TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Santa Elisabeth Lela berkolaborasi dengan Yayasan Simpul Indonesia meluncurkan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Gas Kerja Santa Elisabeth Lela (Sanbela) di Kabupaten Sikka, Selasa (16/6/2026).
Sekolah ini tepatnya berada di Jalan Raya Lela, Dusun Lela, Desa Lela, Kecamatan Lela, wilayah selatan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Acara peluncuran diawali dengan misa syukur yang dipimpin langsung oleh Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Turut hadir dalam acara peluncuran ini Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi, Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka Adrianus Firminus Parera, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Wilayah IV Rofinus Laga Lamawato, Ketua Yayasan Persekolahan Umat Katolik (SANPUKAT) Maumere, RD. Yulius Heribertus, Direktur Rumah Sakit St. Elisabeth Lela, dr. Fabianus Liskar Kose, kepala sekolah, perwakilan Yayasan Simpul Indonesia Rusli Kuswanto, rohaniwan hingga tokoh masyarakat.
Baca juga: SMATER Fun Run 2026 Jadi Ajang Lepas Penat Pascaujian Akhir Sekolah Sekaligus Asah Bakat Lari Siswa
Sebagai pusat pelatihan dan penempatan, LPK Gas Kerja Sanbela membuka tiga program pelatihan utama yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja, yaitu Pelatihan Tenaga Caregiver (perawat lansia), Pelatihan Baby Sitter (perawat bayi), dan Pelatihan Therapist.
Melalui program-program tersebut, para peserta pelatihan akan mendapatkan berbagai keuntungan (benefit), antara lain pembentukan karakter dan etika kerja, sertifikat kompetensi, serta jaminan penempatan kerja di dalam maupun luar negeri secara legal dan dilindungi.
Dengan menjunjung nilai utama "Jujur dan Kompeten" serta jargon "Kompetensi Membangun Masa Depan", lembaga ini mengusung misi membawa para pesertanya menjadi generasi yang "Siap Kerja! Siap Sukses! Masa Depan Gemilang".
Baca juga: Warga Dusun Ili Kangae Sikka NTT Nobar Piala Dunia 2026
Kepala Cabang Dinas P dan K Provinsi NTT Wilayah IV, Rofinus Laga Lamawato, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil tracer study (penelusuran alumni) di wilayahnya, ditemukan data krusial bahwa tidak sampai 10 persen lulusan SMK yang bekerja sesuai dengan ilmu yang didapat.
"Setelah saya melakukan berbagai kajian, ternyata saya mengambil kesimpulan: kita terlalu memaksakan kurikulum kita untuk diterapkan di daerah, sementara itu tidak relevan lagi dengan perkembangan industri saat ini," ujar Rofinus.
Rofinus menambahkan, tantangan serupa juga dihadapi lulusan sekolah menengah atas. "Hasil tracer study menunjukkan bahwa hampir 40 persen siswa SMA itu tidak melanjutkan kuliah. Untuk itu, kami sudah membangun kolaborasi bersama Simpul agar siswa-siswa SMA itu diberi alternatif skill, supaya di saat kalau dia tidak melanjutkan kuliah, minimal dia tidak menganggur."
Baca juga: Bupati Sikka: Pembangunan Puskesmas Nanga Harapan Baru bagi Pelayanan Kesehatan di Kecamatan Lela
Kepala SMK Santa Elisabeth Lela, Sr. Sisilia Fatima Rinduk SSpS, S.Pi, M.A, menjelaskan bahwa LPK Sanbela hadir sebagai jembatan yang mengakomodasi kebutuhan dunia usaha dengan dunia pendidikan. Lembaga ini berfokus pada pelatihan kerja untuk merawat lansia (caregiver) dan bayi dengan sistem pembiayaan yang tidak membebani orang tua di awal.
"Dalam segala proses untuk bisa bekerja, orang tua tidak perlu lagi memikirkan biaya-biaya atau tidak perlu repot-repot pinjam sana pinjam sini... karena Yayasan Simpul akan membantu membiayai mereka sampai mereka mendapatkan pekerjaan nantinya. Semua akan difasilitasi, mulai dari penginapan, pelatihan, keberangkatan, sampai memang mendapatkan pekerjaan," kata Sr. Sisilia.
