Hajat Laut Pangandaran Bukan Sekadar Tradisi Tapi Syukur Cinta Laut dan Evaluasi Nelayan
ferri amiril June 16, 2026 04:35 PM

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna


TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Tradisi Hajat Laut kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat nelayan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat pada pergantian tahun baru Islam. 

Bagi Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, Hajat Laut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang syukur, pelestarian budaya, dan refleksi kehidupan masyarakat pesisir.

Jeje menyebut, hajat laut sudah menjadi agenda tahunan yang melekat dalam kehidupan nelayan Pangandaran.

Selain itu, hajat laut secara turun-temurun dilaksanakan menjelang akhir tahun Hijriah hingga memasuki awal bulan Muharram.

"Biasanya dilaksanakan di akhir tahun Hijriah dan awal Muharram. Saya selalu berpikir, apa yang dilakukan ini pada dasarnya adalah bentuk syukuran," ujar Jeje kepada sejumlah wartawan di pantai timur Pangandaran, Selasa (16/6/2026) siang.

Baca juga: Hajat Laut Pangandaran, Ribuan Orang Saksikan Pejabat Tabur Bunga di Pantai

Menurutnya, pelaksanaan Hajat Laut pada awal tahun 1448 Hijriah dipilih sebagai simbol membuka tahun baru dengan harapan dan nilai yang lebih baik bagi kehidupan nelayan.

Tentu, tradisi itu sudah hidup jauh sebelum dirinya terlibat dalam pemerintahan. Ia mengaku mengenal hajat laut sejak kecil dan melihat langsung bagaimana tradisi itu diwariskan lintas generasi.

"Hajat Laut ini terus berkembang sejak saya kecil, sejak kakek saya masih ada. Tentu tradisi ini akan selalu dirawat sepanjang tidak bertentangan dengan agama dan nilai leluhur kita," katanya.

Selain itu, hajat laut di Pangandaran tidak hanya berisi prosesi melarung atau kegiatan di laut, tapi juga mengandung unsur kebersamaan dan penguatan identitas budaya lokal.

Dalam rangkaian kegiatan terdapat tradisi cucurak atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan masyarakat. 

Kemudian jug digelar tari kolosal yang menggambarkan sejarah awal Pangandaran melalui simbolisasi tokoh Rengganis.

Jeje menyebut narasi budaya itu berkaitan dengan cerita kerajaan Galuh Pananjung yang dikenal dalam cerita rakyat sebagai tempat lahirnya Dewi Rengganis serta berkembangnya kesenian ronggeng gunung.

Ia menegaskan, terdapat tiga pilar utama yang menjadi makna pelaksanaan hajat laut di Kabupaten Pangandaran.

Pertama, istigosah dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur serta permohonan keselamatan bagi nelayan. 

Kedua, prosesi tabur bunga dan pelepasan air doa ke tengah laut. Ketiga, evaluasi kehidupan dan aktivitas nelayan sebagai bagian dari refleksi tahunan.

Untuk prosesi tabur bunga bukan dimaknai sebagai ritual mistis, melainkan simbol penghormatan dan rasa cinta terhadap laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir.

"Kenapa tabur bunga? Karena bunga itu tanda cinta, cinta laut dan sayang laut," ucap Jeje.

Sementara air doa yang dilepaskan ke laut dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada para nelayan yang hilang atau meninggal saat melaut dan tidak ditemukan.

"Air doa itu salah satu bentuk penghormatan dan ziarah kepada teman-teman nelayan yang hilang atau meninggal dunia di laut," ujarnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.