TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (16/6/2026).
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp 17.725 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.708 per dolar AS.
Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih berpeluang menguat di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Baca juga: Rupiah Melemah, Pakar Ingatkan Dampak Kenaikan Harga Obat, Pasien Penyakit Kronis Paling Rentan
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 19 point sebelumnya sempat menguat 5 point di level Rp.17.725 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.708," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp. 17.690- Rp.17.728," sambungnya.
Dari faktor eksternal, pelemahan dolar AS terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang selama ini memicu ketidakpastian di pasar global.
Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dunia.
Kabar tersebut mendorong harga minyak dunia turun dan meningkatkan optimisme investor terhadap kondisi ekonomi global.
Harga minyak mentah Brent bahkan turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Kondisi ini dinilai dapat membantu meredakan tekanan inflasi di berbagai negara.
Selain perkembangan geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada keputusan sejumlah bank sentral dunia, termasuk Bank Sentral Jepang (BOJ), Bank Sentral Australia, Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, dan Bank of England.
"Pasar akan mengamati dengan cermat komentar dari Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa mendatang. Data inflasi dan kekhawatiran yang masih ada tentang tekanan harga telah menyebabkan investor mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini," tegas Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, pasar masih mencermati rencana pemerintah AS yang akan mengenakan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk asal Indonesia.
Kebijakan tersebut berpotensi menekan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS, terutama produk manufaktur seperti mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian, serta berbagai aksesori.
Tarif tambahan itu direncanakan mulai berlaku secara bertahap pada Juli 2026.
Pemerintah Indonesia saat ini terus melakukan upaya diplomasi dan negosiasi untuk meminimalkan dampaknya terhadap ekspor nasional.
Pasar AS sendiri merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia. Pada periode Januari–Juni 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai sekitar US$14,79 miliar atau 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional.
"Bagi Indonesia, pasar AS memiliki arti penting. AS merupakan pasar nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia. Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada Januari–Juni 2025 mencapai 14,79 miliar dolar AS atau sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Produk yang diekspor juga didominasi sektor manufaktur, seperti mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian, serta aksesori," ungkap Ibrahim.