TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Euforia Piala Dunia 2026 tak hanya terasa di layar kaca, sport bar, atau lokasi nonton bareng di Bali.
Di sudut-sudut jalan Kota Denpasar, Bali, geliat pesta sepak bola terbesar dunia itu juga menjadi sumber penghidupan bagi pedagang musiman yang menggantungkan rezeki pada semangat para suporter.
Salah satunya Yudi Kusdiana (52), perantau asal Bandung yang setiap empat tahun sekali datang ke Pulau Dewata untuk menjual bendera negara peserta Piala Dunia.
Di sepanjang Jalan Teuku Umar, Denpasar, deretan bendera warna-warni tampak berkibar menarik perhatian pengendara.
Di balik lapak sederhana itu, Yudi menyimpan cerita tentang perjuangan, harapan, dan bagaimana sepak bola bisa menjadi jalan untuk menghidupi keluarga.
Baca juga: Serba Serbi Piala Dunia 2026, Kisah Pak Yudi Jualan Bendera Negara Peserta di Denpasar Bali
Menurut Yudi, antusiasme warga Denpasar terhadap Piala Dunia 2026 cukup tinggi.
Dari berbagai negara peserta yang ia jual, ada tiga bendera yang paling sering dicari pembeli.
"Daerah sini yang paling laris itu bendera Portugal, Brasil, sama Argentina," ujar Yudi saat ditemui Tribun Bali di lapak dagangannya, Selasa 16 Juni 2026.
"Sehari ya kalau ramai paling nyampai maksimal sepuluh bendera yang terjual, ada yang ukuran kecil dan besar," imbuhnya.
Fenomena tingginya penjualan bendera negara-negara unggulan menunjukkan semarak Piala Dunia 2026 di Bali bukan sekadar tontonan, tetapi juga sudah menjadi bagian dari budaya pendukung sepak bola yang ingin menunjukkan identitas dan dukungan kepada tim favorit mereka.
Menariknya, dari tiga negara terlaris tersebut, Argentina memiliki tempat khusus di hati Yudi.
Pria paruh baya itu mengaku sudah menjadi pendukung setia Albiceleste sejak era legenda sepak bola dunia Diego Maradona.
Baginya, kecintaan terhadap Argentina bukan tren sesaat yang muncul karena prestasi terbaru.
"Kalau saya mah dari dulu jagoin Argentina. Saya udah tahu dan suka sejak zamannya Maradona dulu," ucap Yudi.
Namun di balik semarak bendera yang berkibar, ada perjuangan hidup yang tidak ringan.
Yudi bercerita, dirinya dulu bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil PT Kahatex, Bandung. Namun sebuah kecelakaan lalu lintas mengubah jalan hidupnya.
Cedera yang ia alami membuatnya tidak lagi mampu menjalani pekerjaan lama dan akhirnya memilih menjadi pedagang musiman untuk tetap bisa menafkahi keluarga.
"Dulu sebelum kejadian tabrakan, saya kerja di PT Kahatex bagian tekstil. Habis kecelakaan itu, baru saya ikut teman terjun jualan bendera begini," kenangnya.
Setiap edisi Piala Dunia, Yudi datang ke Bali bersama rombongan dari Bandung.
Mereka membawa stok bendera dan menyewa tempat tinggal sementara selama turnamen berlangsung.
Harga bendera yang dijual bervariasi, mulai dari Rp70 ribu hingga Rp130 ribu tergantung ukuran.
Yudi mengaku kondisi tahun ini jauh lebih baik dibandingkan saat Piala Dunia 2022, ketika ekonomi masih terdampak sisa pandemi.
"Tahun 2022 kemarin mah hancur banget, buat makan sehari-hari di sini juga susah, kalau sekarang alhamdulillah lumayan, bisa ngirimin uang buat keluarga di kampung," jelasnya.
Hasil berjualan bendera itu bahkan membawa dampak besar bagi keluarganya.
Dari keuntungan yang dikumpulkan, Yudi berhasil membantu membiayai pendidikan anak keduanya yang kini kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung jurusan Sastra Rusia melalui jalur beasiswa.
Meski Piala Dunia 2026 nanti akan berakhir, perjalanan Yudi di Bali belum selesai.
Ia memilih tetap bertahan di Denpasar hingga Agustus demi menghemat ongkos pulang-pergi Bali–Bandung yang mencapai Rp500 ribu menggunakan bus.
Setelah euforia sepak bola mereda, lapaknya akan berganti wajah.
Bendera negara peserta Piala Dunia akan diturunkan dan diganti dengan merah putih untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia.
"Saya enggak bakalan pulang sampai Agustus, tanggung ongkosnya lumayan. Habis Piala Dunia ini, langsung lanjut jualan bendera untuk Agustusan di sini," pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangli memastikan siap ambil bagian dalam kemeriahan turnamen sepak bola terbesar di dunia melalui agenda nonton bareng (nobar).
Agenda nobar ini rencananya digelar di Alun-alun Bangli.
Meski demikian, jadwal pertandingan yang mayoritas berlangsung pada dini hari hingga pagi waktu Indonesia membuat pelaksanaan nobar tidak dilakukan untuk seluruh laga.
Kepada Tribun Bali, Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Artha, memastikan Pemkab Bangli telah menyiapkan skema khusus agar masyarakat tetap bisa menikmati atmosfer Piala Dunia 2026 secara bersama-sama.
“Pasti. Cuma karena pertandingan kebanyakan dini hari dan pagi, tidak semua pertandingan kita gelar nonton bareng. Kemungkinan nonton barengnya untuk pertandingan semifinal dan final,” ujar Sang Nyoman Sedana Artha kepada Tribun Bali dalam wawancara melalui sambungan telepon.
Rencana nobar tersebut diproyeksikan menjadi ruang berkumpul masyarakat sekaligus menghadirkan semarak Piala Dunia 2026 di Bangli.
Turnamen edisi kali ini memang menghadirkan tantangan tersendiri bagi penggemar sepak bola di Indonesia karena perbedaan zona waktu dengan tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Karena itu, laga-laga puncak seperti semifinal dan final dinilai menjadi momentum paling ideal untuk menghadirkan suasana kebersamaan masyarakat melalui layar besar di ruang publik.
(*)