TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fenomena kebakaran berulang, yang terjadi di rumah Agusyani Mujiyanto, Dusun Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman memasuki babak baru.
Tim peneliti telah mengeluarkan kesimpulan akhir yang menyatakan fenomena tersebut bukan karena faktor alam. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman Sleman pun telah menyerahkan proses penyelidikannya ke Satreskrim Polresta Sleman.
Menanggapi itu, pihak keluarga Agusyani menyatakan dukungan dan sangat terbuka jika aparat kepolisian turun tangan untuk melakukan penyelidikan. Tujuannya agar fakta yang sesungguhnya terjadi dapat terungkap.
Putri Agusyani, Mutfiana mengatakan, keluarganya menyambut baik hal tersebut. Pihaknya mengaku tidak akan menghalangi proses penyelidikan yang dilakukan polisi untuk mencari fakta.
Justru keluarganya membuka pintu selebar-lebarnya demi membuat kasus yang membuat keluarganya kelelahan berjaga ini menjadi terang benderang.
Sejauh ini sudah banyak pihak yang datang berusaha membantu mengungkap penyebab teror api misterius ini, namun belum membuahkan hasil penyebabnya. Kini ketika polisi hendak menyelidiki, ia mengaku sangat terbantu.
"Keluarga sangat terbuka sekali dengan adanya pihak kepolisian yang mau datang dan (menyelidiki) mengecek ulang apa yang terjadi," kata perempuan yang disapa Fia ini, ditemui Selasa (16/6/2026).
Ia bahkan mempersilakan pihak kepolisian jika ingin melakukan prosedur pemeriksaan lebih lanjut terhadap anggota keluarga maupun penggeledahan di area rumahnya.
"Keluarga dipanggil atau digeledah? Monggo. Aku tidak apa-apa, kami tidak menutupi. Malah silakan, justru kami membuka pintu agar semuanya sekalian terang," imbuhnya.
Kebakaran berulang, berupa letupan kecil dan besar yang terjadi secara acak di rumah Agusyani, memang menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana peristiwa semacam itu bisa terjadi.
Banyak asumsi dan dugaan yang muncul, termasuk dugaan soal kemungkinan api yang sengaja diciptakan.
Fia secara tegas membantah asumsi yang menuduh bahwa rentetan kebakaran di rumahnya merupakan kejadian yang sengaja dibuat-buat atau direkayasa oleh internal keluarga.
"Sekarang dipikir secara logika, rasah neko-neko (tidak usah dibuat-buat). Saya, bapak, ibu, dan adik-adik tahu betul bagaimana barang-barang yang terbakar itu dibeli dengan jerih payah yang luar biasa. Kami menabung untuk beli baju, menabung untuk beli sofa. Setelah bisa membeli, lalu barang-barang itu terbakar. Kami sudah merembuk di keluarga, kok yo tega sekali kalau ada yang menuduh demikian. Di rumah kalian pasti juga ada barang yang dibeli dengan begitu kan," katanya.
Fia juga menepis spekulasi mengenai motif internal seperti perebutan harta warisan. Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga saat ini sedang berada di titik terendah karena usaha kafe maupun pemotongan ayam milik keluarga yang semula berjalan lumayan buat menghidupi keluarga, kini sedang anjlok pasca-pandemi Covid-19.
"Motifnya apa? Kalau misalnya perebutan warisan, sama sekali tidak ada pikiran ke sana di keluarga kami. Sekarang kami justru sedang berpikir bagaimana bisa bangkit kembali. Kok ya bisa-bisanya dituduh," jelasnya.
Fia juga membeberkan fakta, untuk mematahkan asumsi keterlibatan orang rumah yang membuat api. Menurut dia, faktanya api tetap menyala secara misterius tanpa memandang siapa yang sedang berada di dalam rumah dua lantai tersebut.
"Faktanya, tidak ada Bapak dan Ibu saya, api tetap menyala. Tidak ada saya, ya menyala. Tidak ada adik saya, ya menyala. Bahkan semuanya tidak ada pun tetap menyala. Saat rumah dikosongkan dan yang menjaga hanya orang luar rumah, faktanya api tetap menyala. Kalau misalnya itu motif atau perbuatan satu orang (anggota keluarga), nyatanya tidak ada orang pun api tetap menyala," urai dia.
Mengenai keberadaan kamera CCTV, yang setelah dipasang di rumahnya tetapi ternyata api tidak muncul, Fia langsung menyampaikan klarifikasi.
Ia menyebut, pemasangan CCTV di rumahnya baru dilakukan setelah barang-barang di dalam rumah sudah hangus terbakar. Sebagian barang lainnya kemudian dikeluarkan.
"Setelah dipasang CCTV, api sebenarnya juga tetap menyala. Namun menyalanya di sekitar luar rumah, bukan di dalam lagi, karena barang di dalam rumah memang sudah habis. Karena posisi kamera di dalam, tentu tidak terekam karena titik apinya di luar. Kecuali kalau sejak awal mula kejadian sudah dipasang CCTV, mungkin bisa terekam," kata dia.
Saat ini CCTV yang dipasang di tiga lokasi yakni di ruang depan, tengah dan lorong utara rumah telah diambil. Hasil rekaman akan digunakan sebagai bukti pendukung pihak kepolisian. Tim peneliti dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) UGM juga telah menyatakan kesimpulan akhi dari penelitian bahwa fenomena "teror api" di rumah Agusyani tersebut bukan disebabkan oleh rembesan gas alam ataupun fenomena alam yang menyala sendiri (self-ignition).
Tim ahli justru menyimpulkan setelah uji laboratorium menggunakan metode FTIR pada permukaan dinding rumah menemukan ada material yang mudah terbakar. Material ini, setelah diselidiki berasal dari resin yang di dalamnya mengandung Poly Vinyl Chloride (PVC).Material resin inilah yang diduga menjadi bahan yang mudah terbakar. Akan tetapi, UGM tidak memiliki data bagaimana mekanisme terbakarnya resin ini
Menanggapi hasil tersebut, Fia mengaku merasa bingung dengan perubahan hasil di lapangan. Menurutnya, terdapat ketidaksesuaian antara situasi saat penelitian awal dengan hasil akhir yang diumumkan ke publik. Sebab, kata dia, ketika UGM datang meneliti tanggal 1 Juni 2026, rumah dalam keadaan kosong para peneliti mendapati langsung letupan api yang membakar selembar kaos di kamar tidur ruang tengah. Api kemudian dipadamkan menggunakan APAR.
Meski peneliti tidak melihat secara langsung proses terbentuknya api, tapi kaos yang sempat terbakar kemudian dibawa keluar dan ditunggu. Api lalu kembali menyala. Saat itu, peneliti mengeluarkan detektor gas dan didapati lonjakan pada gas hidrogen (H2).
"Itu penjelasannya bagaimana. Saya bingung harus bagaimana menanggapinya. Keluargaku yo bingung. Kok hasil penelitian selesai raono gas, padahal sebelumnya mengatakan itu ada gas," tanya dia.