Namun, Sr. Sisilia menggarisbawahi adanya sistem potong gaji berkala setelah peserta pelatihan resmi bekerja dan menerima penghasilan. Potongan tersebut berlaku selama 3 bulan pertama untuk penempatan dalam negeri, dan 5 hingga 7 bulan untuk penempatan luar negeri.
"Mengapa uang ini diminta? Supaya uang itu dipakai kembali untuk membantu adik-adiknya yang berikut, yang akan berangkat untuk bekerja. Jadi bukan untuk Yayasan Simpul," tegasnya.
Pemimpin Yayasan Simpul Indonesia NTT, Benny Augusto S.Sos, M.Ikom, membenarkan mekanisme tersebut. Menurutnya, skema sirkulasi dana ini penting demi menjaga keberlanjutan program pelatihan bagi angkatan-angkatan selanjutnya.
"Begitu ada yang masuk, mereka bekerja, kembalikan, nanti kita akan pakai untuk adik-adik kita yang selanjutnya. Target kita memang anak-anak SMK. Kalau usia kerja itu, kalau anak-anak SMK mulai dari 18 sampai dengan 42," jelas Benny.
Benny menyebutkan, penempatan kerja akan disesuaikan dengan kesiapan mental, keahlian, dan spiritual peserta. Untuk penempatan luar negeri seperti Taiwan, Hong Kong, Malaysia, atau Singapura, LPK juga menyediakan pelatihan bahasa asing khusus.
Merespons inisiatif tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka, Adrianus Firminus Parera, memberikan apresiasi tinggi terhadap pola kemitraan ini. Ia menilai skema yang ditawarkan merupakan praktik cerdas (smart practice) di tengah pergeseran paradigma pemerintahan menuju collaborative governance.
"Membangun daerah ini tidak semata-mata oleh pemerintahan. Tetapi seluruh pemangku, baik itu swasta, baik itu gereja, organisasi non-pemerintah, kumpulan masyarakat, asosiasi, kita sama-sama berpikir untuk membangun daerah ini dan bangsa ini," kata Adrianus.
Ia juga mengingatkan pentingnya aspek kompetensi dan konsistensi guna membangun kepercayaan (trust) di pasar kerja internasional maupun domestik. "Tantangan kami di tingkat pemerintah adalah seperti ini. Membangun trust itu sulit. Bagaimana orang percaya kalau kita tidak kompeten? Maka kompetensi itu menjadi penting. Yang kedua adalah konsistensi."
Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, menegaskan dukungan penuh pihak keuskupan terhadap kehadiran Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Gas Kerja Santa Elisabeth Lela (Sanbela). Pihaknya berkomitmen untuk membesarkan lembaga ini langsung dari basisnya di Kecamatan Lela.
"Dan memang kita berjuang terus seperti yang disampaikan tadi, bahwa kita harus berkolaborasi, bekerja sama, termasuk juga dengan Pemda (Pemerintah Daerah), pemerintah, untuk bagaimana kita melihat ke depan, teristimewa untuk anak-anak kita, untuk hidupnya yang lebih baik, soal pekerjaan dan sebagainya," ujar Mgr. Ewaldus Martinus Sedu saat memberikan sambutan di Lela, Kabupaten Sikka, Selasa (16/6/2026).
Mgr. Ewaldus juga mengungkapkan bahwa pihak keuskupan sempat memiliki wacana untuk memindahkan lokasi sekolah ke pusat Kota Maumere agar bisa berjalan beriringan dengan institusi pendidikan tinggi milik keuskupan.
"Memang awalnya kita berpikir untuk membangun satu SMK baru di Maumere untuk bisa berjalan bersama dengan SMK, dengan Politeknik. Itu seperti penurusan yang ada untuk otomotif, kemudian manufaktur, dan sebagainya. Tapi saya berpikir, kenapa tidak di Lela? Itu kan kita punya," jelasnya.
