Penampakan Tungku Tanah Liat di Balik Kematian 1 Keluarga di Posong Temanggung, Sengaja Dibawa Masuk
muslimah June 16, 2026 11:55 AM

Penampakan Tungku Tanah Liat di Balik Kematian 1 Keluarga di Posong Temanggung, Diduga sengaja Dibawa Masuk

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Sellama tiga pekan jadi tanda tanya, misteri di balik penyebab kematian satu keluarga asal Kabupaten Semarang akhirnya terungkap.

Satu keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan dua puteranya itu  ditemukan tak bernyawa di dalam tenda glamping di kawasan Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung akhir Mei 2026 lau.

Kondisi mereka masih seperti tertidur saat ditemukan oleh petugas.

Banyak dugaan tentang penyebab kematian, diantaranya keracunan makanan hingga gas portable.

Baca juga: Kronologi Meninggalnya Satu Keluarga Asal Banyubiru Saat Camping di Posong Temanggung

Setelah hampir tiga pekan penyelidikan, Polda Jawa Tengah memastikan empat anggota keluarga asal Kabupaten Semarang itu meninggal dunia akibat keracunan gas karbon monoksida (CO) yang berasal dari pembakaran briket arang di dalam tungku tanah liat. 

Temuan itu sekaligus mematahkan dugaan awal yang mengarah pada kebocoran gas portable maupun keracunan makanan.

Penampakan tungku

TUNJUKKAN TUNGKU - Dirreskrimum Polda Jateng, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, bersama Kabid Humas, Kombes Pol Artanto, dan pejabat kepolisian lainnya menunjukkan barang bukti berupa tungku tanah liat saat konferensi pers pengungkapan penyebab kematian satu keluarga di Glamping Posong di Gedung Borobudur Mapolda Jateng, Kota Semarang, Senin (15/6/2026) sore. Tungku tersebut diduga menjadi sumber gas karbon monoksida yang menyebabkan empat anggota keluarga meninggal dunia di Glamping Safari Nomor 3, Taman Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung, pada 27 Mei 2026.
TUNJUKKAN TUNGKU - Dirreskrimum Polda Jateng, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir, bersama Kabid Humas, Kombes Pol Artanto, dan pejabat kepolisian lainnya menunjukkan barang bukti berupa tungku tanah liat saat konferensi pers pengungkapan penyebab kematian satu keluarga di Glamping Posong di Gedung Borobudur Mapolda Jateng, Kota Semarang, Senin (15/6/2026) sore. Tungku tersebut diduga menjadi sumber gas karbon monoksida yang menyebabkan empat anggota keluarga meninggal dunia di Glamping Safari Nomor 3, Taman Wisata Alam Posong, Kabupaten Temanggung, pada 27 Mei 2026. (TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana)

Dalam konferensi pers di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin (15/6/2026) sore, polisi memperlihatkan tungku tanah liat yang menjadi satu di antara barang bukti utama dalam kasus tersebut.

Tungku itu sebelumnya disediakan pengelola untuk kebutuhan memanggang atau membakar makanan di area glamping. 

Namun berdasarkan hasil penyelidikan, tungku tersebut diduga dibawa masuk ke dalam tenda saat para korban beristirahat.

Penyidik menduga awalnya tungku digunakan untuk membakar pisang atau keperluan lain di luar tenda. 

Saat malam semakin dingin, tungku kemudian dimasukkan ke dalam tenda yang tertutup rapat dan minim ventilasi untuk menghangatkan ruangan.

Akibatnya, gas karbon monoksida yang dihasilkan dari proses pembakaran briket arang terakumulasi di dalam tenda hingga mencapai kadar mematikan.

Saat ditemukan keesokan harinya, seluruh jenazah korban berada dalam posisi tidur masing-masing.

"Hari ini kami memaparkan hasil penyelidikan berbasis Scientific Crime Investigation terhadap peristiwa tersebut. 

Seluruh kesimpulan yang disampaikan didasarkan pada hasil olah TKP, autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, dan rangkaian penyelidikan yang dilakukan secara komprehensif," kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto.

Autopsi dan Labfor Temukan Jejak Karbon Monoksida

Kesimpulan penyelidikan diperoleh setelah tim gabungan melakukan olah TKP, autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, pemeriksaan telepon genggam korban, pra-rekonstruksi hingga simulasi di lokasi kejadian.

Secara keseluruhan, polisi memeriksa 27 saksi, di antaranya pengelola wisata, keluarga korban, pengunjung, warga sekitar rumah korban, teman korban, perangkat desa, akademisi, hingga anggota kepolisian yang kali pertama mendatangi lokasi.

Kabid Dokkes Polda Jateng, Kombes Pol drg Agung Hadi Wijanarko mengatakan hasil autopsi menunjukkan seluruh korban mengalami keracunan karbon monoksida yang menyebabkan mati lemas.

"Pemeriksaan forensik terhadap korban dan sampel darahnya menunjukkan adanya tanda-tanda keracunan karbon monoksida. Kami juga tidak menemukan luka akibat kekerasan di tubuh para korban maupun kandungan zat beracun lain seperti sianida yang dapat menyebabkan kematian," kata dia.

Dalam kesimpulan forensik juga disebutkan tidak ditemukan tanda kekerasan benda tumpul maupun tajam pada tubuh korban.

 Pemeriksaan toksikologi memastikan adanya paparan karbon monoksida dan tidak ditemukan keracunan sianida.

Temuan tersebut diperkuat hasil pemeriksaan laboratoris kriminalistik yang menunjukkan barang bukti positif mengandung karbon monoksida dan negatif sianida.

