Peringatan 1 Suro di Selat Bali, Pentas Gandrung Seblang Subuh Ditampilkan di Atas Kapal Ferry
Eko Darmoko June 16, 2026 05:35 PM

SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Peringatan 1 Suro yang jatuh pada Selasa (16/6/2026), diwarnai dengan pertunjukan tari Gandrung di atas kapal ferry lintasan Ketapang-Gilimanuk, Selat Bali, Banyuwangi.

Dua penari gandrung diiringi alunan musik tradisional yang dibawakan oleh panjak, tampil sejak Subuh hingga pagi hari.

Dua penari gandrung yang tampil adalah Lina asal Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro dan Sunasih asal Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri.

Mereka sejatinya penari gandrung profesional yang kerap tampil dalam pagelaran gandrung terop.

Di atas dek kendaraan KMP Dharma Rucita yang disulap menjadi panggung pagelaran, Lina dan Sunasih menampilkan pentas Seblang Subuh.

Berpentas di area tertutup, angin kencang Selat Bali tak memberi dingin pada tubuh para penari.

Seblang Subuh merupakan salah satu fragmen dalam pertunjukan Gandrung Terop.

Dalam pakem Gandrung Terop, seblang subuh perupakan pertunjukan penutupan yang ditampilkan menjelang subuh.

Baca juga: Raline Shah Kagumi Tata Kelola Pemkab Banyuwangi, Diskusi dengan Bupati Ipuk Tentang Digitalisasi

Dalam seblang subuh, gandrung menari dengan gerakan perlahan, mengikuti alunan musik tradisional yang mengiringi.

Selain menari, para gandrung juga menembang gending-gending berbahasa Osing.

Umumnya tembang-tembang yang dibawakan bernuansa melankolis seperti Ukir Kawin.

"Secara filosofi, dalam penampilan seblang subuh, para penari gandrung memohon maaf dan ampunan kepada Yang Maha Agung, Tuhan Yang Maha Kuasa," kata pelaku kesenian yang sekaligus pengide pertunjukan, Subari Sofyan.

Pertunjukan gandrung seblang subuh di atas kapal digelar sebagai rangkaian dari Sedekah Segoro warga Desa Ketapang.

Karenanya, kapal yang digunakan sebagai pentas seblang merupakan angkutan yang sedang tak dipakai untuk membawa penumpang.

Pertunjukan itu hanya disaksikan oleh sekitar 50-an orang yang merupakan warga setempat dan stakeholder penyebrangan.

Selagi para penari gandrung tampil, kapal ferry berlayar mengitari Selat Bali.

Dari Pelabuhan Ketapang, kapal bertolak menuju perairan sekitar Pantai Marina Boom, Watudodol, dan kembali ke pelabuhan.

Di saat bersamaan, beberapa orang menebar bunga sebagai pelengkap ritual.

Pertunjukan gandrung dan ritual tabur bunga, kata Subari, digelar untuk memohon keselamatan.

"Khususnya keselamatan seluruh masyarakat yang melakukan perjalanan melalui jalur penyebrangan Banyuwangi–Bali maupun Bali–Banyuwangi."

"Itulah tujuan utama yang ingin kami lakukan melalui ritual ini," ucap pria yang juga merupakan pelatih tari itu.

Pertunjukan gandrung di atas kapal, menurut Kepala Desa Ketapang Slamet Utomo, merupakan yang pertama di Selat Bali. Selain sebagai ritus, tari gandrung seblang subuh digelar untuk menjaga kearifan lokal.

"Menurut kami, sangat tidak bijak apabila berbagai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur ditinggalkan begitu saja."

"Karena itu kegiatan ini kami kemas dengan melibatkan berbagai unsur pelaku seni," kata Slamet.

Slamet berharap, kejadian buruk di Selat Bali tak kembali terulang pada waktu-waktu mendatang.

Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada awal Juli tahun lalu, yang memakan puluhan korban meninggal dan hilang, tak terulang.

"Di dalam Sedekah Segoro ini terdapat beberapa rangkaian acara, di antaranya Gandrung Seblang Subuh seperti yang dilaksanakan saat ini, kemudian mocoan Lontar Yusuf, serta berbagai kegiatan budaya lainnya," ujarnya.

Kepala SKOP Tanjung Wangi Purgana menambahkan, pihaknya akan memfasilitasi apabila pertunjukan serupa digelar pada tahun-tahun mendatang.

Ia berharap, pagelaran gandrung di kapal bukan hanya menjadi ritual, tapi juga pertunjukan yang bisa dinikmati oleh penumpang.

"Mudah-mudahan nanti bisa dikemas untuk menjadi sajian wisata," kata Purgana.

Baca juga: 5 Ide Wisata Edukasi di Malang-Batu untuk Libur Sekolah: Budidaya Jamur hingga Main dengan Satwa

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.