Pengakuan Mengejutkan Suami Nekat Tikam Istri, "Saya Kalap Dia Minta Cerai"
Noval Andriansyah June 16, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Makassar - Di dalam ruang interogasi yang dingin, S alias A (23) hanya bisa tertunduk lesu. Sorot matanya kosong, meratapi dinding ruangan yang seolah menghakimi perbuatan kejinya.

Baca juga: Emosi Ditagih Uang Kencan, Pria Tikam Dedek Ayu lalu Kabur Hanya Pakai Celana Pendek

Pria muda ini baru saja melakukan tindakan yang menghancurkan masa depan keluarga kecilnya, merenggut nyawa ANA (24), wanita yang pernah berjanji sehidup semati dengannya.

Selingkar penyesalan kini tak lagi berarti bagi S. Ia telah mengakui seluruh perbuatannya di hadapan penyidik Tim Resmob Polda Sulsel.

Di balik jeruji besi, ia menceritakan motif emosional yang membuatnya gelap mata hingga tega mengayunkan sebilah badik ke leher sang istri di kamar kos mereka, Jalan Mannuruki 6, Kecamatan Tamalate, Makassar, Minggu (14/6/2026) malam.

Hancurnya Harga Diri Seorang Suami

Bagi S, malam berdarah itu adalah puncak dari tumpukan konflik rumah tangga yang tak kunjung usai. Sebagai seorang kepala keluarga, harga diri S runtuh ketika sang istri melontarkan kalimat yang paling ditakutinya, permintaan untuk berpisah.

Kalimat sakral itu keluar dari bibir ANA bukan tanpa alasan. Faktor impitan ekonomi yang kian menjepit di tengah status S yang tidak memiliki pekerjaan tetap, ditambah perangai S yang kerap kasar, membuat korban tidak lagi melihat masa depan bersama suaminya.

"Pelaku menerangkan bahwa ia mengakui perbuatannya. Pelaku melakukan pembunuhan ini dikarenakan korban ingin pisah (cerai) dengan alasan pelaku tidak ada pekerjaan tetap dan sering berbicara kotor kepada korban," ungkap Kanit Resmob Polda Sulsel, AKP Wawan Suryadinata, menirukan pengakuan lirih pelaku, Senin (15/6/2026), dilansir Tribun-Timur.com.

Kata-kata korban hari itu bagaikan hantaman keras yang menyulut amarah S yang selama ini terpendam. Merasa tak lagi dihargai sebagai suami, emosi S seketika memuncak dan menutup akal sehatnya.

Detik-Detik Mencekam dan Alibi yang Runtuh

Saat korban tengah duduk di dalam kamar, S yang sudah dikuasai amarah langsung menghunjamkan senjata tajam jenis badik tepat ke arah leher istrinya. Dalam sekejap, ANA terkapar tak sadarkan diri di lantai dalam kondisi bersimbah darah.

Melihat belahan jiwanya tak lagi bergerak, ketakutan mulai merayapi hati S. Dalam kepanikan, ia sempat membalikkan posisi tubuh istrinya menjadi tengkurap, lalu melarikan diri ke rumah kerabatnya di kawasan Jalan Sultan Alauddin.

Bahkan, demi menyelamatkan diri dari jerat hukum, S sempat melukai tubuhnya sendiri demi menciptakan alibi palsu seolah-olah ia diserang oleh korban. Namun, trik itu dengan mudah dipatahkan oleh penyidik.

Meninggalkan Anak yang Masih Bayi

Tragedi ini menorehkan luka yang sangat dalam bagi warga sekitar. Ketua RT setempat, M Muzakar (58), mengungkapkan bahwa pasangan muda ini sebenarnya baru belum genap satu tahun tinggal di rumah kontrakan panggung tersebut.

Tragisnya lagi, pernikahan yang berakhir dengan pertumpahan darah ini telah dikaruniai seorang anak yang masih bayi.

Tetangga sekitar bahkan tidak pernah mendengar adanya keributan besar dari kamar mereka, hingga akhirnya korban ditemukan tewas mengenaskan oleh warga yang geger.

Kini, nasi telah menjadi bubur. S hanya bisa meratapi nasibnya di balik jeruji besi.

Alih-alih mendapatkan solusi atas masalah rumah tangganya, ego dan emosi sesaat justru membawa S ke dalam kehancuran mendalam, kehilangan istri untuk selamanya.

Tak hanya itu, S juga membuat anaknya tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, dan bersiap menghadapi ancaman hukuman penjara yang sangat lama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.