TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Di sejumlah daerah di Jawa Tengah, umumnya warga menyambut 1 Muharam atau 1 Sura dengan tirakatan.
Di Ungaran, Kabupaten Semarang, warga menggelar suranan di tepi jalan protokol.
Deretan tikar mulai membentang di trotoar, di tepi Jalan Letjen Suprapto, Ungaran, saat sore perlahan mendekati petang, Senin (15/6/2026).
Jalan tersebut merupakan salah satu akses utama menuju Exit Tol Ungaran.
Satu per satu warga Dusun Muneng, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Ungaran Timur, datang ke tempat itu, sambil membawa rantang, baskom, hingga kotak berisi makanan.
Di atas tikar itu, ketupat diletakan ditemani aneka lauk, mulai dari opor ayam, tahu campur, hingga masakan rumahan lainnya.
Pemandangan tersebut bagian dari tradisi yang setiap tahun digelar warga RW 02 Dusun Muneng.
Suranan menjadi sebuah tradisi turun-temurun yang tidak hanya dimaknai sebagai tolak bala, tetapi juga sebagai cara masyarakat menutup sekaligus menyambut datangnya Tahun Baru Islam.
Di antara deretan tikar yang membentang di tepi Jalan Letjen Suprapto, Liyana (59) duduk bersila sembari memanjatkan doa untuk para leluhur.
Di hadapannya, tersaji ketupat, sayur pepaya, dan opor ayam.
"Ini ketupat sama sayurnya pepaya dan opor ayam. Kalau biasanya kan banyak yang pakai labu siam, saya cari yang beda, jadi pakai sayur pepaya," ujar Liyana kepada Tribun Jateng.
Bagi Liyana, menu yang dibawa setiap tahun bisa berubah.
Kadang ia memasak tahu campur, kadang menu lainnya.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah, yakni ketupat yang selalu menjadi bagian utama dalam tradisi suranan.
"Menunya berbeda-beda. Kadang tahu campur, tapi tetap kupatnya ada," katanya.
Perempuan yang telah tinggal di Dusun Muneng sejak 1992 itu mengaku tidak pernah absen mengikuti tradisi suranan.
Setiap tahun, ia selalu datang bersama keluarga untuk mengikuti doa bersama dan makan ketupat yang menjadi simbol tolak bala bagi masyarakat setempat.
Bukan sekadar menjalankan tradisi, suranan juga menjadi momen untuk menitipkan harapan menjelang Tahun Baru Islam.
Di tengah kesederhanaan acara, tersimpan doa-doa yang dipanjatkan setiap warga.
"Dengan suranan ini semoga tambah sehat, rezeki lancar, keluarga bahagia semua," ucapnya.
Kumandangkan azan
Ketika seluruh warga berkumpul, sejumlah tokoh masyarakat berdiri dan mengumandangkan azan menghadap ke berbagai penjuru mata angin.
Setelahnya, doa-doa dipanjatkan bersama.
Selain memohon keselamatan untuk tahun yang akan datang, warga juga mengirim doa bagi para leluhur yang diyakini menjadi cikal bakal kampung mereka.
"Ini sudah tradisi setiap tahun warga sini. Jadi, untuk tolak bala ini karena sudah turun-temurun dari dari nenek moyang di wilayah ini memang seperti itu," kata Sugiono (74), ketua RW setempat.
Tradisi ini juga menyimpan simbol yang tak pernah berubah, yakni suguhan ketupat.
Menurut Sugiono, apa pun lauk yang dibawa warga, ketupat wajib hadir di setiap tikar.
Opor ayam, tahu campur, atau lauk lainnya bisa berbeda-beda, tetapi ketupat menjadi penanda utama perayaan suranan di Muneng.
"Yang penting ada ketupatnya. Lauknya menyesuaikan masing-masing keluarga," ujarnya.
Dulu, ketupat bahkan menjadi bagian dari permainan rakyat dalam tradisi ini.
Warga saling melempar ketupat sebagai simbol tertentu yang kini sudah tidak lagi dilakukan.
"Kalau dulu kupat itu balang-balangan. Sekarang tidak, sekarang langsung dimakan bersama. Kalau tidak habis, dibawa pulang," tutur Sugiono.
Kendati demikian, perubahan itu tidak mengurangi makna tradisi. Justru kebersamaan menjadi hal yang paling terasa. (Eka Yulianti Fajlin)