Mengenal Tradisi Sandorelang, Ritual Warisan Leluhur Mojan di Lereng Argopuro Jember
Haorrahman June 16, 2026 09:55 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Suara lantunan doa terdengar bersahutan di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Mojan, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Selasa (16/6/2026). Sebanyak 17 laki-laki duduk melingkar di dekat makam leluhur dusun setempat. Mereka tengah melaksanakan Sandorelang, ritual warisan leluhur Mojan Jember.

Mereka memulai ritual dengan mengucapkan basmalah secara bersamaan. Seorang pria berpakaian biru kemudian memimpin pembacaan mantra atau doa yang selanjutnya diikuti seluruh peserta.

Secara bertahap, para peserta melakukan rangkaian gerakan ritmis, mulai dari duduk, berdiri, bergandengan tangan, berjalan melingkar berlawanan arah jarum jam, mengangkat tangan, hingga kembali duduk. Semua gerakan dilakukan serempak sambil melantunkan mantra yang dikenal sebagai mantra Sandorelang.

Rangkaian tersebut menjadi puncak pelaksanaan tradisi Sandorelang, ritual budaya yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat Dusun Mojan.

Baca juga: Jadwal Tayang Portugal vs RD Kongo, Match Pertama Cristiano Ronaldo dkk di Piala Dunia 2026

Satu Abad

Dusun Mojan, yang diyakini berasal dari kata "pamujan" atau tempat berdoa, berada di kawasan perbukitan lereng selatan Pegunungan Argopuro. Setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro, masyarakat setempat menggelar ritual Sandorelang sebagai bentuk syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Pada tahun ini, Sandorelang dilaksanakan bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah atau Selasa (16/6/2026).

Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan ke lokasi ritual yang berada di area makam enam leluhur atau bujhu' Dusun Mojan, yakni Bujhu' Taka, Bujhu' Rama, Bujhu' Biyung, Bujhu' Kethek, Bujhu' Zaman, dan Bujhu' Trocok.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tradisi Sandorelang bermula pada 1917. Kala itu, seorang warga yang memiliki anak sakit keras mendapat petunjuk melalui mimpi yang berkaitan dengan para leluhur tersebut.

Setelah sang anak sembuh, keluarga itu menggelar sedekah sebagai ungkapan syukur yang kemudian berkembang menjadi tradisi Sandorelang dan terus dilaksanakan hingga sekarang.

"Makanya sampai sekarang, orang-orang yang bernazar jika anaknya sakit kemudian sembuh, maka akan menggelar Sandor (dibaca sandur). Warga sini begitu," ujar Hadi, juru bicara kelompok Sandorelang.

Baca juga: Jadwal Argentina di Piala Dunia 2026, Kiper Madura United dan Pelatih Persid Jember Jagokan Messi cs

Filosofis

Sandorelang berasal dari tiga kata, yakni sandur atau sesanduran, ngedhor, dan elang.

Sandur atau sesanduran berarti beksan atau tarian dalam bahasa Jawa kuno. Ngedhor bermakna berlangsung terus-menerus dalam kesadaran semalam suntuk, sedangkan elang berarti hilang.

Pegiat sejarah dari Komunitas Srawung Sastra, Imam Jazuli, menjelaskan bahwa Sandorelang menggambarkan perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

"Keserba-ada-an hidup manusia yang senantiasa mengalami kemunduran atau kesusahan maupun kemajuan atau kemudahan, semua itu akan melebur menjadi satu dalam nikmat dan kasih sayang Tuhan. Itu juga yang tergambar dalam gerakan ritual Sandorelang. Gerakan beriringan yang kemudian melebur. Juga ada kegotongroyongan, susah dan senang bersama," ujarnya.

Dalam pertunjukan ritual ini terdapat sembilan gerakan utama. Keunikan lainnya, mantra yang dilantunkan para penari tidak pernah ditulis dan hanya diwariskan melalui hafalan dari generasi ke generasi.

"Pernah mau mencoba menuliskannya, malah rasanya hilang semua alias blank," kata Hadi.

Menurutnya, syarat utama menjadi penari Sandorelang adalah mampu menghafal seluruh mantra yang dibacakan selama ritual berlangsung.

"Karena kami mengikuti, dan selalu dinyanyikan saat Sandur. Jadi kami menghafal melalui ritual Sandur ketika digelar. Tidak pernah ditulis, jadi turun temurun," imbuhnya.

Hadi sendiri mulai menjadi penari Sandorelang pada 2023, meneruskan peran ayahnya yang telah meninggal dunia. Dalam satu generasi, seorang penari dapat terlibat dalam ritual ini selama 20 hingga 30 tahun, bahkan hingga tidak lagi mampu karena usia atau kondisi kesehatan.

Baca juga: Ratusan Mahasiswa Demo "Indonesia Cemas" di DPRD Jember, Ini Empat Tuntutan Mereka

Diusulkan WBTb

Nilai sejarah, keunikan, dan keberlanjutan tradisi membuat Sandorelang kini diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Ketua Kelompok Kebudayaan Djagratara Desa Klungkung, Hendi A. Samad, mengatakan proses pengajuan sedang berjalan agar tradisi tersebut mendapatkan perlindungan hukum.

"Sandorelang ini tradisi turun temurun di Dusun Mojan, yang diikuti oleh seluruh masyarakat Mojan, sudah ada sejak 1917. Saat ini dalam proses pengajuan Warisan Budaya Takbenda di Kementerian, supaya ada perlindungan hukum bahwa ini murni dan asli milik Dusun Mojan," ujarnya.

Menurut Hendi, Sandorelang tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada enam leluhur Dusun Mojan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat.

Baca juga: Stadion Notohadinegoro Jember Dinilai Belum Layak, Pasuruan United Minta Laga Persak Dipindah

Nasi Takir

Selain ritual tari dan mantra, Sandorelang juga memiliki tradisi khas berupa nasi takir.

Setiap keluarga membawa nasi beserta lauk-pauk yang ditempatkan dalam takir, yakni wadah makanan yang dibuat dari daun pisang. Takir-takir tersebut kemudian ditata di sekitar area makam leluhur.

Setelah seluruh makanan terkumpul, acara diawali dengan doa bersama dan pembacaan Surah Yasin untuk para leluhur.

Pada pelaksanaan tahun 2026, kegiatan juga diisi ceramah keagamaan yang disampaikan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jember, KH M. Rofi'i Baidlowi.

Usai doa dan ceramah, nasi takir dibagikan kepada seluruh warga dan tamu yang hadir. Ratusan peserta mendapatkan bagian makanan sebagai simbol berkah, syukur, dan kebersamaan.

Setelah makan bersama, barulah puncak ritual Sandorelang digelar melalui pertunjukan tari sakral yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dusun Mojan selama lebih dari satu abad.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.