Bupati Takalar Luncurkan Assamaturu Bebas TBC, Bentuk 110 Pos hingga Tingkat Desa
Ansar June 17, 2026 01:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR – Pemerintah Kabupaten Takalar meluncurkan program Assamaturu Bebas TBC di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Rabu (17/6/2026).

Assamaturu singkatan Aksi Sistematis Masyarakat untuk Tuntaskan TBC.

Program ini mengusung tema "Bersama Kita Wujudkan Takalar Bebas TBC 2030."

Gerakan melibatkan Duta Assamaturu di seluruh desa dan kelurahan.

Peluncuran dipimpin Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye.

Hadir Wakil Bupati Takalar Hengky Yasin, Kepala Dinas Kesehatan Takalar dr Nilal Fauziah, camat, kepala puskesmas, kepala desa, lurah, kader kesehatan, dan para duta.

BEBAS TBC – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye
BEBAS TBC – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menyampaikan sambutan saat peluncuran program ASSAMATURU Bebas TBC di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Rabu (17/6/2026). Program ini menjadi gerakan kolaboratif untuk mempercepat penanggulangan Tuberkulosis (TBC) hingga tingkat desa dan kelurahan.

Daeng Manye menyebut Assamaturu sebagai langkah nyata mempercepat penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Takalar.

"Ini langkah yang sangat taktis karena langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," katanya.

Data Dinas Kesehatan Takalar mencatat lebih dari 1.200 penderita TBC.

Kasus terbanyak berada di Kecamatan Pattallassang, Sanrobone, dan Galesong.

Mayoritas merupakan TBC paru.

Penyakit ini menular melalui percikan dahak di udara.

Daeng Manye mengimbau warga segera memeriksakan diri bila mengalami batuk berkepanjangan.

"Kalau ada gejala batuk terus-menerus, segera ke puskesmas atau dokter agar diperiksa lebih cepat," ujarnya.

Ia mengingatkan pasien menjalani pengobatan selama enam bulan tanpa putus.

Pengobatan yang terhenti sebelum waktunya berisiko membuat pasien mengulang terapi dari awal.

Daeng Manye menargetkan penurunan kasus TBC hingga 50 persen pada 2030.

Menurutnya, jumlah penderita saat ini belum menggambarkan kondisi sebenarnya.

Ia mengibaratkan TBC seperti fenomena gunung es.

Kasus yang terdata hanya sebagian kecil.

Masih banyak penderita belum terdeteksi.

"Fenomena TBC ini seperti gunung es. Yang terlihat hanya sebagian, sementara yang belum teridentifikasi bisa jadi jauh lebih banyak," katanya.

Pemerintah Kabupaten Takalar membentuk 110 Pos TBC di seluruh desa dan kelurahan.

Pos ini menjadi pusat edukasi, skrining, pendampingan pasien, dan layanan awal.

Duta Assamaturu menjadi ujung tombak program.

Mereka bertugas mendata warga, mendampingi pasien, memetakan wilayah rawan penularan, serta mengedukasi masyarakat tentang pola hidup sehat dan sanitasi lingkungan.

Daeng Manye menilai lingkungan kurang sehat ikut mempercepat penyebaran TBC.

Karena itu, penanganan tidak cukup melalui pengobatan.

Perbaikan sanitasi lingkungan juga menjadi perhatian.

Pemerintah daerah turut mendorong digitalisasi pendataan pasien, pelaporan, pemantauan pengobatan, dan evaluasi program.

Evaluasi digelar setiap tiga bulan.

"Komitmen kita jelas. Prevalensi TBC harus turun dan target 50 persen pada 2030 harus tercapai," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Takalar, dr Nilal Fauziah, mengatakan Assamaturu menjadi inovasi daerah untuk mendukung program eliminasi TBC nasional.

Menurutnya, Assamaturu mencerminkan semangat bekerja dan bergerak bersama.

Program melibatkan seluruh unsur heptahelix, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat.

"Kami berharap gerakan ini mampu mewujudkan Takalar bebas TBC melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat," ujarnya.

Ia optimistis target Takalar Bebas TBC 2030 dapat tercapai melalui gerakan terstruktur hingga tingkat desa dan kelurahan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.