SERAMBINEWS.COM - Sejumlah kapal tanker dan kapal kargo Iran dilaporkan berhasil melintasi kawasan yang oleh media Iran disebut sebagai garis blokade laut Amerika Serikat di Teluk Oman tanpa insiden, Senin (16/6/2026).
Penyiar pemerintah Iran, IRIB, melaporkan beberapa kapal Iran melanjutkan pelayaran mereka dengan aman setelah melewati kawasan tersebut.
Menurut laporan itu, sebuah kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar (very large crude carrier/VLCC) berlayar dari perairan internasional menuju pelabuhan di Iran usai transit di zona yang diklaim sebagai area blokade angkatan laut AS.
IRIB juga menyebutkan sebuah kapal kargo yang membawa pakan ternak telah melintasi kawasan tersebut dan tengah menuju Iran.
Baca juga: AS-Iran Sepakat Damai, Selat Hormuz Bakal Dibuka: Apakah Harga Minyak Dunia Bisa Langsung Normal?
Sementara itu, kapal tanker lain yang memuat minyak Iran dilaporkan tetap melanjutkan pelayaran ke tujuan ekspornya setelah melewati Teluk Oman.
Rangkaian laporan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional serta berlanjutnya perselisihan mengenai lalu lintas maritim di perairan sekitar Selat Hormuz dan Teluk Oman, jalur vital bagi perdagangan energi global.
Angin segar diplomasi berembus dari Timur Tengah. Sebanyak 17 negara menyambut nota kesepahaman yang diumumkan antara Amerika Serikat dan Iran, seraya menilai kesepakatan itu sebagai peluang penting untuk memulihkan stabilitas kawasan sekaligus menopang perekonomian global.
“Ini adalah momen peluang untuk memulihkan stabilitas regional dan menstabilkan perekonomian global,” demikian pernyataan bersama yang lebih dulu diteken Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, sebelum diikuti oleh 13 negara lainnya.
Para penandatangan menyampaikan apresiasi kepada Washington dan Teheran, serta para mediator, Pakistan dan Qatar, atas apa yang mereka sebut sebagai terobosan diplomatik. Mereka menegaskan, detail teknis perundingan harus segera dirampungkan dan kesepakatan dilaksanakan cepat, menyeluruh, dan dapat diverifikasi.
Sorotan utama pernyataan itu adalah desakan pembukaan kembali Selat Hormuz serta pemulihan kebebasan navigasi tanpa syarat dan tanpa pembatasan, jalur vital bagi perdagangan energi dunia.
Negara-negara lain yang turut menandatangani pernyataan bersama tersebut ialah Jepang, Kanada, Australia, Belgia, Bulgaria, Siprus, Republik Dominika, Estonia, Finlandia, Yunani, Latvia, Polandia, dan Portugal.
Selain dukungan politik, para pemimpin menyatakan kesiapan berkontribusi melalui misi defensif dan independen untuk menjamin keamanan pelayaran komersial serta operasi pembersihan ranjau laut, sesuai mandat konstitusional masing-masing negara.
Pernyataan itu juga menegaskan kembali sikap bersama bahwa Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir, serta membuka pintu kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional guna memastikan tujuan tersebut tercapai.
Seiring itu, mereka menyatakan kesiapan mencabut sanksi relevan apabila Iran mengambil langkah nyata dan terverifikasi terkait program nuklirnya.
Komitmen menjaga momentum diplomasi ditegaskan dengan janji bekerja sama dengan AS, Iran, dan mitra regional demi mencapai penyelesaian jangka panjang.
Pernyataan tersebut turut mengulang dukungan terhadap stabilitas, kedaulatan, dan integritas wilayah Lebanon, serta menekankan pentingnya gencatan senjata yang kokoh.
Ketegangan kawasan sendiri melonjak sejak akhir Februari, menyusul serangan udara AS dan Israel ke Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Teheran membalas dengan serangan ke negara-negara Teluk dan Israel, disertai pembatasan pelayaran di Selat Hormuz.
Melalui mediasi Pakistan, Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April, sebelum mengumumkan perjanjian kerangka untuk mengakhiri konflik.
Kesepakatan tersebut dijadwalkan ditandatangani resmi di Swiss pada 19 Juli, membuka babak baru harapan bagi stabilitas kawasan dan ekonomi dunia. (*)