Sebagai pusat pelatihan dan penempatan, LPK Gas Kerja Sanbela membuka tiga program pelatihan utama yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja, yaitu Pelatihan Tenaga Caregiver (perawat lansia), Pelatihan Baby Sitter (perawat bayi), dan Pelatihan Therapist.
Melalui program-program tersebut, para peserta pelatihan akan mendapatkan berbagai keuntungan (benefit), antara lain pembentukan karakter dan etika kerja, sertifikat kompetensi, serta jaminan penempatan kerja di dalam maupun luar negeri secara legal dan dilindungi.
Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi, menyampaikan apresiasi mendalam atas hadirnya LPK ini. Ia menyoroti tantangan krusial di Kabupaten Sikka, di mana berdasarkan data tahun 2025, sebanyak 70 persen masyarakat belum atau tidak tamat SMP, sementara angka pengangguran di tingkat lulusan menengah hingga sarjana masih cukup tinggi akibat lemahnya daya juang.
"Menurut saya, yang kurang dari kita itu bukan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi karakter daya juang kita itu kurang. Sehingga adik-adik kita yang tamat SMP, pertanian, peternakan ke kampung, mereka bukan mengolah lahan pertanian atau mengolah ternak, tetapi mereka memilih usaha jasa ojek yang lebih mudah," ungkap Stefanus.
Oleh karena itu, ia menilai kehadiran LPK menjadi angin segar untuk memperkuat mentalitas para tenaga kerja kerja asal Sikka sebelum dikirim ke daerah rantauan.
"Kita masih punya optimisme ke depan bahwa melalui sekolah-sekolah kita dan ditambah lagi dengan LPK yang masuk ke sekolah, bukan hanya warga sekolah yang dilatih keterampilan dan karakternya, tetapi juga kita mengharapkan saudara-saudara kita yang putus sekolah bisa mereka belajar di sini. Sehingga kisah-kisah peristiwa kita mengirim tenaga kerja dengan kurang terampil, mereka akan berangkat dengan, bukan hanya terampil, tetapi mereka punya karakter yang kuat untuk bisa bertahan di daerah rantauan," jelas Stefanus.
Ia menganalogikan para pekerja ini sebagai misionaris awam. "Maka sebelum mereka pergi, ya kita bentuk mereka dengan keutuhan pribadinya, keterampilan, pengetahuan, dan juga karakternya. Supaya dia ke sana, dia tidak hanya membawa dirinya, tetapi dia membawa tentang siapa kita, masyarakat Kabupaten Sikka."
Kehadiran LPK ini langsung memberikan dampak nyata bagi para lulusan. Pada peluncuran perdana ini, sebanyak lima orang siswi lulusan SMK Santa Elisabeth Lela berhasil dihimpun sebagai angkatan pertama yang siap diterjunkan ke dunia kerja setelah menyelesaikan masa pelatihan.
Yohanista Stevania, salah satu alumnus yang akrab disapa Tasyah, membagikan pengalamannya sebagai bagian dari angkatan perintis di lembaga tersebut.
"Untuk angkatan pertama dari LPK Gas Kerja Sanbela ini, kami berjumlah lima orang yang merupakan tamatan langsung dari SMK Santa Elisabeth Lela. Jadi setelah kami menamatkan pendidikan di lembaga SMK Santa Elisabeth Lela, kami langsung diberikan pelatihan di LPK Gas Kerja Sanbela. Setelah kami mengikuti pelatihan di LPK ini, kami langsung dikirim ke tempat-tempat kerja yang sudah disiapkan oleh tim Yayasan Simpul Indonesia," ujar Tasyah.
Tasyah juga mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan spiritual yang mereka terima dalam acara peluncuran tersebut.
"Pada kesempatan kali ini, saya merasa sangat senang karena secara langsung saya dan keempat teman saya diutus dan diberkati oleh Yang Mulia Bapak Uskup untuk dikirim dan bekerja pada tempat yang sudah disediakan."
Ia pun mengajak generasi muda lainnya di Sikka untuk memanfaatkan peluang ini, mengingat akses pelatihan yang terbuka luas tanpa memandang latar belakang sekolah asal.