TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pembukaan kembali Selat Hormuz yang direncanakan mulai 19 Juni diperkirakan belum akan langsung menurunkan harga minyak dunia.
Namun, jika situasi damai benar-benar terjaga, harga minyak mentah diyakini akan bergerak turun secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang.
Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit dan vital yang terletak di antara Iran (di utara), serta Oman dan Uni Emirat Arab (di selatan) di wilayah Teluk Timur Tengah.
Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, sehingga menjadi urat nadi utama bagi ekspor minyak dan gas alam dari negara-negara Teluk ke seluruh dunia
Pengamat ekonomi energi Tata Mustasya menjelaskan, sebelum konflik terjadi, harga minyak mentah global sebenarnya berada di kisaran 60 dolar Amerika Serikat per barel dengan kondisi pasokan yang cukup tinggi.
“Kalau tidak ada perang, harga minyak itu sebetulnya di sekitar 60 dolar AS per barel, supply juga besar. Tapi kalau Selat Hormuz sudah dibuka nanti, untuk harga kembali turun memang perlu waktu sekitar dua sampai tiga bulan,” kata Tata saat dihubungi, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, proses normalisasi tidak bisa terjadi secara instan. Selama periode konflik, berbagai negara melakukan penyesuaian stok dan produksi.
Kilang-kilang minyak, terutama di kawasan Timur Tengah, juga membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi secara optimal.
“Stok selama ini kosong untuk berbagai kebutuhan. Produksi di beberapa kilang, terutama di negara Timur Tengah, untuk normal kembali itu biasanya perlu waktu. Mungkin sampai September atau Oktober,” ujarnya.
Jika penurunan harga minyak benar-benar terjadi, Indonesia termasuk negara yang akan merasakan dampak positifnya.
Salah satu yang paling terbantu adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dari sisi subsidi energi.
“Kalau ini berjalan lancar, dua-tiga bulan lagi harga pasti akan turun. Tidak ada yang bisa memastikan kembali ke harga sebelum perang atau tidak, tapi yang pasti akan turun sehingga subsidi di APBN bisa lebih aman,” katanya.
Tata mengatakan selama ini pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan.
Penurunan harga minyak global akan memberikan ruang fiskal lebih besar bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas tersebut.
Selain APBN, nilai tukar rupiah juga berpotensi lebih stabil. Selama harga minyak tinggi, Indonesia membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk memenuhi kebutuhan impor minyak.
“Kalau harganya bisa turun dua-tiga bulan ke depan, permintaan terhadap dolar tidak sebesar ketika harga minyak tinggi, kurs juga bisa lebih stabil,” ucap Tata.
Ia menambahkan, inflasi yang sempat menjadi kekhawatiran juga dapat lebih terkendali.
Sebab, lonjakan harga energi biasanya berujung pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang paling dirasakan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
“Yang paling berdampak itu naiknya harga beberapa barang, terutama kebutuhan pokok, inflasi ikut naik. Tapi kalau situasi sekarang berjalan baik, inflasi kita bisa lebih terkendali,” tuturnya.
Tak hanya BBM, komoditas LPG juga diperkirakan ikut merasakan dampak positif karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Termasuk LPG, karena sebagian besar juga impor,” katanya.
Dengan berbagai indikator tersebut, Tata memperkirakan kondisi ekonomi domestik akan membaik secara bertahap dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
“Prediksi saya memang ini akan membaik dalam dua-tiga bulan ke depan. Kurs, inflasi, dan subsidi energi akan lebih terkendali,” ujarnya.(*)
Baca juga: Buntut Selat Hormuz Ditutup: Minyak Naik, Dolar Menguat, Pengamat Sebut Indonesia Bisa Rugi 2 Kali