Renungan Harian Katolik
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
Selasa, 16 Juni 2026
MEMAAFKAN DAN RENDAH HATI: MENCIPTAKAN RUANG KERAHIMAN ILAHI TUHAN DALAM DIRI
(1Raj. 21:17-29; Mzn. 51:3-4.5-6a.11.16; Mat. 5:43-48)
"Apabila kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?" (Mat. 5:46).
Manusia selain keunggulan yang dimiliki, emosi menjadi bagian integral yang tak bisa dipisahkan. Emosi yang tak terkontrol dengan baik bisa meledakan bagai bom kapan saja. Yesus menampilkan suatu ajaran baru yang sangat kontras dengan emosi manusia: mengasihi musuh.
Ini suatu ajaran radikal yang kontras dengan perasaan emosi manusia. Hal lazim dalam hidup ialah mengasihi orang baik atau mengasihi secara berimbang.
Mengasihi musuh bertentangan dengan spirit manusia pada umumnya, perbuatan jahat harus dibalas dengan kejahatan pula.
Ini karakter yang tidak dikehendaki oleh Allah. "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kalian." (Mat. 5:44). Mengasihi musuh menampakkan karakter Allah dalam persekutuan sebagai orang beriman.
Orang jahat maupun orang baik menikmati matahari dan hujan yang datang dari Allah. Tuhan Yesus membuka wawasan kita dalam mengasihi tanpa sekat. Sekat dalam mengasihi dan membenci adalah pikiran picik yang kita anggap sebagai kebenaran, padahal tidak membawa berkat bagi hidup.
Mengasihi orang jahat, membantu dia untuk berubah. Maka tuntutannya ialah orang yang berbuat jahat terhadap kita, dia mesti dikasihani. Ini misi yang Yesus harapkan kita buat walau tak mudah.
Berbuat ekstrim dalam mewujudkan perintah cinta kasih, hanya mungkin jika kita memiliki sikap rendah hati dalam diri.
Kerendahan hati, berbelas kasih dan memaafkan menciptakan ruang bagi kerahiman Ilahi Allah dalam diri kita.
Ahab, raja Israel yang sangat jahat. Nabi Elia dengan arif menunjukkan kesalahannya. "Engkau telah memperbudak dirimu dengan melakukan yang jahat di hadapan Tuhan." (1Raj. 21:20).
Rancangan terdalam Allah bagi manusia adalah agar orang berdosa tidak binasa melainkan ia insyaf, menyesal dan bertobat.
Ahab menyadari kejahatannya lalu merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung dan berpuasa. Tobat dari perbuatan kejinya, Ahab diluputkan dari malapetaka.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa." (Mzm. 51:5-6a).
Tuhan butuh kita untuk dengan setia melaksanakan keadilan dan belas kasih dalam keseharian hidup.
Menggapai kesempurnaan dalam Tuhan bukanlah hal yang mudah bagi manusia yang didominasi perasaan emosional yang tinggi. Kerendahan hati untuk menyadari kerapuhan dalam diri melalui teguran yang disampaikan memberdayakan kita bisa bertobat, berbelas kasih dan memaafkan. Hanya inilah jalan masuk ke dalam ruang kerahiman Ilahi Allah.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Selasa/Pekan Biasa XI/A/II, 160626)