TRIBUNJATENG.COM, INDRALAYA - Kasus pembunuhan menggemparkan Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan (Sumsel).
Remaja bernama Sandino alias Dino (18), ditangkap polisi karena menghabisi nyawa kekasihnya, Yusnani (30).
Sandino menghabisi nyawa pacarnya dengan cara meracun korban.
Baca juga: Wanita Disekap Pacar Selama 3 Tahun, Disiksa hingga Penuh Luka dan Buta
Pelaku nekat karena korban mengaku sedang hamil tiga bulan.
Tidak siap menikah
Sandeno mengaku belum siap secara mental maupun finansial untuk menikahi korban dan memikul tanggung jawab sebagai seorang ayah.
"Belum siap tanggung jawab, belum siap nikah, sudah hamil 3 bulan," tutur Sandino dengan nada datar saat diwawancara pada Senin (15/6/2026).
Tersangka dan korban sendiri menjalin hubungan dengan jarak usia yang terpaut jauh, perbedaan 12 tahun.
Rasa enggan menikahi korban membuat tersangka mematangkan rencana pembunuhan.
Ia kemudian mengajak korban jalan-jalan ke sebuah kawasan perkebunan karet yang sepi.
Di sanalah ia memanfaatkan kepercayaan korban untuk meminum cairan yang telah dicampur dengan racun rumput.
"Setelah saya kasih racun, ia puyeng, kejang, puyeng. Sudah puyeng, muntah-muntah. Pas muntah-muntah itu langsung berbusa mulutnya," ujar tersangka.
Melihat kekasihnya tidak berdaya dan sekarat di area perkebunan, pikiran Sandino langsung tertuju melakukan upaya menyembunyikan perbuatannya.
Ia memanfaatkan situasi sepi di kebun karet untuk merekayasa kematian korban seolah karena mengakhiri hidup.
Ia menggunakan jilbab yang dikenakan korban untuk menggantung jasadnya di sebuah pohon karet.
"Saya gantung di pohon karet. Pakai motor, motor saya standarkan dua. Pas saya sudah standar dua, jilbab itu sudah saya gantung ke atas. Jilbab korban saya buka. Pas sudah itu saya peluk dia, naik ke motor. Sudah saya naik ke motor, langsung saya lilitkan ke lehernya. (Tujuannya) biar dia itu, biar dia ketahuan gantung diri, buat ngilangin jejak," ungkapnya secara gamblang.
Usai memastikan tubuh Yusnani tergantung kaku di pohon karet, tersangka tidak langsung pulang dengan tangan hampa.
Ia turut menggasak barang-barang berharga milik korban, termasuk sepeda motor dan telepon genggam (handphone), dengan niat awal untuk dijual demi keuntungan pribadi.
Namun, dihantui ketakutan, ia akhirnya memutuskan menyembunyikan barang bukti tersebut di sebuah jurang tidak jauh dari tempat kejadian perkara sebelum melarikan diri ke rumahnya.
"Barang-barang korban saya bawa, handphone sama kendaraan. Rencana untuk dijual, tapi belum sempat ditawarkan ke orang-orang. Akhirnya motor dan handphone-nya itu saya masukin ke jurang, ke tempat yang rendah untuk menutupi itu. Setelah itu saya langsung ke rumah untuk menenangkan diri," tambahnya.
Sandino menegaskan bahwa tindakan tersebut lahir sepenuhnya dari isi kepalanya sendiri tanpa ada pengaruh eksternal.
Remaja ini membantah jika dirinya berada di bawah pengaruh narkoba atau minuman keras saat menghabisi nyawa wanita yang telah menemaninya sejak masa di pondok pesantren tersebut.
"(Terinspirasi) dari pikiran sendiri. Saya merencanakan pembunuhan itu kurang lebih tiga hari. Waktu melakukan itu, saya lakukan secara sadar, tidak pakai narkoba atau alkohol," kata Sandino.
Minta maaf
Kini, pelarian Sandino telah berakhir setelah pihak keluarga menyerahkannya kepada Kepala Desa setempat, yang kemudian berkoordinasi dengan Polres Ogan Ilir.
Sandino mengaku selalu dibayangi wajah korban setiap malam.
"Setiap malam teringat wajah korban, terbayang-bayang. Saya memohon maaf kepada keluarga korban, saya akan mengakui kesalahan saya. Kepada masyarakat, jangan dicontoh kelakuan seperti saya, tidak baik," sesal Sandino.
Selain itu, tersangka juga berkomitmen akan menjalani hukuman sebagai tanggung jawab atas perbuatannya.
Polisi menjerat tersangka dengan pasal berlapis yang berat, yakni Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup, serta pasal terkait pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian.
Kejanggalan pohon tinggi dan simpul jilbab
Penemuan jasad korban bermula dari laporan masyarakat pada Kamis pagi di areal perkebunan PT swasta, Kecamatan Rambang Kuang.
Begitu menerima laporan, Satreskrim Polres Ogan Ilir bersama Unit Inafis langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan olah TKP awal.
Dari hasil analisis forensik dan visual di lapangan, petugas langsung mengendus adanya ketidakwajaran pada posisi kematian korban.
Korban ditemukan tergantung di atas sebuah pohon karet yang cukup tinggi.
Secara logis, pihak kepolisian menilai pohon tersebut tidak akan bisa dipanjat atau dinaiki sendiri oleh seorang perempuan tanpa adanya alat bantu.
"Hasil olah TKP yang dilaksanakan oleh identifikasi bahwasanya kematian korban itu bukan bunuh diri alias tidak wajar. Di sana juga tidak ada alat bantu lain," katanya.
Polisi juga menemukan keganjilan pada simpul ikatan jilbab yang digunakan untuk menggantung korban.
Selain itu, tanda-tanda fisik pada jasad korban sama sekali tidak menunjukkan karakteristik umum dari seseorang yang murni melakukan aksi gantung diri.
"Jadi kita lihat juga kondisi mayat korban seperti itu bukan tanda-tanda orang yang melakukan bunuh diri," jelas Kasat Reskrim Polres Ogan Ilir, AKP Mukhlis.
Berangkat dari kesimpulan bahwa kasus ini adalah pembunuhan, polisi langsung melakukan profiling terhadap orang-orang terdekat korban.
Berkat analisis cepat dan bantuan informasi dari masyarakat, kecurigaan kuat langsung mengarah kepada Sandino, yang merupakan pacar brondong korban.
Pengejaran intensif yang melibatkan Anggota Satreskrim dan Polsek Muara Kuang langsung dilakukan.
Petugas berhasil melacak keberadaan pelaku yang sudah melarikan diri ke wilayah Kabupaten Muara Enim.
Hanya dalam waktu sekitar 9 jam dari pertama kali TKP diidentifikasi, Sandino berhasil diringkus di rumahnya tanpa melakukan perlawanan.
Pelaku langsung mengakui seluruh perbuatannya setelah polisi menyodorkan sejumlah alat bukti kuat yang ditemukan di lapangan.
Setelah korban pingsan akibat racun, barulah pelaku mempraktikkan trik gantung diri menggunakan jilbab yang ia pelajari dari tontonan media demi menghapus jejak kejahatannya. (*)
Baca juga: Janda Juru Masak Ponpes Dibunuh dalam Kondisi Hamil, Kisah Cinta Rahasia dengan Santri Terungkap