Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nazhir Masjid Agung Bandung saat ini tengah mempersiapkan program Green Energy melalui pemanfaatan energi surya untuk mendukung kebutuhan listrik di masjid bersejarah ini.
Untuk saat ini kebutuhan listrik Masjid Agung Bandung, masih bergantung pada Perusahaan Listrik Negara (PLN), sehingga program Green Energy dinilai jadi salah satu solusi untuk menekan biaya operasional.
Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, mengatakan, penggunaan panel surya diharapkan mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon.
"Masjid harus menjadi contoh dalam pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Karena itu, kami mulai mengkaji penggunaan energi terbarukan agar operasional masjid menjadi lebih efisien sekaligus ramah lingkungan," ujar Roedy, Rabu (17/6/2026).
Bagi Nazhir Masjid Agung Bandung, program tersebut merupakan bentuk nyata penerjemahan semangat hijrah dalam kehidupan modern. Hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perubahan spiritual, tetapi juga perubahan sosial yang menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.
Melalui penguatan ekonomi syariah, pembangunan ekosistem lingkungan hidup berbasis jamaah, gerakan penghijauan, serta pengembangan energi hijau, Masjid Agung Bandung berupaya menegaskan kembali peran masjid sebagai pusat kemakmuran umat dan pusat peradaban Islam.
"Dari sinilah peradaban dibangun. Berawal dari masjid, tumbuh melalui umat, lalu memberi manfaat bagi masyarakat dan bangsa," katanya.
Selain Green Energy, Nazhir Masjid Agung Bandung juga saat ini tengah menyiapkan program Eco Masjid yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Roedy mengatakan, program ini akan menjadikan Masjid Agung Bandung sebagai pusat distribusi bibit tanaman kepada jamaah dan masyarakat. Bibit tersebut nantinya dirawat menggunakan air bekas wudhu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
"Dari masjid, bibit-bibit tersebut diharapkan menyebar ke rumah-rumah jamaah, sekolah, ruang publik, dan lingkungan permukiman. Sehingga membentuk gerakan penghijauan yang melibatkan masyarakat secara luas," ucap Roedy.
Menurut Roedy, langkah tersebut merupakan bagian dari pembangunan ekosistem lingkungan hidup berbasis jamaah karena pihaknya ingin menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi pelopor perubahan positif.
"Seperti air wudhu yang selama ini terbuang dapat dimanfaatkan untuk merawat bibit tanaman yang nantinya ditanam jamaah di lingkungan masing-masing. Ini merupakan langkah sederhana tetapi memiliki dampak sosial dan lingkungan yang besar," katanya.
Roedy mengatakan, berbagai arahan yang disampaikan oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla tentunya menjadi inspirasi dalam memperkuat peran masjid di tengah masyarakat modern.
"Kami ingin mengembangkan program-program yang tidak hanya berfokus pada fungsi ibadah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta peningkatan kesejahteraan umat," ujar Roedy.
Bahkan program green energy dan Eco Masjid tersebut mendapat dukungan penuh dari Jusuf Kalla. Ia berharap masjid-masjid di Indonesia dapat mengambil peran aktif dalam program penghijauan dan penanaman pohon sebagai bagian dari tanggungjawab bersama menjaga lingkungan.
"Membangun peradaban tidak hanya berkaitan dengan pembangunan manusia dan ekonomi, tetapi juga bagaimana umat menjaga kelestarian alam sebagai amanah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang," katanya.