TRIBUNTRENDS.COM - Kenaikan harga BBM, termasuk Pertamax yang kembali mengalami penyesuaian dalam beberapa waktu terakhir, membuat biaya hidup masyarakat semakin terasa berat.
Harga bahan pokok naik, ongkos distribusi meningkat, sementara pelaku usaha kuliner harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.
Di tengah situasi tersebut, sebuah warung sederhana di kawasan Lalung, Karanganyar, justru menjadi perbincangan karena menawarkan sesuatu yang kini terasa langka: soto daging sapi mulai Rp 2.000 per mangkuk.
Warung itu bernama Hik Soto Sewu, sebuah kuliner rakyat yang tetap eksis di tengah derasnya arus kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Bagi sebagian orang, harga Rp 2.000 mungkin terdengar mustahil untuk semangkuk soto daging sapi. Namun di warung ini, pelanggan masih bisa menikmati kuah soto hangat lengkap dengan potongan daging sapi tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
Baca juga: 5 Rekomendasi Soto Legendaris di Solo, Harga Sesuai Rasa, Ada yang Punya Sambal Hitam Khas
Nama Hik Soto Sewu sudah lama dikenal masyarakat sekitar. Dalam bahasa Jawa, "sewu" berarti seribu. Nama tersebut bukan tanpa alasan, sebab saat pertama kali berjualan, semangkuk soto memang hanya dibanderol Rp 1.000.
Namun perubahan zaman dan terus meningkatnya harga bahan baku membuat penyesuaian harga tak bisa dihindari.
Penjual Soto Sewu menjelaskan bahwa dahulu harga soto memang Rp 1.000. Namun karena berbagai kebutuhan dan bahan baku terus mengalami kenaikan, harga jual akhirnya ikut disesuaikan menjadi Rp 2.000 per porsi.
"Dulu harganya memang seribu, tapi karena apa-apa naik, jadi sekarang harga sotonya juga naik," jelas penjual Soto Sewu dikutip TribunTrends, Selasa, 16 Juni 2026.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelanggan tetap mendapatkan daging sapi dalam setiap mangkuk soto yang dijual Rp 2.000 tersebut. Bahkan menurutnya, porsi soto Rp 2.000 tetap berisi satu potong daging sapi.
Di saat banyak warung harus mengurangi porsi atau menaikkan harga secara signifikan, Soto Sewu masih berusaha mempertahankan ciri khasnya.
"Soto yang harganya Rp 2 ribu dagingnya satu," ucap penjual Soto Sewu.
Penjual menjelaskan bahwa perbedaan utama antara soto Rp 2.000 dan Rp 6.000 bukan terletak pada keberadaan daging sapi, melainkan ukuran porsinya.
Untuk soto Rp 2.000, pelanggan mendapatkan sajian dalam mangkuk kecil dengan satu potong daging sapi. Sementara soto Rp 6.000 disajikan menggunakan mangkuk yang lebih besar dengan porsi yang lebih banyak.
Inilah yang membuat banyak pelanggan tetap datang, terutama pelajar, pekerja harian, hingga masyarakat yang ingin menikmati kuliner hangat tanpa menguras isi dompet.
Baca juga: Di Karanganyar Masih Ada Mie Ayam Rp 6.000 Meski Harga Pertamax dan Kebutuhan Pokok Melejit
Berdasarkan daftar harga yang terpampang di warung, Soto Sewu menyediakan beberapa pilihan porsi soto yang bisa disesuaikan dengan selera dan anggaran pelanggan.
Menu Soto
Selain soto, tersedia pula berbagai menu pendamping seperti:
Tak hanya makanannya yang ramah di kantong, harga minuman di Soto Sewu juga tergolong sangat terjangkau.
Pilihan Minuman
Pilihan minuman tersebut semakin melengkapi pengalaman bersantap di warung yang mengusung konsep sederhana khas pedesaan Jawa.
Baca juga: Deretan 11 Warung Sate Kelinci Terpopuler di Tawangmangu Karanganyar yang Kelezatannya Bikin Nagih
Bangunan Soto Sewu jauh dari kesan mewah. Dinding bambu, meja panjang sederhana, serta suasana khas warung tradisional justru menghadirkan nuansa hangat yang sulit ditemukan di restoran modern.
Di tengah gempuran restoran cepat saji dan harga makanan yang terus merangkak naik, Soto Sewu menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar makanan murah.
Warung ini menghadirkan nostalgia, kesederhanaan, dan bukti nyata bahwa kuliner rakyat masih mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Ketika masyarakat harus menghadapi kenaikan BBM, meningkatnya biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik, keberadaan Soto Sewu menjadi kabar baik bagi banyak orang.
Semangkuk soto daging sapi seharga Rp 2.000 mungkin terlihat sederhana. Namun bagi pelajar yang membawa uang saku terbatas, pekerja harian yang harus berhemat, atau warga yang ingin menikmati makan siang tanpa menguras pengeluaran, harga tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.
Di sudut Lalung, Karanganyar, Soto Sewu seakan menjadi pengingat bahwa di tengah mahalnya biaya hidup, masih ada warung rakyat yang berusaha menjaga agar makanan hangat tetap bisa dinikmati semua kalangan.
Sebuah kisah sederhana yang membuat banyak orang percaya bahwa kuliner murah meriah belum sepenuhnya hilang dari Indonesia.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)