Pimpinan Dayah QAHA: Kritik Hak Konstitusional, Sampaikan untuk Membangun, bukan karena Kebencian
Saifullah June 17, 2026 12:03 AM

 

Laporan Wartawa Serambi Indonesia Zaki Mubarak | Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Pimpinan Dayah QAHA, Tgk Jamaluddin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bijak dalam menyampaikan pendapat di muka umum. 

Sebagai negara demokrasi, setiap warga negara memiliki hak konstitusional untuk memberikan saran dan kritik demi kemajuan bangsa, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Menurut Tgk Jamaluddin, menyampaikan pendapat atau kritik merupakan bentuk nyata dari rasa peduli dan cinta tanah air. 

Sikap kritis terhadap sebuah kebijakan tidak boleh disalahartikan sebagai tindakan anti-pemerintah. 

Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari pengawasan publik agar kebijakan yang diambil berjalan dengan baik.

"Negara kita telah mengatur hal ini dengan sangat baik dan memberikan ruang khusus bagi masyarakat untuk berpendapat,” urai dia. 

Baca juga: Mahasiswa Demo, Istana Klaim Sudah Hemat Rp300 T, Pengamat Skeptis Sebut Presiden Bebal Kritik

“Namun, sebagai warga negara yang cinta tanah air, hak ini harus digunakan untuk membangun, bukan sebagai ajang untuk menumpahkan kebencian," ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Ia menekankan pentingnya menjaga etika dan cara penyampaian aspirasi. 

Kritik yang sehat harus fokus pada substansi kebijakan, bukan menyerang atau menjatuhkan nama baik pribadi seorang pemimpin, termasuk Presiden Republik Indonesia.

"Sangat tidak baik apabila kita menyerang pribadi pemimpin dengan kata-kata buruk, apalagi sampai menghina,” ulas Tgk Jamaluddin. 

“Jika itu terjadi, itu bukan lagi bentuk kritik membangun, melainkan pelampiasan kebencian," tegasnya.

Sebagai umat Muslim, Tgk Jamaluddin mengingatkan bahwa Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh tatanan kehidupan manusia melalui dua pondasi utama, yaitu akhlak dan ilmu. 

Baca juga: Kreatif! Mahasiswa Suarakan Kritik via Poster Unik, Pengendara Ramai-ramai Bunyikan Klakson

“Seorang mukmin sejati idealnya harus memiliki kedua hal tersebut secara seimbang dalam kehidupan berbangsa,” imbuhnya.

Menghadapi berbagai dinamika di Indonesia sebagai bangsa yang besar, Pimpinan Dayah QAHA mengajak semua unsur masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa yang tengah menuntut ilmu, untuk saling mendoakan dan mendukung.

"Mari kita perbanyak doa agar Allah SWT senantiasa menuntun para pemimpin kita dalam mengambil kebijakan,” ajaknya. 

“Memberikan rasa kasih sayang antar-sesama rakyat agar tidak saling menjatuhkan, serta mewujudkan Indonesia yang Baldatun Tayyibatun Warabbun Ghafur (negeri yang baik dan ampunan Ilahi)," tutup Tgk Jamaluddin.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.