Pertamax Naik, Opak Srundeng dan Jajanan Bangket di Banyumas Ikut Mahal
Daniel Ari Purnomo June 16, 2026 08:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai dikeluhkan oleh para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Purwokerto, Kabupaten Banyumas.

Pasalnya, sebelum kebijakan penyesuaian harga BBM tersebut diterapkan oleh pemerintah, sejumlah harga barang dan bahan baku di pasaran sudah terlebih dahulu mengalami tren lonjakan.

Kondisi tersebut kemudian semakin diperparah karena beberapa kebutuhan pokok lainnya juga mulai berangsur naik, tak lama setelah harga Pertamax resmi menyentuh angka Rp16.250 per liter.

Baca juga: Sentil Warga Hobi Menghujat Pertamax Naik, Ini Pesan Ketua DPRD Cilacap

Seorang pedagang kue bolen di Purwokerto, Azwar Rubowo (42), mengatakan bahwa jauh sebelum harga BBM Pertamax naik, sejumlah bahan baku dan barang pelengkap usahanya sudah mengalami kenaikan harga. Bahan baku tersebut di antaranya meliputi mentega, gula pasir, hingga kemasan plastik.

Lebih lanjut, setelah adanya kebijakan lonjakan tarif BBM nonsubsidi Pertamax baru-baru ini, salah satu bahan pokok yang harganya langsung ikut meroket adalah tepung terigu.

"Terigu biasanya Rp 128 ribu per karton, sekarang sudah Rp 134 ribu per karton," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Senin (15/6/2026).

Azwar mengaku, di tengah melambungnya harga bahan baku yang dipicu oleh sentimen kenaikan Pertamax tersebut, dirinya sejauh ini masih belum berani menaikkan harga jual kue bolen dagangannya.

Alasannya sangat masuk akal, sebab efek dari rentetan kenaikan harga barang pokok itu juga berbanding lurus dengan menurunnya daya beli masyarakat secara umum.

Menurut pandangannya, mau tidak mau harus diakui bahwa lonjakan harga bahan baku pangan di pasaran juga merupakan imbas tidak langsung dari berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyedot banyak suplai bahan pokok.

"Harapan kami masyarakat kecil, jika kenaikan BBM memang sulit dibantah oleh pemerintah. Setidaknya, pemerintah harus memikirkan cara menaikan daya beli," ungkapnya penuh harap.

Keresahan akibat meroketnya harga BBM nonsubsidi Pertamax rupanya juga menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para pelaku UMKM penjual aneka camilan atau snack kering, salah satunya seperti yang dirasakan oleh Sri Andayani (41).

Sri mengatakan, mengingat kebijakan kenaikan harga bahan bakar tersebut baru berlaku selama beberapa hari terakhir, dampak langsung dari harga Pertamax sejatinya belum terlalu memukul laju omzetnya secara tajam.

Tetapi pada praktiknya di lapangan, pelaku UMKM seperti dirinya sebenarnya sudah lebih dulu terdampak beban pengeluaran akibat mahalnya harga kemasan plastik dan berbagai pasokan bahan baku yang belum juga turun harganya.

Ia mencontohkan secara spesifik, harga grosir untuk produk opak srundeng super yang sebelumnya biasa dijual di angka Rp80 ribu per bal, kini telah merangkak naik menjadi Rp85 ribu per bal.

Kemudian, jajanan tradisional seperti bangket yang sebelumnya dibanderol dengan harga Rp70 ribu per bal, saat ini juga harus menyesuaikan harga pasar menjadi Rp75 ribu per bal.

"Ini masih baru kemarin jadi belum terdampak. Tapi biasanya, kenaikan BBM selalu berdampak terhadap kenaikan harga," ungkapnya khawatir.

Sri menaruh harapan besar agar tidak ada lagi kebijakan kenaikan harga Pertamax di kemudian hari. Bahkan, ia mendesak agar pemerintah bisa menurunkannya kembali agar iklim usaha stabil.

Sebab, fluktuasi harga bahan bakar sangat berpengaruh secara langsung terhadap stabilitas minat dan daya beli masyarakat luas.

"Kasihan yang pedagang kecil. Semoga bisa normal lagi kaya dulu, jadi sama-sama enak buat masyarakat," harapnya memungkasi. (fba)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.