BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Di sebuah sudut Desa Sarang Mandi, Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, sebuah toko kelontong sederhana tampak tak pernah benar-benar sepi. Di bagian depan toko itu, sebuah spanduk besar bertuliskan "GITA BRILINK" tergantung mencolok.
Warga datang silih berganti, ada yang hendak menarik uang tunai, mentransfer dana, membayar tagihan listrik, hingga sekadar membeli pulsa.
Bagi sebagian orang kota, aktivitas semacam itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi masyarakat desa ini, kehadiran layanan tersebut menjadi denyut penting kehidupan sehari-hari. Sebab sebelum ada layanan itu, urusan transaksi keuangan bukan perkara sederhana.
Di balik meja layanan itu berdiri sosok perempuan muda bernama Gita Aprilia (28). Delapan tahun lalu, ia hanyalah seorang mahasiswa di Universitas Bangka Belitung yang sedang mencari peluang di tengah keterbatasan desanya. Tak pernah terbayang, keputusan kecil yang ia ambil pada 2018 justru mengubah arah hidup keluarganya.
"Dulu kalau mau transaksi keuangan, warga harus ke Pangkalpinang. Bisa satu sampai dua jam perjalanan," cerita Gita saat ditemui di gerainya, Selasa (16/6/2026).
Jarak yang jauh itu bukan sekadar persoalan waktu, tetapi juga biaya dan tenaga. Untuk menarik uang, mengirim transfer, atau sekadar menyelesaikan urusan administrasi keuangan, warga desa harus meninggalkan pekerjaan sehari penuh.
Kondisi itulah yang dibaca Gita sebagai peluang sekaligus kebutuhan.
Saat itu, ia bahkan masih tercatat sebagai mahasiswa. Dengan modal sekitar Rp10 juta, yang sebagian didukung bantuan permodalan dari BRI ia memberanikan diri menjadi Agen BRILink di kampung halamannya.
Awalnya, usaha itu jauh dari kata besar. Gita memulai layanan secara sederhana, bahkan ketika perangkat Agen BRILink belum sepenuhnya tersedia, ia masih membantu warga melakukan transfer melalui aplikasi BRImo. Di sela kesibukan kuliah, ia membuka jasa transfer di toko kecil keluarganya.
"Awalnya memang lihat kebutuhan masyarakat. Orang mau transfer susah, tarik tunai susah. Jadi saya pikir ini bisa membantu warga," katanya.
Keputusan itu perlahan mulai membuahkan hasil.
Tahun demi tahun, jumlah transaksi di gerainya terus meningkat. Kini, toko kelontong sekaligus konter pulsa miliknya berubah menjadi pusat layanan keuangan warga desa. Dalam sehari, transaksi bisa mencapai sekitar 60 kali, mulai dari transfer uang, setor tunai, tarik tunai, pembayaran BPJS, token listrik, top up dompet digital, hingga pembayaran lainnya.
Nilai transaksinya pun tidak kecil.
"Kadang transaksi sampai ratusan juta rupiah," ujarnya.
Keberadaan perusahaan-perusahaan sawit di sekitar Desa Sarang Mandi ikut menjadi faktor berkembangnya layanan tersebut. Banyak pekerja dari luar daerah memanfaatkan Agen BRILink milik Gita untuk mengirim uang ke keluarga, mengambil gaji, mencairkan dana, hingga melakukan berbagai transaksi harian.
Saat tanggal muda tiba, gerainya nyaris tanpa jeda.
Pegawai perusahaan sawit datang bergantian. Ada yang menarik uang, mengirim transfer, mengambil pembayaran pensiun maupun layanan keuangan lainnya. Suasana toko berubah lebih sibuk dari biasanya.
Untuk layanan transaksi, Gita menetapkan biaya administrasi yang terjangkau. Transaksi dompet digital nominal kecil dikenakan sekitar Rp5 ribu, sementara transaksi hingga Rp5 juta dikenakan biaya Rp20 ribu.
Namun lebih dari sekadar mencari keuntungan, kehadiran Agen BRILink itu telah menjadi simpul ekonomi baru di desa.
Warga tak lagi harus bepergian jauh ke kota hanya untuk mengurus transaksi keuangan. Mereka cukup datang ke toko Gita, sebuah tempat yang perlahan menjelma menjadi mini ATM bagi masyarakat desa.
Di wilayah yang akses layanan keuangannya terbatas, kehadiran Agen BRILink bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan mendasar yang mempermudah kehidupan warga.
