SURYA.CO.ID BANGKALAN – Tradisi Ngumbah Gaman atau penjamasan keris kembali menghidupkan suasana Tahun Baru Islam 1 Muharram di Kabupaten Bangkalan, Madura.
Ritual yang diwariskan turun-temurun ini tidak sekadar merawat pusaka, tetapi juga dimaknai sebagai simbol pembersihan diri dan penghormatan terhadap leluhur.
Di tengah aroma dupa yang menyelimuti ruang kerja sederhana di Kampung Jaddih Pasar, Desa Jaddih, Kecamatan Socah, tampak kesibukan Syafik Bahri (47) yang telah lebih dari dua dekade setia melayani jasa penjamasan keris.
Sejak 2003, ia menjadi salah satu penjaga tradisi yang dipercaya masyarakat untuk merawat ratusan pusaka setiap momentum Suro atau Muharram.
“Membersihkan keris seperti ini menjadi simbol pembersihan diri sekaligus merawat logam pada benda-benda warisan para leluhur ketika menyambut Tahun Baru Islam," ungkap Syafik kepada SURYA.CO.ID.
Baca juga: Grebeg Suro Ponorogo 2026: Ini Alasan Warga Berebut Buceng Purak dan Air Jamasan
Tradisi ini biasanya mulai ramai sejak malam 1 Muharram, di mana para pemilik pusaka mendatangi penjamas atau mengirimkan keris dari berbagai daerah, bahkan luar pulau.
Dalam periode sakral yang berlangsung sekitar 1–10 Muharram, Syafik menangani sekitar 200 hingga 300 keris dengan berbagai jenis pamor dan ukuran.
“Ada 200 sampai 300 buah keris dengan berbagai pamor, periode sakralnya yakni dari tanggal 1 hingga 10 Muharram. Kalau keris kecil biaya cuci bersihnya Rp 50 ribu, ukuran besar Rp 60 ribu. Alhamdulillah omset puluhan juta setiap momen Suroan atau Muharram,” jelasnya.
Setiap keris yang datang tidak langsung dibersihkan begitu saja. Syafik terlebih dahulu menilai kondisi pusaka, terutama tingkat karat yang menutupi permukaan dan detail pamor pada bilah keris.
Jika kondisi keris cukup parah, proses perendaman dilakukan selama tiga hingga empat hari untuk mengangkat karat yang menempel kuat. Namun jika tidak terlalu kotor, proses pembersihan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga jam.
Baca juga: Amalan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H: Doa dan Ibadah yang Dianjurkan
"Jika kotornya parah dan mengaburkan susur galur pamor, saya harus merendam terlebih dahulu selama tiga atau empat hari. Dengan harapan mampu mengangkat flek karat pada batang keris. Tapi kalau kotornya tidak parah, hanya butuh waktu 3 jam untuk keseluruhan proses," tuturnya.
Setelah perendaman, keris dibersihkan menggunakan kuas dengan campuran sabun dan perasan jeruk untuk proses pemutihan, sebelum kemudian dibilas air kembang sebagai simbol penyucian. Pada tahap ini, bilah keris tampak lebih bersih dengan garis pamor yang sementara tidak terlihat akibat proses perawatan.
Tahapan berlanjut pada proses pengeringan hingga akhirnya memasuki bagian paling sakral, yakni pewarangan. Proses ini dilakukan untuk menghidupkan kembali kilau dan karakter pamor keris setelah melalui perendaman bahan khusus berbasis arsenik.
Pewarangan menjadi puncak dari seluruh rangkaian Ngumbah Gaman yang dianggap paling penting oleh para penjamas maupun pemilik pusaka. Setelah proses tersebut, keris kembali dibilas untuk menghilangkan sisa bahan kimia, lalu ditutup dengan air kembang melati sebagai penanda akhir ritual.
"Kemudian keris dibilas lagi dengan air bersih untuk menghilangan kotoran halus dari air warangan. Setelah dibiarkan selama lima menit, proses kemudian ditutup dengan bilasan air kembang melati yang disediakan dalam bak terpisah," pungkas Syafik.
Tradisi ini terus bertahan di tengah arus modernisasi, menjadi bukti bahwa warisan budaya Jawa Timur masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam momentum sakral Tahun Baru Islam.