Ketika Botol Kosong Pendemo Menjadi 'Penyambung Nyawa' Bagi Keluarga Ahmad
Noval Andriansyah June 16, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Pekikan takbir dan tuntutan keadilan menggema membelah langit Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026). Di atas mobil komando, para aktivis mahasiswa dan buruh bergantian membakar semangat massa, menuntut penurunan harga bahan pokok dan BBM.

Baca juga: Muncul Seruan Demo Reformasi Jilid II, Kepala BIN: Terpenting Jaga Persatuan

Namun, beberapa meter di belakang barisan yang riuh itu, Ahmad (47) sedang sibuk merajut takdirnya sendiri. Ia tidak sedang berdemo, melainkan sedang bertaruh peluh demi menyambung hidup.

Dengan karung biru kumuh yang bertengger di pundak kiri serta sebatang besi panjang berujung kait huruf L di tangan, pria paruh baya ini jeli menyisir aspal.

Baginya, setiap botol plastik kosong yang dicampakkan begitu saja oleh para pendemo adalah penyambung napas bagi keluarganya di rumah.

"Saya enggak ngerti-ngerti banget soal demo. Mending saya mulung aja. Lumayan buat dijual lagi botolnya," tutur Ahmad dengan suara parau, Senin (15/6/2026), dilansir Tribunnews.com.

Berkejaran dengan Lelah dan Teguran Petugas

Langkah kaki Ahmad hari itu tidaklah mudah. Di bawah sengatan terik matahari ibu kota, keringatnya mengucur deras membasahi baju lusuhnya.

Tak hanya harus berdamai dengan rasa lelah, Ahmad juga harus menebalkan muka dan menahan rasa takut saat berpapasan dengan barisan petugas Satpol PP yang berjaga ketat di sekitar area sterilisasi aksi.

Beberapa kali bentakan dan teguran dari petugas memaksanya untuk memutar arah dan menjauh. Jika sudah begitu, Ahmad akan berjalan menjauh seolah menyerah, lalu kembali mengendap-endap beberapa jam kemudian saat situasi dinilai aman.

Semua itu ia lakukan hanya demi satu tujuan, memastikan dapur rumahnya tetap ngebul esok hari.

Bagi Ahmad, demonstrasi besar yang melumpuhkan jalanan ibu kota justru sering kali berwujud "berkah" musiman. Ia mengenang aksi serupa yang terjadi pada Jumat (12/6/2026), di mana ia sukses memanen hingga 40 kilogram botol plastik bekas.

Beban seberat itu tidak bisa ia bawa sekaligus. Dengan fisik yang tak lagi muda, Ahmad harus berjalan kaki bolak-balik hingga empat kali menuju lapak pengepul tersembunyi di balik megahnya gedung-gedung bertingkat kawasan MH Thamrin.

"Kayak kemarin tuh, Alhamdulillah dapat Rp200 ribu hari itu doang. Biasanya kalau hari biasa mah sehari semalam cuma dapat Rp50 ribu," ucapnya, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya yang kering.

Ironi di Balik Riuh Tuntutan Rakyat

Hari itu, Aliansi Persatuan Rakyat Indonesia Anti Imperialis, gabungan elemen taktis mulai dari FMN, GMNI, hingga BEM UBK, berkumpul di kawasan Bundaran HI untuk menyuarakan 11 tuntutan mendesak.

Mereka menolak kenaikan harga BBM, meroketnya harga bahan pokok, hingga menuntut transparansi badan keuangan negara.

Tuntutan para mahasiswa itu sebenarnya adalah jeritan hati Ahmad juga. Sebagai rakyat kecil, ia tak menampik bahwa kepalanya kerap pusing memikirkan harga sembako yang terus mencekik leher.

Namun, alih-alih ikut berteriak memegang spanduk, Ahmad memilih realistis dan membumikan perjuangannya lewat kerja nyata.

"Ya ngeluh-ngeluh juga sih (soal harga naik). Cuma mau gimana lagi, usaha aja yang penting dapat uang," kata Ahmad lirih, seraya kembali membungkuk meraih sebuah botol kosong.

Di tengah kepulan asap kendaraan dan riuhnya peluit demonstran, sosok Ahmad berdiri sebagai pengingat nyata.

Bahwa di balik narasi-narasi besar tentang perubahan bangsa yang disuarakan dari atas mimbar, ada jutaan perut rakyat kecil yang harus segera diisi hari ini juga, tanpa bisa menunggu perubahan itu datang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.