Tanjungpinang (ANTARA) - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut Kadin Kepri periode 2026–2031 harus menjemput peluang ekonomi baru melalui pengembangan ekonomi hijau dan digital yang potensial, sambil memperkuat industri perkapalan dan kreatif.
"Ekonomi hijau dan ekonomi digital punya pasar yang sangat besar, baik dalam maupun luar negeri, apalagi Kepri berada di wilayah perbatasan dengan berbagai negara tetangga," kata Anindya Bakrie saat mengukuhkan Dewan Pengurus Kadin Provinsi Kepri periode 2026-2031 di Aula Wan Seri Beni, Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Selasa.
Anindya mendorong Kadin Kepri memperluas marketing atau pemasaran kawasan perdagangan bebas (FTZ) Batam, Bintan dan Karimun (BBK) untuk menarik lebih banyak investasi di daerah tersebut.
Menurut dia, walau bagaimana pun pengoptimalan industrialisasi membutuhkan investasi, karena dengan investasi itu pertumbuhan ekonomi daerah meningkat sekaligus menciptakan lapangan kerja baru
Anindya juga mengapresiasi angka pertumbuhan ekonomi Kepri 2025 mendekati tujuh persen, berada di atas rata-rata nasional sebesar lima persen.
Demikian pula dengan realisasi investasi tahun 2025 yang mencapai sebesar Rp64,67 triliun, yang menandakan bahwa Kepri menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan investasi di Indonesia.
"Menariknya lagi, perbandingan investasi di Kepri adalah 50 banding 50, antara dalam dan luar negeri," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anindya berpesan agar Kadin Kepri terus memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah, termasuk pelaku usaha UMKM hingga besar sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Ia juga menekankan esensi Kadin ialah pemberdayaan ekonomi serta menjadi jembatan antara pengusaha besar dan kecil.
"Saya sangat optimistis Kadin Kepri mampu menjaga kestabilan serta keamanan investasi bagi investor," ujar Anindya Bakrie.





