Jangan Asal Pantang Makanan, Dokter Kulit Sarankan 'Journaling' untuk Temukan Pemicu Asli Jerawat
Willem Jonata June 16, 2026 04:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak orang langsung menghapus berbagai makanan dari menu harian ketika wajah mulai berjerawat.

Telur dihentikan, susu dihindari, bahkan ada yang berhenti makan makanan favorit karena takut jerawat semakin parah.

Padahal menurut Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika dari RS PKU Muhammadiyah Surakarta dr. Osdatilla Esa Putri, Sp. DVE, tidak semua makanan memberikan efek yang sama pada setiap orang.

Baca juga: Jerawat di Pipi Tanda Ada yang Kangen? Dokter Kulit Bongkar Fakta Sebenarnya

Karena itu masyarakat disarankan tidak buru-buru melakukan pantangan ekstrem.

Lebih lanjut, dr. Osdathila menyarankan masyarakat melakukan pencatatan sederhana atau journaling makanan.

Tujuannya untuk melihat apakah ada pola tertentu yang berulang. Misalnya jerawat selalu muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu.

"Kalau misalnya mencurigai acne ini karena makanan, kita bisa melakukan journaling dulu," katanya pada live streaming Beauty Health di kanal YouTube Tribun Health, Senin (15/6/2026).

Cara ini membantu seseorang memahami kondisi tubuhnya secara lebih objektif.

Jangan Langsung Menyalahkan Satu Jenis Makanan

Menurut dr Osdatilla, banyak orang langsung menyimpulkan bahwa satu jenis makanan pasti menjadi penyebab jerawat.

Padahal penyebab jerawat sangat kompleks.

Bisa dipengaruhi hormon, genetik, produksi minyak berlebih, stres, hingga kebiasaan merawat kulit.

Karena itu perlu dilihat apakah kemunculan jerawat benar-benar konsisten setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Catat, Amati, Lalu Evaluasi

Journaling dapat dilakukan dengan cara sederhana. Catat makanan yang dikonsumsi setiap hari, kemudian perhatikan kondisi kulit dalam beberapa hari berikutnya.

Jika terdapat pola yang berulang, informasi tersebut dapat menjadi bahan diskusi saat berkonsultasi dengan dokter kulit.

Dengan cara ini evaluasi menjadi lebih akurat. Pasien dan dokter dapat mencari faktor pemicu yang paling mungkin.

Menghilangkan terlalu banyak jenis makanan tanpa alasan yang jelas berisiko membuat pola makan menjadi tidak seimbang.

Padahal tubuh tetap membutuhkan berbagai nutrisi untuk menjaga kesehatan kulit.

Karena itu pendekatan yang lebih bijak adalah mencari bukti terlebih dahulu sebelum memutuskan melakukan pembatasan makanan.

Selain itu, dr Osdatilla mengatakan jika setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap makanan.

Apa yang memicu jerawat pada satu orang belum tentu menimbulkan efek yang sama pada orang lain.

Karena itu mengenali pola tubuh sendiri menjadi langkah penting.

Dengan bantuan pencatatan sederhana dan konsultasi medis yang tepat, masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan fakta, bukan sekadar dugaan atau mitos yang beredar di media sosial.

 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.