TRIBUNJATIM.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan semua wilayah di Jawa Timur pada Rabu (17/6/2026) cerah hingga cerah berawan.
Kondisi ini relatif kondusif untuk aktivitas masyarakat mulai dari siswa sekolah, petani, nelayan, pekerja bangunan, pekerja kantoran hingga pemerintahan.
Sejak pagi hingga malam, cuaca diperkirakan didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan.
Namun sejumlah daerah berpotensi mengalami peningkatan tutupan awan pada pagi hari sekitar pukul 06.00 dan sore pukul 16.00 WIB seperti Bangkalan, Bondowoso, Gresik, Kota Batu, Kota Pasuruan, Surabaya, Mojokerto, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Tuban.
Sementara itu, suhu udara di Jawa Timur diperkirakan mencapai 21-34 derajat Celsius.
Kota Surabaya dan Pasuruan menjadi derah dengan suhu paling panas hingga mencapai 34 derajat Celcius.
Secara keseluruhan, cuaca di Jawa Timur pada awal pekan ini dinilai cukup mendukung aktivitas luar ruangan, baik untuk bekerja, bersekolah, maupun bepergian.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau mewaspadai kemungkinan hujan ringan yang dapat terjadi di beberapa wilayah pada siang hingga sore hari serta terus memantau informasi terbaru dari BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Selasa 16 Juni 2026, Semua Daerah Cerah Sepanjang Hari
Baca juga: Fenomena Bediding Landa Kediri Raya, BMKG Perkirakan Suhu Dingin Berlangsung Hingga September
Masyarakat di Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir mengeluhkan suhu udara malam hingga pagi hari yang terasa jauh lebih menusuk tulang dibandingkan biasanya.
Fenomena penurunan suhu udara secara drastis ini dikenal luas oleh masyarakat Jawa sebagai fenomena bediding.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri meminta masyarakat tidak panik.
Kondisi atmosfer ini merupakan siklus alam yang wajar terjadi secara periodik setiap tahunnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, memaparkan fenomena bediding merupakan penanda kuat bahwa wilayah Jawa Timur telah memasuki puncak musim kemarau.
Baca juga: Penyebab Suhu Dingin di Surabaya saat Malam Hari, BMKG Sebut Suhu Mencapai 26 Derajat Celcius
Secara ilmiah, Joko menerangkan karakteristik massa udara dari benua Australia bersifat kering dan minim uap air.
Hal ini berimbas pada menipisnya pembentukan awan di langit nusantara, termasuk di atas langit Kediri Raya.
Tanpa adanya pembentukan awan yang berfungsi sebagai selimut bumi, radiasi panas matahari yang diserap bumi pada siang hari akan langsung dipantulkan kembali dan terlepas bebas ke atmosfer pada malam hari tanpa ada hambatan.
Proses pelepasan panas yang berlangsung cepat inilah yang memicu suhu udara merosot tajam pada malam, dini hari, hingga menjelang subuh.
Berdasarkan data koordinasi antara BPBD dengan BMKG Dhoho Kediri, cuaca dingin ekstrem ini diperkirakan masih akan setia menemani aktivitas warga sepanjang musim kemarau, yakni hingga bulan September mendatang.
Karakteristik lain yang menyertai fenomena ini adalah penurunan tingkat kelembapan udara secara drastis serta embusan angin yang terasa lebih kencang.