Guru di Denpasar Apresiasi Kenaikan Tunjangan, Harap Ada Pengurangan Beban di Luar Mengajar
Aloisius H Manggol June 16, 2026 04:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Kebijakan baru pemerintah terkait kenaikan dan perbaikan skema pencairan TPG (Tunjangan Profesi Guru) disambut positif oleh kalangan pendidik di Denpasar, Bali. 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyebut  tunjangan guru non-ASN naik menjadi Rp2 juta per bulan dan guru ASN sebesar gaji pokok.

Tunjangan guru non-ASN naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta, guru ASN menerima tunjangan sebesar gaji pokok. 

Baca juga: Maling Gasak Kabel Tembaga Telkom di Karangasem, Berkamuflase Proyek Infrastruktur

Tak hanya nominal yang naik, ia juga menyebut ada skema baru yang memangkas birokrasi dengan mentransfer tunjangan langsung ke rekening guru setiap bulan dari pusat.

Merespons kebijakan tersebut, Desi Nurani Sari, seorang guru di SMPN 5 Denpasar, menilai kenaikan tunjangan ini sangat sah dan berdasar jika melihat realitas beban kerja guru saat ini. 

Baca juga: Gempa M 6,7 Guncang Sulawesi Tengah, BMKG Ungkap Pemicunya

Menurutnya, ekspektasi yang menganggap menjadi guru, terutama di sekolah negeri adalah pekerjaan yang santai, adalah keliru.


"Jauh ternyata, ketika mengajar di negeri, saya malah jadi guru yang jauh lebih sibuk. Banyak banget program-program turunan dari pemerintah pusat maupun daerah yang mesti dilakukan oleh sekolah," ujar Desi, Selasa, 16 Juni 2026.


Ia membeberkan bahwa tugas tambahan di luar mengajar dan mendidik menyita waktu yang sangat besar. 


"Tugas mereka ternyata tidak cuman mengajar saja. Di sekolah, guru kadang harus jadi LO, bahkan EO. Jadi macam-macamlah. Dengan beban kerja seperti itu, menurut saya kenaikan ini sangat sah," imbuhnya.


Desi juga mengapresiasi sistem pencairan baru. 


Berbeda dengan sistem lama yang sering macet dan dirapel per tiga bulan,.bahkan sering terlambat.


Kini dengan sistem transfer langsung tiap bulan membuat guru lebih tenang.


"Dulu kan kalau tidak salah tiga bulan sekali baru keluar, nunggunya lumayan dan kadang ngaret. Kita sering bertanya-tanya, mandeg di mana sebenarnya? Tapi sejak aturan baru pencairan langsung dari pusat ke rekening masing-masing, tiap bulan lancar banget. Sekarang sih aman saja," tambahnya.


Namun ia berharap ada pengurangan beban bagi guru di luar tugas mengajar.


Sehingga guru bisa lebih fokus untuk mengajar.


Sementara itu, Ni Putu Putri Adelia Savitri, seorang guru Bahasa Bali di SDN 26 Dangin Puri yang berstatus sebagai guru honorer, mengaku sangat bersyukur atas kebijakan ini. 


Baginya, penyesuaian tunjangan non-ASN menjadi Rp2 juta terasa sangat humanis.


"Tanggapan saya sebagai guru dan manusia biasa, sebenarnya senang sekali. Akhirnya negara memperhatikan dan mengerti nasib para guru di Indonesia," ungkap Putri Adelia.


Ia menilai keputusan Mendikdasmen Abdul Mu'ti yang menyentuh kedua lini status kepegawaian ini mencerminkan rasa keadilan yang selama ini dinanti-nantikan oleh para guru honorer di daerah.


"Kebijakannya untuk ASN dan Non-ASN sangat adil, jadinya tidak ada yang merasa dianaktirikan lagi," tegasnya.


Putri berharap momentum ini menjadi titik balik bagi peningkatan mutu pendidikan secara nasional. 


"Harapan saya, semoga kenaikan tunjangan ini jadi tanda kalau negara sudah mulai mengerti pentingnya pendidikan dan pentingnya seorang guru bagi generasi anak bangsa. Karena merekalah pahlawan tanpa tanda jasa yang paling nyata," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.