BEM Fakultas Bersatu Tuding Mobil Tiyo Milik Besan Andika Perkasa, Guntur Romli: Cocoklogi!
Dedi Qurniawan June 17, 2026 02:21 AM

POSBELITUNG.CO - Politikus PDIP Guntur Romli menanggapi tudingan aliansi mahasiswa BEM Fakultas Bersatu terkait mobil Toyota Fortuner yang ditumpangi eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. 

Aliansi tersebut mengeklaim mobil itu milik Siti Nuraeni, adik dari eks Inspektur Jenderal TNI Letjen (Purn) Setyo Sularso sekaligus besan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa—yang telah resmi menjadi kader PDIP sejak Mei 2024.

Tuduhan ini dilontarkan oleh perwakilan BEM Fakultas Bersatu sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun (UICC), Rahmat Djimbula, dalam konferensi pers di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).

Bantahan Guntur Romli: Sebut Hanya "Cocoklogi"

Guntur Romli membantah keras tuduhan tersebut dan menjelaskan bahwa mobil Fortuner yang digunakan Tiyo saat berdemonstrasi di Gejayan, Sleman, DIY pada Sabtu (13/6/2026) hanyalah mobil pinjaman. Kendaraan itu sempat viral setelah Tiyo menemukan alat pelacak terpasang di bawahnya.

Meski tidak merinci identitas pemiliknya, Guntur memastikan pemiliknya bukanlah Siti Nuraeni karena Siti bukan bagian dari timses Ganjar Pranowo-Mahfud MD pada Pilpres 2024 lalu.

"Mobil yang dipakai Tiyo adalah pinjaman dari seseorang, dan seseorang itu adik dari seseorang yang besannya dari orang yang dulunya timses di Pilpres. Padahal Pilpres sudah selesai. Adik kakak juga belum tentu pilihan politiknya sama. Besanan juga belum tentu sama politiknya," kata Guntur kepada Tribunnews.com, Selasa malam.

Guntur menilai tudingan dari BEM Fakultas Bersatu sangat dipaksakan dan tidak berdasar.

"Itu cuma dipaksakan dengan cocoklogi saja," katanya.

Ia juga mempertanyakan alasan aliansi tersebut mengaitkan PDIP dengan sosok Setyo dan Siti yang jelas-jelas bukan kader partai banteng tersebut.

"Pak Setyo, Bu Siti juga bukan orang PDI Perjuangan. Kenapa dikaitkan ya?" ucap Guntur.

Mengenai klaim Rahmat yang menyebut politikus PDIP Andi Widjajanto mendampingi Tiyo saat aksi di Yogyakarta, Guntur mengaku tidak tahu. Namun, ia meyakini jika kehadiran itu benar, maka statusnya adalah personal.

"Kalau benar mas AW (Andi Widjajanto) datang (ke aksi di Gejayan), itu atas nama pribadi. Kalau (atas nama) partai, pasti ada surat penugasan," jelasnya.

Guntur menegaskan bahwa PDIP sama sekali tidak terlibat dalam rangkaian demonstrasi mahasiswa belakangan ini dan menganggap tuduhan penunggangan tersebut justru mendegradasi gerakan mahasiswa itu sendiri.

"PDI Perjuangan tidak terkait dengan aksi-aksi mahasiswa. Jangan merendahkan gerakan independen mahasiswa dengan memberikan tuduhan yang ditunggangi oleh partai dengan bukti yang sumir dan tidak masuk akal. Itu hanya cocoklogi," ujarnya.

"Kritik terhadap MBG itu datang dari hampir semua lapisan masyarakat. Yang sekarang terbukti dengan ditangkapnya tiga eks pimpinan BGN (Badan Gizi Nasional) atas tuduhan korupsi. Apa BEM Bersatu itu mau bela koruptor?" pungkas Guntur.

Tudingan Jaringan Politik oleh BEM Fakultas Bersatu

Sebelumnya, dalam konferensi pers yang sama, Rahmat Djimbula menyatakan adanya dugaan kedekatan Tiyo Ardianto dengan jaringan politik tertentu berdasarkan fasilitas mobil dan kehadiran tokoh politik.

"Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politikus PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar Rahmat.

Rahmat menambahkan, indikasi kedekatan tersebut juga terlihat dari rencana kehadiran Tiyo dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung pada 18 Juni 2026 bersama tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dr Tifa, serta Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.

Sikap dan Tuntutan BEM Fakultas Bersatu

Rahmat menegaskan bahwa BEM Fakultas Bersatu menolak gerakan mahasiswa yang disusupi kepentingan elite politik demi menjaga kemurnian suara rakyat. Menurutnya, beberapa aksi belakangan ini telah kehilangan arah dan salah menentukan prioritas isu, salah satunya karena menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Di tengah kebutuhan mendasar masyarakat, perhatian justru tersedot pada isu yang tidak menjadi urgensi utama. Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis, yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat, justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan," ucap Rahmat.

"BEM Bersatu akan terus mengawal kemurnian gerakan mahasiswa agar tetap independen, berpihak kepada rakyat, serta bebas dari intervensi elite politik," tambahnya.

Berikut adalah 3 tuntutan utama yang dinyatakan oleh BEM Fakultas Bersatu:

  • Mendesak sterilisasi gerakan mahasiswa dari pendanaan, fasilitas, dan segala bentuk intervensi politik praktis.
  • Mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan catatan perbaikan tata kelola agar tepat sasaran dan akuntabel.
  • Mendukung pengusutan tuntas koruptor tanpa pandang bulu serta mengajak seluruh mahasiswa Indonesia mengawal proses hukum secara kritis dan objektif.

Aliansi BEM Fakultas Bersatu ini diwakili oleh sejumlah pimpinan mahasiswa dari berbagai kampus, di antaranya:

  • Wildan Ricky (Ketua BEM Fakultas Hukum UNISIA)
  • Muhammad Yani (BEM Fakultas Hukum UIJ)
  • Ardi Zulkifly (Ketua BEM FISIP UNAS)
  • Ardiansyah (Ketua BEM Institut Al-Aqidah)
  • Ahmad Ghazy (BEM Psikologi UNJ)
  • Alfi (Ketua BEM FEB UNPAM)
  • Rahmat Djimbula (Ketua BEM Hukum UIC)
  • Dicky (BEM F.IPS Unindra)
  • Ahmad (BEM Fakultas Teknik Universitas BSI)
  • Rezky Anandar (BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI)

(Sumber : Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.