"Kalau tidak ada ini, masyarakat masih harus keluar desa untuk transaksi," katanya.
Di balik kesuksesan itu, ada perjalanan hidup yang tak mudah.
Gita mengaku keluarganya dulu hanya memiliki toko kelontong biasa. Saat ia kuliah, kondisi ekonomi keluarga masih sederhana. Pekerjaan orang tua serabutan, sementara kehidupan berjalan apa adanya.
Namun perlahan keadaan berubah sejak ia menjadi mitra Agen BRILink.
Modal usaha yang awalnya Rp10 juta berkembang cepat. Ketika dana transaksi semakin besar, dukungan permodalan dari BRI terus bertambah.
"Belum habis Rp10 juta, ditambah lagi. Naik jadi Rp50 juta. Belum habis lagi, langsung dikasih modal Rp200 juta waktu itu," ujarnya mengenang.
Perubahan itu terasa nyata dalam kehidupan keluarganya.
Rumah keluarga direnovasi. Ia mampu membangun rumah baru untuk keluarga kecilnya. Kendaraan pribadi mulai dimiliki. Dari mahasiswa yang dulu sekadar mencoba peluang usaha sambil kuliah, Gita kini tumbuh menjadi pelaku usaha yang mapan di desanya.
Bahkan, ijazah sarjana yang ia raih dari Universitas Bangka Belitung pada 2020 nyaris tak pernah digunakan untuk melamar pekerjaan.
Ia merasa menemukan jalannya sendiri.
"Saya nyaman jadi pengusaha, alhamdulillah semua itu berkat menjadi agen BRILink," katanya singkat sambil tersenyum.
Di tengah geliat ekonomi desa, kisah Gita menunjukkan bagaimana akses keuangan mampu menghadirkan perubahan yang nyata. Bahwa sebuah layanan sederhana di desa bisa menjadi penghubung masyarakat terhadap sistem keuangan yang lebih luas dan pada saat yang sama, mengubah nasib sebuah keluarga.
Di Desa Sarang Mandi, spanduk bertuliskan "GITA BRILINK" itu bukan hanya nama usaha. Bagi banyak warga, tempat itu adalah jawaban atas kebutuhan yang dulu terasa jauh dan sulit dijangkau.
Sementara itu, Petugas Penunjang Bisnis Keagenan (PPBK) BRI Kantor Cabang Pangkalpinang, Turino, mengatakan Agen BRILink hadir untuk mendekatkan akses layanan keuangan kepada masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan fasilitas perbankan.
Menurutnya, masyarakat kini dapat melakukan berbagai transaksi keuangan dengan lebih mudah melalui agen terdekat, mulai dari setor tunai, tarik tunai, transfer uang, pembayaran listrik, BPJS, hingga pembelian pulsa.
"Ini memang untuk mempermudah masyarakat. Mereka tidak perlu lagi datang ke unit atau ke ATM yang jaraknya jauh. Cukup ke agen terdekat sudah bisa melakukan transaksi keuangan," kata Turino.
Ia menjelaskan, jarak tempuh menuju fasilitas perbankan formal di sejumlah wilayah, termasuk desa-desa yang jauh dari pusat kota, sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.
Karena itu, keberadaan Agen BRILink dinilai mampu menjadi solusi nyata yang tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga membantu masyarakat menghemat waktu dan biaya transportasi.
Warga yang sebelumnya harus menempuh perjalanan berjam-jam ke kota, kini cukup mendatangi agen terdekat di desa mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan layanan perbankan.
Turino menambahkan, jaringan Agen BRILink yang terus berkembang di berbagai wilayah pedesaan telah banyak membantu masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan secara lebih praktis dan cepat.
"Harapannya, agen BRILink bisa terus membantu masyarakat dalam akses layanan keuangan, sekaligus mendukung pelayanan BRI kepada nasabah secara lebih dekat," ujarnya.
Di Desa Sarang Mandi, harapan itu setidaknya telah terlihat nyata.
Melalui tangan seorang perempuan muda yang memulai usaha saat masih berstatus mahasiswa, layanan keuangan kini hadir lebih dekat dengan masyarakat.
Dari sebuah toko kelontong sederhana di desa, Gita tak hanya membangun usaha, tetapi juga membuka akses yang dulu terasa jauh bagi warga sekitar, sembari perlahan mengubah nasib keluarganya sendiri. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)