Riwayat Penetapan Kalender Hijriah di Masa Kekhalifahan
Wahyu Widiyantoro June 16, 2026 08:06 PM

TRIBUNLOMBOK.COM - Kalender Hijriah hingga kini masih digunakan umat Islam di seluruh dunia. Sejak kapan penanggalan ini digunakan dan bagaimana proses penepatannya?

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkap bahwa penanggalan hijriah lahir melalui proses musyawarah para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab untuk menjawab kebutuhan administrasi pemerintahan yang semakin berkembang.

Bermula dari Kesulitan Penentuan Kebijakan

Gagasan penyusunan kalender Islam bermula dari surat yang dikirimkan Abu Musa Al-Asy'ari, Gubernur Kufah, kepada Umar bin Khattab. 

Saat itu, banyak surat dan keputusan pemerintahan yang tidak mencantumkan tanggal sehingga menyulitkan penentuan urutan kebijakan yang harus dijalankan.

Baca juga: 1.448 Dulang Tembolak Beak Sambut Tahun Baru Islam 1448 H di Lombok Timur

"Wahai Khalifah, kami menerima beberapa surat dari Anda, tetapi kami tidak tahu mana yang lebih dulu karena tidak ada tanggalnya," kata Menag mengutip isi surat Abu Musa Al-Asy'ari. Penjelasan tersebut disampaikan Menag dalam peringatan Malam Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah dalam rangkaian kegiatan Peaceful Muharam di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (15/6/2026) dikutip dari laman resmi Kemenag.

Menyadari pentingnya sistem penanggalan yang baku, Umar bin Khattab kemudian mengumpulkan para sahabat dan gubernur untuk bermusyawarah menentukan awal kalender Islam. 

Berbagai Usulan Awal

Dalam forum tersebut, muncul berbagai usulan. Ada yang mengusulkan agar kalender Islam dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad Saw. 

Usulan lain mengajukan peristiwa turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an) maupun Isra Mikraj sebagai titik awal penanggalan Islam.

Namun, seluruh usulan tersebut akhirnya tidak disepakati. Menurut Menag, para sahabat khawatir apabila kelahiran Nabi Muhammad Saw. dijadikan patokan kalender, hal itu dapat memicu pengkultusan yang berlebihan terhadap Rasulullah. 

"Rasulullah adalah utusan Allah Swt. Beliau harus dimuliakan, tetapi tidak boleh disakralkan secara berlebihan," jelas Menag.

Peristiwa Hijrah Rasulullah

Pada akhirnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengusulkan agar peristiwa hijrah Rasulullah Saw. dari Makkah ke Madinah dijadikan sebagai titik awal kalender Islam. 

Usulan tersebut diterima dan disepakati oleh para sahabat. "Kalau begitu, saya usulkan hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah yang dijadikan sebagai titik tolak kalender Islam. Akhirnya disepakati. Maka kalender Islam kita kenal sebagai Kalender Hijriah," ujar Menag.

Ia menambahkan, pemilihan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan bukan tanpa alasan. 

Hijrah menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam karena menandai lahirnya tatanan masyarakat baru yang lebih kuat dan terorganisasi di Madinah.

Menag juga menjelaskan perbedaan mendasar antara kalender Hijriah dan kalender Masehi. Kalender Hijriah didasarkan pada peredaran bulan (kamariyah), sedangkan kalender Masehi menggunakan peredaran matahari (syamsiyah). 

Perbedaan sistem tersebut menyebabkan kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari setiap tahunnya dibanding kalender Masehi.

Menurut Menag, memahami sejarah kalender Hijriah penting agar umat Islam tidak hanya merayakan pergantian tahun sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga memahami nilai-nilai perjuangan, perubahan, dan pembaruan yang terkandung dalam peristiwa hijrah Rasulullah Saw.

"Karena itu, Tahun Baru Hijriah hendaknya menjadi momentum untuk meneladani semangat hijrah Rasulullah dalam membangun peradaban, memperkuat persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat," pungkasnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.