Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Ksatria Airlangga yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) bersama Aliansi Mahasiswa Unair akan menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (17/6/2026).
Aksi tersebut diperkirakan diikuti sekitar 400 hingga 500 mahasiswa yang akan menyampaikan 16 tuntutan kepada pemerintah.
Ini merupakan rangkaian demo mahasiswa di Indonesia pada pertengahan Juni 2026 berlangsung serentak di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya.
Aksi ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo–Gibran, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, serta kenaikan harga BBM.
Demonstrasi ini digelar sebagai bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dievaluasi. Selain mahasiswa Unair, aksi tersebut juga terbuka bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain yang ingin bergabung.
BEM Unair menyebut aksi di Grahadi tidak hanya ditujukan kepada pemerintah daerah, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat mengenai berbagai persoalan nasional yang dinilai perlu mendapatkan perhatian bersama.
Aksi dijadwalkan dimulai pukul 14.00 WIB dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan Unair. Massa juga akan membawa berbagai isu yang berkaitan dengan demokrasi, pemberantasan korupsi, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, hingga perlindungan hak-hak sipil.
Baca juga: 16 Tuntutan Demo BEM Unair dan BEM SI Jatim di Surabaya, Presiden BEM Unair: Negara Sedang Tak Baik
Presiden BEM Unair, M Rizqi Senja Virawan, mengatakan sekitar 400 hingga 500 mahasiswa dipastikan mengikuti aksi tersebut. Pihaknya juga membuka kesempatan bagi mahasiswa dari kampus lain untuk ikut menyuarakan aspirasi.
"Insyaallah nanti ada 400 sampai 500 yang akan datang dari teman-teman Unair. Cuma nanti barangkali ada kampus lain yang akan bergabung juga, kami sangat terbuka," ujarnya.
Menurut Rizqi, terdapat 16 tuntutan yang akan dibawa dalam aksi. Namun, dua isu utama yang menjadi fokus massa adalah penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta pencabutan Undang-Undang Polri dan Undang-Undang TNI.
Selain itu, mahasiswa juga menuntut penguatan integritas dan independensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), percepatan pembahasan dan pengesahan RUU Perampasan Aset serta RUU Masyarakat Adat, hingga penghentian tindakan represif aparat terhadap masyarakat sipil.
Tuntutan lainnya meliputi penolakan militerisme, jaminan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers, pembebasan tahanan politik, pemerataan akses pendidikan dan kesehatan, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik serta tenaga kesehatan, hingga penghentian praktik eksploitasi buruh dan diskriminasi gender di dunia kerja.
Rizqi menjelaskan pemilihan Gedung Grahadi sebagai lokasi demonstrasi bukan semata-mata untuk bertemu pejabat pemerintah.
Menurutnya, tujuan utama aksi adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang dinilai tengah dihadapi Indonesia.
"Jadi kami memang tidak mengincar bahwa nanti akan ada pejabat yang turun untuk menandatangani apapun itu di Grahadi. Kami mengincar bahwasanya nanti masyarakat Surabaya akan tahu dan akan lebih sadar bahwasanya negara hari ini itu sedang tidak baik-baik saja," katanya.
Sementara itu, Presiden BEM Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Birbik Arya Fairuzzamani, menyatakan pihaknya juga akan mengerahkan massa mahasiswa untuk bergabung dalam aksi di Grahadi.
Ia mengatakan koordinasi antara BEM Unesa dan BEM Unair telah dilakukan, termasuk terkait substansi tuntutan yang akan disampaikan.
"Iya inshaallah (demo di Grahadi), kami sudah konsolidasi dengan BEM Unair. Terkait tuntutannya juga," pungkasnya.