TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Pemadaman listrik secara mendadak di tengah jam sibuk belakangan ini kerap dikeluhkan oleh masyarakat, khususnya para pengguna media sosial di wilayah Pulau Jawa hingga Bali.
Keluhan mengenai kondisi rumah yang mendadak gelap gulita, bahkan terjadi beberapa kali dalam seminggu, memicu pertanyaan besar mengenai stabilitas pasokan listrik nasional akhir-akhir ini.
Sempat beredar rumor di jagat maya bahwa pemadaman ini merupakan langkah sengaja dari pemerintah untuk menghemat stok batu bara.
Menanggapi keresahan tersebut, Pengamat Sistem Tenaga Listrik dari STEI Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, memberikan penjelasan akademis mengenai penyebab utama di balik fenomena ini.
"Pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini di sejumlah wilayah Pulau Jawa ternyata dipicu oleh dua hal utama," kata Kevin, dilansir dari unggahan resmi Instagram ITB, Senin (13/6/2026).
Faktor pertama yang menjadi penyebab adalah force outage, yaitu gangguan mendadak pada sistem kelistrikan yang terjadi di luar rencana operasional.
Sementara faktor kedua adalah derating, sebuah kebijakan teknis untuk menurunkan kapasitas produksi listrik secara sengaja akibat kondisi tertentu.
Dilema Stok Bahan Bakar dan Beban Puncak
Kebijakan derating atau penurunan daya operasional ini rupanya memang berkaitan erat dengan kondisi cadangan energi primer yang menipis.
Menurut Kevin, stok batu bara dan minyak mentah yang menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik saat ini sedang mengalami keterbatasan pasokan.
Dalam situasi kritis tersebut, operator pembangkit listrik terpaksa mengambil keputusan dilematis untuk menurunkan daya operasi hingga tersisa sekitar 60 persen dari kapasitas maksimalnya.
Langkah antisipasi ini dinilai sangat penting agar pasokan bahan bakar fosil yang tersisa di dalam ruang penyimpanan tidak habis sepenuhnya sebelum pasokan baru tiba di lokasi.
Sebab, jika Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dipaksa untuk terus mengejar target operasi penuh sebesar 100 persen di tengah krisis bahan bakar, risiko teknis yang dihadapi justru jauh lebih fatal.
Ketika bahan bakar habis total, PLTU akan mengalami mati total dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dihidupkan kembali ke dalam sistem jaringan.
"Jika dipaksa 100 persen dan bahan bakar itu habis, maka PLTU membutuhkan waktu hingga dua hari untuk menyala kembali (proses startup)," ujar Kevin.
Lebih lanjut, Kevin memaparkan bahwa berdasarkan teori operasi sistem tenaga listrik, setiap jaringan kelistrikan idealnya harus memiliki cadangan daya yang memadai untuk mengantisipasi gangguan mendadak.
Namun, ketika permintaan listrik masyarakat melonjak tajam pada waktu beban puncak (peak hours), cadangan daya tersebut akan menipis ke batas aman terendah.
Kondisi inilah yang membuat pemadaman bergilir menjadi pilihan terakhir yang tidak bisa dihindari oleh pihak penyedia layanan listrik.
"Langkah pemadaman bergilir ini terpaksa dilakukan untuk menekan beban sistem, menjaga ketersediaan cadangan daya, serta mencegah terjadinya pemadaman listrik secara menyeluruh (blackout) yang jauh lebih merugikan," tambahnya.
Tekanan Ganda dari Fenomena El Nino Godzilla
Selain kendala pasokan bahan bakar fosil dan kendala teknis operasional, faktor alam eksternal turut memberikan andil besar dalam memperparah kondisi kelistrikan nasional saat ini.
Fenomena cuaca ekstrem El Nino yang membawa musim kering berkepanjangan—atau sering dijuluki El Nino Godzilla—menjadi tantangan berat bagi sektor ketenagalistrikan.
Kondisi iklim ekstrem ini memberikan tekanan ganda (double hit) pada sistem kelistrikan terintegrasi, yakni memicu lonjakan konsumsi sekaligus menurunkan kapasitas produksi energi secara drastis dalam waktu bersamaan.
"Debit air yang menyusut tajam mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pasokan listrik di Pulau Jawa," pungkas Kevin.