Penghapusan jurusan ternyata bukan hanya kebijakan yang ramai diperbincangkan di Indonesia. Di China, kampus-kampus juga berusaha menghapus hingga 12.000 jurusan.
Jurusan-jurusan tersebut dinilai telah usang dan tidak selaras dengan tujuan pembangunan nasional. Pemerintah China kini berfokus pada jurusan di bidang teknologi.
Mengutip South China Morning Post, pada 2021 dan 2025 lembaga pendidikan China telah mencabut dan menangguhkan 12.200 program sarjana. Setelah itu, mereka membuka 10.200 program baru.
Berfokus pada Jurusan Teknologi
Pemerintah China melihat bahwa pergeseran teknologi karena kecerdasan buatan (AI) semakin nyata. Oleh karena itu, jurusan-jurusan baru tersebut berfokus pada kemajuan teknologi.
Realita tersebut juga dicerminkan oleh pasar kerja di China. Jumlah mahasiswa yang lulus lebih banyak daripada sebelumnya.
Namun, mereka sulit menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Angka pengangguran di sana juga mencapai 16%.
Imbasnya, beberapa kampus mulai menjauhi jurusan yang kurang relevan dengan perekonomian saat ini. Misalnya, jurusan di bidang seni, humaniora, bahasa asing, dan manajemen.
AI Jadi Acuan Pembukaan Jurusan
Beberapa prodi baru yang diperkenalkan banyak di bidang embodied intelligence. Bidang tersebut menggabungkan mesin fisik dan AI.
Sebanyak sembilan universitas telah meluncurkan jurusan tersebut. Hal ini selaras dengan instruksi pemerintah untuk mengintegrasikan AI ke dalam bidang ekonomi.
Para ahli menyerukan agar kampus melakukan reformasi yang lebih mendalam dan benar-benar sesuai dengan perkembangan zaman. Alih-alih menambah atau menghapus jurusan, para ahli berpendapat agar sistem pendidikan lebih fleksibel.
Harapannya, mahasiswa bisa memilih mata kuliah sesuai dengan kebutuhan industri. Namun, mereka juga bisa mempelajari keterampilan dalam teknologi.





