TFCCA Dorong Ekowisata Berkelanjutan di Teluk Nusalasi Fakfak Papua Barat
Hans Arnold Kapisa June 16, 2026 01:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Tim Pelaksana Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) mendorong penuh pengembangan ekowisata berkelanjutan di Kawasan Teluk Nusalasi Van Den Bosch, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Ekowisata Bahari Berkelanjutan Berbasis Konservasi di Kawasan Pesisir Teluk Nusalasi Van Den Bosch melalui Pemberdayaan Masyarakat Lokal” pada Juni 2026.

“Fokus kegiatan ini berlangsung di dua kampung pesisir, yakni Kampung Maas dan Kampung Tarak, Distrik Karas, Kabupaten Fakfak,” ujar Perwakilan Tim TFCCA, Risma Niswati Tarman, kepada Tribunpapuabarat.com, Selasa (16/6/2026).

Risma menjelaskan, kegiatan ini melibatkan masyarakat adat, pemerintah kampung, tokoh pemuda, kelompok perempuan, nelayan, serta berbagai pemangku kepentingan lokal.

Baca juga: Indahnya Kampung Ekowisata Patimburak Fakfak, Menyusur Hutan Mangrove Hingga Lihat Cenderawasih Raja

Tujuannya membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya konservasi sumber daya pesisir dan laut sebagai fondasi pengembangan ekowisata berkelanjutan.

Menurutnya, program ini merupakan bagian dari upaya mendorong pemanfaatan potensi wisata bahari Teluk Nusalasi secara bertanggung jawab, dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang, mangrove, dan keanekaragaman hayati.

“Pengembangan ekowisata tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat setempat. Kami ingin memastikan masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan kawasan wisata,” tegasnya.

Dalam sesi FGD, peserta aktif memberikan masukan terkait potensi wisata yang dapat dikembangkan di Kampung Maas dan Kampung Tarak.

Beberapa di antaranya adalah wisata bahari, wisata mangrove, wisata edukasi konservasi, serta pengembangan produk ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.

Baca juga: Pariwisata Fakfak Menggeliat, Pengelola Tour and Travel Lihat Prospek Cerah

Selain itu, peserta juga membahas tantangan pengembangan sektor pariwisata, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana pendukung, kapasitas sumber daya manusia, promosi destinasi, hingga perlunya kelembagaan lokal yang kuat untuk mengelola kegiatan wisata secara profesional.

“Hasil dari kegiatan sosialisasi dan FGD ini akan menjadi dasar penyusunan model pengelolaan ekowisata bahari berkelanjutan yang sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat pesisir Teluk Nusalasi,” jelas Risma.

Model tersebut diharapkan menjadi contoh pengembangan pariwisata berbasis konservasi yang dapat diterapkan di wilayah pesisir lain di Papua Barat.

Masyarakat Kampung Maas dan Kampung Tarak menyambut baik kegiatan ini, dengan harapan program tidak hanya menghasilkan rekomendasi, tetapi juga menghadirkan pendampingan berkelanjutan agar potensi wisata dapat berkembang dan memberi dampak ekonomi.

“Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal, Program TFCCA diharapkan memperkuat upaya pelestarian ekosistem pesisir Teluk Nusalasi Van Den Bosch sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Adapun Tim TFCCA merupakan bagian dari Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Fakfak (Polinef).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.