TRIBUNSUMSEL.COM - Nama Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon dari Fraksi Gerindra, Nana Kencanawati, tengah ramai diperbincangkan menuai kritikan publik.
Sebelumnya, Nana Kencanawati viral setelah kedapatan melontarkan kalimat diduga hinaan kepada seorang ibu yang menyuarakan penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dikutip Tribunsumsel.com, Nana Kencanawati menuliskan komentar, "Lagian siapa yang mau ngasih lo makan?? udah GEMBROT!!."
Komentar itu dinilai menyerang fisik seorang ibu rumah tangga bernama Made Nok yang sebelumnya mengkritik Program Makan Bergizi Gratis atau MBG saat aksi demonstrasi di depan DPRD Kota Cirebon.
Baca juga: Ini Dugaan Kebohongan Sony Sonjaya Picu Elza Syarief Mundur, Sempat Bersumpah Bersih Korupsi
Polemik ini kemudian memunculkan kritik dari berbagai kalangan karena seorang pejabat publik dinilai tidak semestinya membalas aspirasi warga dengan komentar bernada merendahkan fisik.
Setelah polemik mencuat, akun media sosial pribadi Nana diketahui diubah menjadi privat. Sementara komentar yang menjadi sorotan publik telah dihapus dari unggahan terkait.
Nana Kencanawati merupakan politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Ia bukan figur baru dalam dunia politik Kabupaten Cirebon.
Nana saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon periode 2024–2029.
Ia merupakan salah satu dari tiga pimpinan DPRD yang mendampingi Ketua DPRD Kabupaten Cirebon.
Sebelum menduduki kursi pimpinan DPRD, Nana terlebih dahulu menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Cirebon periode 2019–2024.
Pada Pemilu Legislatif 2024, ia kembali memperoleh kepercayaan masyarakat dan terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Cirebon dengan raihan sekitar 13.331 suara.
Baca juga: Profil Elza Syarief, Mundur dari Kuasa Hukum Sony Sonjaya Tersangka Korupsi MBG
Nana terpilih dari Daerah Pemilihan (Dapil) Cirebon 6 yang meliputi Kecamatan Ciledug, Karangsembung, Karangwareng, Lemahabang, Pabuaran, Pasaleman, dan Waled.
Selama berkiprah sebagai legislator, Nana kerap menyampaikan pandangan terkait sejumlah isu strategis daerah, mulai dari ketenagakerjaan, transparansi pengelolaan aset daerah, hingga kebijakan pembangunan yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon dari Fraksi Gerindra, Nana Kencanawati, meminta maaf setelah komentarnya di media sosial viral dan menuai kecaman publik.
Ia mengakui bahwa respons yang ditulisnya tidak tepat dan telah menyinggung perasaan masyarakat.
Komentar itu dinilai menyerang fisik seorang ibu rumah tangga bernama Made Nok yang sebelumnya mengkritik Program Makan Bergizi Gratis atau MBG saat aksi demonstrasi di depan DPRD Kota Cirebon.
Dilansir dari Kompas.com, polemik ini berakar dari aksi demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa Cirebon di depan Gedung DPRD Kota Cirebon pada Senin (15/6/2026).
Dalam aksi tersebut, seorang ibu yang akrab disapa Mak Denok turut naik ke mimbar orasi untuk menyuarakan penolakannya terhadap program MBG.
Ia meminta pemerintah lebih memprioritaskan pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan pokok masyarakat.
"Saya mewakili emak-emak ikut unjuk rasa, banyak anak yang tidak bisa meneruskan pendidikan, hentikan MBG. Kami hanya butuh pendidikan murah, kesehatan murah, sandang pangan murah," teriak Made Nok saat berorasi.
Baca juga: Polisi Tangkap Pria yang Dorong Karina Ranau Istri Epy Kusnandar, Korban Trauma dan Ogah Bertemu
Video orasi itu kemudian diunggah sejumlah media massa dan menyebar di media sosial.
Alih-alih menyikapi kritik dengan bijak sebagai wakil rakyat, politisi Partai Gerindra ini justru menuliskan komentar yang dinilai arogan dan menyerang fisik sang orator.
"Lagian siapa yang mau ngasih lo makan????" tulis Nana dalam tangkapan layar yang beredar luas pada Selasa (16/6/2026).
Tak berhenti di situ, ia menambahkan komentar lanjutan yang menyerang bentuk tubuh: "Udah G****T!!!"
Komentar itu kemudian dihapus.
Namun, tangkapan layarnya sudah telanjur tersebar luas dan memicu kritik publik.
Setelah komentar tersebut ramai diperbincangkan, akun media sosial Nana diketahui menutup kolom komentar.
Akun tersebut juga mengubah pengaturan menjadi privat.
Langkah itu terjadi setelah kritik terhadap dugaan body shaming oleh pejabat publik semakin banyak muncul di media sosial.
Sadar tindakannya memicu kecaman yang terus mengalir, ia meminta maaf atas kekhilafannya dalam bermedia sosial dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam menjaga komunikasi di ruang publik digital.
"Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu yang bersangkutan, keluarga, serta seluruh masyarakat atas komentar yang saya tuliskan di media sosial," tulis Nana, dikutip Rabu (17/6/2026).
Nana mengakui komentar tersebut tidak tepat dan tidak mencerminkan sikap yang seharusnya ditunjukkan pejabat publik.
"Komentar tersebut tidak tepat, tidak mencerminkan sikap yang seharusnya saya tunjukkan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta ketersinggungan bagi banyak pihak. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih bijak, berhati-hati dan menghormati setiap warga dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial," tulisnya.
Nana juga menyatakan akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik, termasuk melalui media sosial.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyangkut relasi pejabat publik dengan warga yang menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
(*)