Simulasi Ungkap Sumber Gas Mematikan

LOKASI KEJADIAN: Petugas mengevakuasi jenazah sekeluarga yang meninggal dunia saat glamping di Temanggung. Salah satu korban meninggal dunia diketahui bernama Bagas Amar Hakiki, mahasiswa Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga diketahui merupakan fotografer lepas Kraton Yogyakarta. 
LOKASI KEJADIAN: Petugas mengevakuasi jenazah sekeluarga yang meninggal dunia saat glamping di Temanggung. Salah satu korban meninggal dunia diketahui bernama Bagas Amar Hakiki, mahasiswa Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga diketahui merupakan fotografer lepas Kraton Yogyakarta.  (Istimewa)

Untuk memastikan sumber paparan karbon monoksida, Bidlabfor Polda Jateng melakukan simulasi langsung di lokasi kejadian.

Kasubbid Kimia Biologi Forensik Bidlabfor Polda Jateng, AKBP Ibnu Sutarto mengatakan hasil simulasi menunjukkan sumber karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku arang di dalam tenda.

"Hasil simulasi yang kami lakukan menunjukkan diduga kuat gas karbon monoksida berasal dari pembakaran tungku di dalam tenda. 

Konsentrasi gas yang dihasilkan dapat mencapai 2000 ppm yang sangat berbahaya bagi manusia," ungkap dia.

Menurut Ibnu, kadar tersebut jauh melampaui batas aman bagi manusia.

"Bahkan ketika dilakukan uji pembakaran di luar tenda, gas karbon monoksida masih berpotensi masuk ke dalam dan melampaui ambang batas aman (200 ppm)," imbuh dia.

Bermula dari Liburan Keluarga

Peristiwa itu diketahui terjadi di Glamping Safari Nomor 3, Taman Wisata Alam Posong, Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.

Korban adalah satu keluarga asal Banyubiru, Kabupaten Semarang, yakni Muhammad Ali Munawar (52), Maghfiroh (43), Bagas Amar Hakiki (21), dan Alvino Evan Hakim (16).

Kapolres Temanggung, AKBP Zamrul Aini menjelaskan, keluarga tersebut datang ke Posong pada Selasa malam, 26 Mei 2026.

Sekitar pukul 21.40 WIB mereka tiba menggunakan mobil Honda Jazz putih dan kemudian diantar menuju Glamping Safari Nomor 3.

Petugas pengelola yang mengantar korban ke tenda juga memberikan welcome drink, makanan ringan, air minum, serta tungku tanah liat lengkap dengan briket arang.

Menurut Zamrul, pengelola sebenarnya telah memberikan peringatan kepada para tamu agar tungku tidak digunakan di dalam tenda karena berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran maupun gangguan pernapasan akibat gas hasil pembakaran.

"Petugas pengelola juga telah mengingatkan agar tungku tidak dinyalakan di dalam tenda karena berpotensi menyebabkan bahaya kebakaran dan gangguan pernafasan," ujarnya.

Keesokan harinya sekitar pukul 09.00 WIB, petugas datang mengantarkan sarapan. Namun tidak ada respons dari penghuni tenda yang saat itu masih tertutup rapat.

Petugas kembali melakukan pengecekan pada siang hingga sore hari karena korban belum juga melakukan check-out.

Hingga sekitar pukul 15.30 WIB, petugas akhirnya membuka resleting tenda setelah beberapa kali memanggil penghuni.

Di dalam tenda, empat korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

"Saat dilakukan pengecekan, tungku tanah liat ditemukan berada di dalam tenda dekat pintu masuk, sementara kompor portabel berada di luar tenda," ungkap Zamrul.

Dugaan Awal Sempat Mengarah ke Gas Portable dan Makanan

Sebelum hasil laboratorium keluar, polisi sempat mendalami dua kemungkinan utama penyebab kematian.

Hal itu diungkap oleh Dirreskrimum Polda Jateng, Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir.

Penyidik menyoroti kemungkinan paparan gas dari kompor portable yang digunakan saat barbeque maupun keracunan makanan.

Saat itu polisi menyita tabung gas portable, peralatan memasak, hingga berbagai bahan makanan untuk diperiksa di Laboratorium Forensik.

Satu korban termuda yang berusia 17 tahun dipilih sebagai fokus pemeriksaan toksikologi karena secara fisik dianggap paling kuat sehingga diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai penyebab kematian.

“Pada tahap awal kami mendalami kemungkinan keracunan makanan. 

Namun setelah dilakukan pemeriksaan terhadap makanan yang dibawa korban maupun sisa makanan di rumah korban yang dikonsumsi sebelum keberangkatan, tidak ditemukan zat beracun yang menjadi penyebab kematian,” kata Kombes Anwar.

Dia juga menegaskan penyidik tidak menemukan unsur kelalaian dari pihak pengelola wisata.

"Kami juga tidak menemukan adanya unsur kelalaian dari pihak pengelola karena prosedur keselamatan telah dijalankan.

Selain itu, petugas pengelola sudah memberi peringatan kepada korban untuk tidak menyalakan tungku di dalam tenda karena berbahaya," jelasnya.

Menutup konferensi pers, Kombes Artanto mengingatkan masyarakat agar menjadikan tragedi tersebut sebagai pelajaran penting.

"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua mengenai pentingnya mematuhi prosedur keselamatan saat menggunakan alat pembakaran di area perkemahan maupun ruang tertutup," pungkasnya. (rez)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.