TRIBUNMANADO.CO.ID - Merenungkan Firman Tuhan setiap hari akan membuat semakin bertumbuh dalam Tuhan.
Lalu melakukannya dalam kehidupan setiap hari.
Berikut renungan harian Kristen berjudul Menuai Upah Hidup Kekal.
Bacaan Alkitab Yohanes 4:35-36.
Kegiatan pertanian, selalu ada musimnya.
Sebab pertanian adalah sebuah proses.
Tidak serta merta langsung jadi.
Ada musim menanam, ada musim menuai. Saat menanam, tentu berbeda dengan musim menuai.
Secara manusia dan alamiah, tidak mungkin seseorang sementara menanam juga sekaligus menuai benih yang sama pada lahan yang sama dan di waktu yang sama. Itu tidak mungkin.
Tetapi, tidak mungkin pada manusia, mungkin bagi Allah.
Mustahil bagi manusia, tapi nyata dan pasti terjadi bagi Allah.
Apapun yang Tuhan kehendaki, pasti terlaksana sesuai kehendak-Nya yang mutlak dan ajaib.
Ketika Yesus berada di sumur Yakub, di Sikhar, dekat Samaria dan bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria, itu belumlah musim menuai.
Itu diketahui dan dikatakan oleh para murid Yesus yang bersama Dia ketika itu.
Dalam hitungan petani dan masyarakat saat itu, 4 bulan lagi baru musim menuai atau panen.
Itu memang pengetahuan dan pemahaman orang banyak termasuk para petani.
Namun Yesus berkata kepada para murid-Nya yang menawarkan makan kepada-Nya bahwa sesungguhnya waktu itu adalah musim menuai.
Ia berkata kepada para murid agar melihat sekelilingnya dan memandang ke ladang-ladang yang sudah menguning dan sudah matang untuk dituai.
Bahwa sesungguhnya tuaian sudah tersedia.
Yesus melanjutkan pengajaran-Nya bahwa saatnya sudah tiba.
Bahwa para penuai telah siap menerima upahnya masing-masing sesuai hasil kerja penuaiannya.
Bahwa upah yang mereka Terima dari tuaiannya itu, tidak hanya bersifat jasmani dan fisik, tapi bernilai kekal.
Upah yang diterima adalah upah yang sarat makna rohani, yang menyangkut hidup manusia bukan hanya di dunia, tapi sampai kehidupan selamanya.
Itulah hidup yang sesungguhnya dan sejati.
Sebab hidup manusia tidak berakhir di dunia, tapi dalam kehidupan setelah kematiannya.
Dalam hal ini, Kristus menekankan tentang pentingnya manusia melihat hidup yang abadi, bukan pada hidup yang sementara dan fana saja.
Yesus mengarahkan para murid-Nya untuk melihat hal yang lebih utama, fundamen dan kekal, bukan instan, sementara atau temporer, tapi kontemporer, tak terbatas dan tiada akhirnya.
Karena itulah hidup yang sebenarnya dan sesungguhnya.
Untuk apa manusia bersusah payah menggapai, menanam dan menuai banyak harta di dunia, tapi akhirnya dia menderita dalam hidup kekal dan selamanya.
Yesus mengajarkan bahwa para murid dan pengikut-Nya setia melakukan apa yang Dia ajarkan.
Itu adalah benih yang paling baik dan utama dalam hidup manusia.
Sebab, semua orang percaya, pasti menuai kebahagiaan kekal.
Penuai akan menerima upahnya dan mereka akan mengumpulkan buah dari kehidupannya, yakni yang menjamin kehidupan kekal.
Pertanyaanya, ladang apa yang telah dituai dan siapa penuainya?
Sesungguhnya, ladang itu adalah manusia dengan segala keberadaannya dan penuainya adalah orang percaya yang dipanggil dan dipilih menjadi hamba-Nya.
Artinya semua orang di sekitar kita, baik dalam dunia nyata dalam jemaat dan masyarakat, maupun di dunia maya (di Medsos dll), adalah ladang yang menjadi tanggungjawab kita.
Maka sudah saatnya dan memang sudah waktunya pemuaian itu.
Dan, semua yang setia pada-Nya, melayani Dia dan sesama dalam kesungguhan, menerima upahnya untuk hidupnya yang kekal.
Sehingga, baik penabur maupun penuai, atau pelayan maupun jemaat sama-sama bersukacita dan berbahagia, baik di bumi maupun di sorga mulia.
Demikian firman Tuhan hari ini.
Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai?
Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.
Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita." (ay 35-36)
Sahabat Kristus, oleh kemurahan dan kasih karunia Tuhan Yesus, kita menuai hasil dari apa yang kita taburkan, sekalipun banyak juga bukan hasil taburan benih dari kita.
Sebab apa yang terjadi adalah terlaksana sesuai kehendak Kristus.
Selagi ada waktu menabur, taburlah benih kebaikan lebih banyak, sebab kita pasti menerima upah yang menakjubkan dan ajaib dari Kristus bagi kita yang terus setia dan taat pada-Nya.
Karena itu, tetaplah tekun dalam Tuhan. Ingat, dalam Tuhan kita pasti melakukan perkara besar dan menikmati kasih karunia yang sungguh amat besar dari Dia.
Itulah kehidupan yang tiada akhir bersama-Nya dalam kekekalan sebagai upah kesetiaannya sejak menabur hingga menuai, karena Tuhan mengenal hati kita, dan setiap orang dalam Tuhan, segala jerih lelahnya tidak sia-sia, karena pasti diperhitungkan-Nya secara ajaib.
Percayalah, bersama Kristus, semua pasti indah pada waktunya dan mujizat itu pasti nyata. Amin