TRIBUNNEWS.COM - Penampilan gemilang kiper Tanjung Verde, Vozinha, saat menahan gempuran Spanyol di Piala Dunia 2026 membuat namanya mendadak dikenal dunia.
Namun di balik aksi heroiknya mengamankan hasil imbang 0-0 pada debut bersejarah Tanjung Verde, tersimpan kisah unik yang ternyata menghubungkan dua raksasa sepak bola dunia: Argentina dan Brasil.
Pengamat sepak bola dari Spieltag Indonesia, Adrian, sebelumnya memang menilai Spanyol sebagai salah satu favorit kuat juara Piala Dunia 2026.
"Spanyol dianggap sebagai salah satu tim kandidat kuat untuk bersaing memperebutkan gelar juara di edisi kali ini," ujar Adrian dalam Podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Namun prediksi tersebut justru dipatahkan oleh semangat juang Tanjung Verde yang tampil disiplin sepanjang pertandingan.
Pandangan berbeda sebelumnya sempat disampaikan Ketua Juventus Club Indonesia Chapter Banten, Arizqi Romadhoni.
Ia menilai Spanyol belum cukup meyakinkan karena dihuni banyak pemain muda dan minim pengalaman dibanding generasi-generasi sebelumnya.
"Sama Spanyol ini kurang meyakinkan karena banyak dihuni pemain muda. Apalagi enggak ada Madridnya" kata Arizqi di prgram yang sama di kesempatan terpisah.
Prediksi itu terbukti tidak sepenuhnya keliru. Tanjung Verde sukses menahan serangan La Roja dengan Vozinha menjadi aktor utama di balik hasil bersejarah tersebut.
Di balik nama Vozinha yang kini mendunia, ternyata nama tersebut hanyalah julukan. Nama asli kiper berusia 40 tahun tersebut adalah Josimar Dias, seperti dilansir FIFA.
Kisah itu bermula pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Sang ayah, Ze Pedro, sangat mengagumi penyerang Argentina Jorge Valdano yang menjadi bagian penting dalam skuad juara dunia bersama Diego Maradona.
Valdano mencetak empat gol pada turnamen tersebut dan membuat Ze Pedro ingin memberikan nama "Valdano" kepada anaknya yang baru lahir.
Namun keinginan itu ditolak oleh petugas pencatatan sipil di Tanjung Verde karena saat itu penggunaan nama asing tidak diperbolehkan.
Akibatnya, nama Valdano ditolak dan keluarga harus mencari alternatif lain.
Pilihan kemudian jatuh kepada Josimar, bek kanan timnas Brasil yang juga mencuri perhatian pada Piala Dunia 1986.
Josimar terkenal berkat gol-gol spektakulernya ke gawang Irlandia Utara dan Polandia yang membuat namanya melejit pada turnamen tersebut.
Dari situlah lahir nama Josimar Dias yang kini tercatat resmi dalam dokumen sang kiper.
Menariknya, FIFA baru memberi tahu Jorge Valdano mengenai kisah tersebut beberapa hari sebelum laga Tanjung Verde melawan Spanyol.
Legenda Argentina itu mengaku terkejut sekaligus bangga. Ia heran mengapa ayah Vozinha memilih dirinya, padahal saat itu ada sosok Diego Maradona yang jauh lebih terkenal.
"Empat puluh tahun setelah Piala Dunia 1986, saya seperti kembali bermain di Piala Dunia 2026 melalui Vozinha," kata Valdano, dikutip dari laman FIFA.
"Awalnya saya bingung. Mengapa ayahnya memilih saya? Padahal ada Maradona saat itu. Tetapi saya sangat bangga mendengar cerita tersebut," kata dia.
Meski bernama Josimar Dias, publik sepak bola Afrika lebih mengenalnya sebagai Vozinha.
Julukan itu ternyata berasal dari masa kecilnya.
Saat masih kecil, Josimar banyak diasuh oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya bekerja.
Ia sering bermain sepak bola dengan anak-anak yang lebih tua dan tak jarang pulang dengan wajah kesal setelah kalah atau mendapat perlakuan keras di lapangan.
Teman-temannya kemudian mengejeknya dengan menyebut "Vozinha", yang dalam bahasa Portugis merujuk pada nenek atau sosok perempuan tua yang disayangi.
Mereka menganggap Josimar selalu pulang untuk mengadu kepada neneknya.
Apa yang awalnya hanya candaan masa kecil justru berubah menjadi identitas yang melekat hingga sekarang.
Kini, nama Vozinha tidak hanya dikenang karena kisah unik di balik identitasnya.
Ia juga menjadi simbol salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola Tanjung Verde.
Debut negara kepulauan berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa itu di Piala Dunia langsung menghasilkan kejutan besar dengan menahan imbang Spanyol 0-0.
Vozinha tampil luar biasa sepanjang laga dengan menggagalkan sejumlah peluang emas lawan, termasuk penyelamatan penting dari Mikel Oyarzabal dan Aymeric Laporte.
Hasil tersebut langsung menjadi perbincangan dunia. Bahkan jumlah pengikut media sosial Vozinha disebut melonjak drastis hanya dalam hitungan jam setelah pertandingan.
Semula, Vozinha memiliki 50 ribu pengikut di Instagramnya, namun kini melesat menjadi tujuh juta pengikut kurang dari 24 jam.
Meski mendapat sorotan dunia, sang kiper menegaskan seluruh pencapaian tersebut bukan untuk dirinya sendiri.
"Semua ini untuk Tanjung Verde dan rakyat kami," ujar Vozinha.
Kisah Vozinha menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya menghadirkan cerita di atas lapangan.
Dari seorang anak yang hampir dinamai Jorge Valdano, lalu resmi bernama Josimar, hingga akhirnya dikenal dunia sebagai Vozinha, sang kiper kini telah menulis babak sejarahnya sendiri di Piala Dunia 2026.
Dan setelah sukses membuat para bintang Spanyol frustrasi selama 90 menit, nama Vozinha dipastikan akan terus dikenang sebagai salah satu cerita paling menarik dari turnamen kali ini.
(Tribunnews.com/Tio)