Mahasiswa Klaim Peserta Aksi Terluka Saat Bentrok dengan Polisi di Simpang Lima
Ricky Jenihansen June 16, 2026 02:40 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Bengkulu Mengingat menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Fatmawati, Simpang Lima, Kota Bengkulu, Senin (15/6/2026), yang diwarnai ketegangan antara massa aksi dan aparat kepolisian.

Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan terkait isu nasional dan daerah.

Namun, situasi memanas saat peserta aksi berupaya melakukan pembakaran ban sebagai bentuk simbolisasi protes.

Pembakaran ban itu sempat dicegah oleh pihak kepolisian.

Lantas, salah seorang mahasiswa membakar bajunya sebagai bentuk simbolisasi protes.

Sayangnya, aksi pembakaran itu diwarnai dorong-dorongan antara petugas kepolisian dan massa.

Tak sampai di situ, usai aksi dorong-dorongan tersebut mereda.

Salah seorang mahasiswa mencoba mengambil barrier yang ada di pinggir jalan untuk dibakar, hingga aksi kembali memanas.

Koordinator Aksi Aliansi Bengkulu Mengingat, Raditya, mengatakan aksi yang dilakukan merupakan bentuk ekspresi kekecewaan kelompok pemuda terhadap kondisi yang terjadi saat ini.

Menurutnya, massa membawa lima tuntutan utama, yakni menghentikan militerisme, penegakan hukum yang berkeadilan, penghentian Proyek Strategis Nasional (PSN), penolakan pembangunan batalion di Provinsi Bengkulu, serta penutupan KOPDES.

“Ini merupakan bentuk ekspresi kekecewaan kami sebagai kelompok pemuda terhadap kondisi negara saat ini,” kata Raditya dalam wawancara TribunBengkulu di Simpang 5 Kota Bengkulu, Senin (15/6/2026).

Raditya mengaku massa aksi sempat berupaya membakar ban sebagai simbol perlawanan.

Namun, upaya tersebut dicegah oleh aparat kepolisian.

Ia menilai tindakan aparat yang memadamkan api dan membubarkan simbolisasi aksi memicu ketegangan di lapangan.

“Kami merasa sudah bersikap kooperatif. Namun saat simbolisasi dilakukan, api dipadamkan dan terjadi gesekan. Bahkan ada kawan kami yang mengalami luka di bagian bibir akibat dugaan tindakan represif,” ujarnya.

Mahasiswa Klaim Ada Peserta Aksi Terluka

Senada dengan itu, Koordinator Aksi Aliansi Bengkulu Mengingat lainnya, Rhizky, mengatakan aksi tersebut bertujuan mengingatkan kembali semangat Reformasi 1998.

Menurut Rhizky, massa menuntut pemerintah menghentikan praktik militerisme di ruang sipil serta mengevaluasi sejumlah program strategis nasional.

“Kami membawa nama Aliansi Bengkulu Mengingat karena ingin mengingat kembali semangat reformasi tahun 1998. Kami juga meminta evaluasi terhadap sejumlah program strategis nasional,” kata Rhizky.

Ia menyebut kericuhan terjadi ketika massa hendak melakukan pembakaran ban sebagai bentuk simbolik penyampaian aspirasi.

Akibat insiden tersebut, Rhizky mengklaim beberapa peserta aksi mengalami dugaan pemukulan hingga luka fisik.

“Ada peserta aksi yang bibirnya berdarah. Kami juga menerima laporan adanya peserta yang mengalami tindakan kekerasan fisik saat terjadi kericuhan,” ujarnya.

Atas kejadian itu, Aliansi Bengkulu Mengingat menyatakan akan melakukan konsolidasi lanjutan dan mengawal berbagai tuntutan yang telah disampaikan dalam aksi tersebut.

Mereka berharap suara masyarakat dan mahasiswa tetap dapat disampaikan secara demokratis tanpa adanya tindakan kekerasan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.