Menghapus Stigma Mistis, Paguyuban Abirawa Batang Pamerkan 30 Pusaka Langka di Malam 1 Suro
raka f pujangga June 17, 2026 01:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Di tengah derasnya arus modernisasi dan menurunnya minat generasi muda terhadap budaya tradisional, Paguyuban Abirawa Batang menggelar pameran keris dan berbagai benda pusaka sebagai bagian dari rangkaian tradisi Malam 1 Suro. 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang menampilkan koleksi tosan aji, tetapi juga sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya leluhur.

Baca juga: Pameran Keris Nusantara di Wonosobo, Bupati Afif Ajak Generasi Muda Rawat Warisan Budaya

Ketua Paguyuban Abirawa Batang, Ibnu Haris, mengatakan pameran tersebut menampilkan lebih dari 30 koleksi pusaka pilihan dari berbagai daerah di Nusantara. 

Koleksi yang dipamerkan meliputi keris Jawa, keris Bali, pedang dari Sulawesi, hingga tombak-tombak sepuh yang memiliki nilai sejarah tinggi.

"Kalau koleksi anggota paguyuban sebenarnya sangat banyak, tetapi yang dipamerkan kali ini sekitar 30 lebih karena keterbatasan tempat. Ada keris Bali, pedang Sulawesi, keris-keris sepuh hingga tombak tangguh Jenggolo yang usianya sudah sangat tua," kata Ibnu kepada Tribunjateng, Selasa (16/6/2026). 

Menurut Ibnu, Kabupaten Batang juga memiliki sejarah panjang terkait dunia perkerisan. 

Beberapa wilayah seperti Wonobodro dan Sambong dikenal memiliki jejak para empu pembuat keris pada masa lampau. 

Namun, pusaka yang paling dikenal masyarakat Batang adalah Tombak Abirawa yang setiap tahun dikirab dalam tradisi Malam 1 Suro.

"Tombak Abirawa menjadi pusaka yang paling dikenal masyarakat. Setiap Malam 1 Suro pusaka tersebut dikirab dan dijamas dalam prosesi khusus," jelasnya.

Lebih dari sekadar benda koleksi, keris dinilai memiliki nilai filosofi, sejarah, dan identitas budaya yang penting untuk dipahami generasi muda. 

Karena itu, paguyuban berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai makna sebenarnya dari tosan aji.

Ibnu menjelaskan, istilah tosan aji berasal dari kata tosan yang berarti besi dan aji yang berarti dimuliakan. 

Sebutan tersebut tidak muncul tanpa alasan, melainkan karena setiap pusaka memiliki sejarah, fungsi, dan nilai simbolis yang diwariskan turun-temurun.

"Yang paling penting adalah nguri-uri budaya. Jangan sampai peninggalan sejarah nenek moyang kita hilang. Anak-anak muda perlu diberikan pemahaman bahwa keris bukan sekadar benda kuno, tetapi bagian dari identitas dan perjalanan sejarah bangsa," ucapnya. 

Ia mengakui minat terhadap keris di kalangan generasi muda saat ini cenderung menurun. 

Meski demikian, komunitas kolektor dan pecinta keris di wilayah Batang, Pekalongan, Pemalang hingga berbagai daerah di Pulau Jawa masih cukup aktif.

"Kalau kolektor-kolektor senior masih banyak dan tetap eksis. Namun untuk anak-anak muda memang minatnya cenderung menurun. Karena itu edukasi menjadi penting agar mereka mengenal budaya leluhurnya," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ibnu juga berupaya meluruskan berbagai stigma yang masih berkembang di masyarakat terkait keris dan benda pusaka. 

Menurutnya, masih banyak warga yang enggan menyimpan keris warisan keluarga karena menganggap benda tersebut identik dengan hal-hal mistis.

Baca juga: DPRD Gagas Pendopo Lama Bupati Pekalongan Jadi Museum Wayang dan Keris

"Masyarakat tidak perlu takut memiliki atau menyimpan keris warisan leluhur. Kalau belum memahami cara merawat, menjamas, atau mengetahui sejarahnya, silakan bertanya kepada ahlinya. Keris adalah bagian dari warisan budaya adiluhung yang harus dijaga, bukan ditakuti," tegasnya.

Pameran pusaka tersebut menjadi salah satu magnet dalam peringatan Malam 1 Suro di Batang. 

Selain menghadirkan koleksi langka dan bernilai sejarah tinggi, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan peninggalan budaya sebagai identitas daerah dan bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. (Ito) 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.