baca juga: Jelang Kirab Suro, Dua Kubu Keraton Solo Belum Sepakati Pelaksanaan
Baik di Keraton Solo maupun Mangkunegaran, terdapat satu tradisi yang sama, yakni peserta kirab menjalani laku bisu atau tapa bisu selama prosesi berlangsung.
Para peserta yang terdiri dari keluarga kerajaan, kerabat, dan abdi dalem tidak diperkenankan berbicara selama kirab berlangsung.
Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk introspeksi, pengendalian diri, serta perenungan atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Selain tidak berbicara, peserta kirab juga berjalan dengan penuh khidmat sambil mengiringi pusaka-pusaka milik keraton dan pura.
Meski sama-sama mengarak pusaka pada malam 1 Suro, terdapat sejumlah perbedaan mencolok antara kirab di Keraton Kasunanan Surakarta dan Puro Mangkunegaran.
Salah satunya terletak pada cucuk lampah atau pemimpin barisan terdepan.
Di Keraton Solo, posisi cucuk lampah ditempati kebo bule keturunan Kyai Slamet yang telah lama menjadi ikon Kirab Malam 1 Suro.
Kebo bule tersebut dipercaya sebagai pusaka berharga yang memiliki sejarah panjang dalam lingkungan keraton.
Sementara di Mangkunegaran, cucuk lampah biasanya diisi tokoh penting dari lingkungan pura.
Pada pelaksanaan sebelumnya, posisi tersebut pernah dijalankan oleh GPH Bhre Cakrahutomo yang kini menjabat sebagai KGPAA Mangkunagoro X.
Perbedaan lainnya terletak pada waktu pelaksanaan.
Kirab Mangkunegaran umumnya digelar pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, sedangkan Kirab Keraton Solo biasanya dilaksanakan menjelang tengah malam.
Menariknya, Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang kini identik dengan Solo ternyata bukan tradisi asli peninggalan Mataram Islam.
Menurut Pakar Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tundjung Sutirta, tradisi kirab baru dimulai pada tahun 1974 atas permintaan Presiden RI ke-2, Soeharto.
Saat itu, Soeharto meminta Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran menggelar ritual kirab pusaka sebagai bentuk doa dan harapan agar bangsa Indonesia terhindar dari berbagai marabahaya dan bencana.
Sebelum tahun tersebut, ritual malam 1 Suro lebih banyak diisi dengan laku tirakat, semedi, doa, dan kegiatan spiritual lainnya tanpa adanya prosesi kirab keliling kota.
Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang dan menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Solo yang dikenal luas hingga saat ini.
(*)