Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ahmad Faisol
TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN - Merawat warisan leluhur seperti ngumbah gaman (mencuci keris) pada Tahun Baru Islam 1 Muharram atau 1 Suro dalam penanggalan Jawa, memiliki makna budaya, filosofi, dan spiritualitas bagi sebagian masyarakat Bangkalan hingga saat ini.
Para pemilik pusaka mulai mendatangi rumah-rumah penjamas keris pada Malam 1 Muharram atau Minggu (15/6/2026).
Semerbak wangi khas pembakaran dupa menyeruak di sela kesibukan Syafik Bahri di Kampung Jaddih Pasar, Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura, Senin (16/6/2026) siang.
Sejak 2003, pria berusia 47 tahun itu tetap tekun menggeluti jasa ngumbah gaman atau penjamas keris.
"Membersihkan keris seperti ini menjadi simbol pembersihan diri sekaligus merawat logam pada benda-benda warisan para leluhur ketika menyambut Tahun Baru Islam," ungkap Syafik kepada TribunMadura.com.
Selama 23 tahun, bapak dengan tiga orang anak itu masih menjadi salah seorang penjamas yang dipercaya masyarakat maupun komunitas pelestari pusaka keris untuk membersihkan atau mengangkat karat kotoran dari pori-pori batang keris.
Syafik menjelaskan, pusaka-pusaka keris mulai diantar pemiliknya sejak beberapa hari sebelum Malam 1 Muharram atau H-1 perayaan Tahun Baru Islam.
Para pelanggannya berasal dari luar desa, beberapa kota di Jawa Timur, bahkan dari luar pulau seperti Kalimantan yang diantar melalui jasa pengiriman ekspedisi.
Baca juga: Grebek Tempe Wedok Meriahkan 1 Suro di Lumajang, 6.000 Tempe Diarak Keliling Desa
"Ada 200 sampai 300 buah keris dengan berbagai pamor, periode sakralnya yakni dari tanggal 1 hingga 10 Muharram. Kalau keris kecil biaya cuci bersihnya Rp50 ribu, ukuran besar Rp60 ribu. Alhamdulillah omzet puluhan juta rupiah setiap momen Suroan atau Muharram," jelasnya.
Untuk mendapatkan hasil ngumbah gaman yang bersih, Syafik harus memastikan terlebih dahulu ketebatalan kotoran karat yang menutup pori-pori setiap batang keris.
Perlakuan berbeda akan ditempuh ketika terlalu banyak kotoran karat yang menutup setiap galur pamor keris.
"Jika kotornya parah dan mengaburkan susur galur pamor, saya harus merendam terlebih dahulu selama tiga atau empat hari. Dengan harapan mampu mengangkat flek karat pada batang keris. Tapi kalau kotornya tidak parah, hanya butuh waktu 3 jam untuk keseluruhan proses," tuturnya.
Baca juga: Ikuti Tradisi Sakral 1 Suro di Kediri, Ratusan Warga Padati Pamuksan Sri Aji Jayabaya
Setelah pusaka-pusaka keris diangkat dari bak rendam, lanjutnya, proses pemutihan mulai dilakukan dengan kuas yang membilas keris dengan sabun bercampur perasan air jeruk.
Sebelum dikeringkan dengan kain untuk dijemur, proses pemutihan ditutup dengan bilasan siraman air kembang.
Pada akhir tahapan ini, batang-batang setiap keris berubah menjadi putih bersih dengan tampilan garis atau susur galur pamor yang sudah tidak tampak.
Setelah setiap keris sudah dalam kondisi kering, proses penutup dari ngumbah gaman adalah pewarangan.
Syafik memaparkan, tahapan paling sakral dan ditunggu adalah proses pewarangan.
Baca juga: Pawai Obor Sambut Malam Tahun Baru Islam di Bangkalan, Warga Bersholawat untuk Keselamatan Bangsa
Sebuah proses untuk menghidupkan kembali kecerahan susur galur pamor setelah direndam dalam air berbahan kimia arsenik.
"Kemudian keris dibilas lagi dengan air bersih untuk menghilangan kotoran halus dari air warangan. Setelah dibiarkan selama lima menit, proses kemudian ditutup dengan bilasan air kembang melati yang disediakan dalam bak terpisah," pungkas Syafik.