SURYA.co.id, SURABAYA – Di tengah ratusan wisudawan Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya yang dikukuhkan pada Wisuda Sarjana Angkatan LIX dan Magister Angkatan XXXIV Tahun 2026, Rabu (17/6/2026), sosok Lusy Sukmawati menjadi perhatian.
Perempuan berusia 56 tahun itu tercatat sebagai wisudawan sarjana tertua dalam prosesi wisuda yang diikuti 207 lulusan tersebut.
Lusy berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Hukum di tengah kesibukannya bekerja di bidang kesehatan selama 15 tahun terakhir.
Tak hanya itu, ia juga tengah menempuh pendidikan magister yang ditargetkan selesai pada Desember 2026.
Baginya, usia bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru pendidikan menjadi bekal untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kontribusi kepada masyarakat.
"Saya akan terus berjuang dan selalu berusaha menjadi lebih baik lagi," ujarnya sambil menahan haru usai prosesi wisuda.
Lusy mengungkapkan, keputusan mengambil program studi Ilmu Hukum berangkat dari pekerjaannya di bidang manajemen kesehatan.
Baca juga: Ingatkan Bahaya Narkoba Jenis Baru, Mahasiswa Fisip Ubhara Gelar Seminar untuk Pelajar
Menurutnya, aspek hukum memiliki peran penting dalam operasional rumah sakit maupun klinik sehingga pemahaman hukum sangat dibutuhkan.
"Saya bekerja di bidang kesehatan dan di situ sangat rawan dengan persoalan hukum. Ilmu ini sangat berguna untuk membantu membackup dokter maupun karyawan," katanya.
Gelar Sarjana Hukum yang diraih merupakan gelar sarjana keduanya.
Sebelumnya, ia telah menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Bimbingan dan Penyuluhan.
Saat ini, ia juga sedang menyelesaikan studi magister.
Meski harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kuliah, Lusy mengaku tidak mengalami kendala berarti.
Bahkan, keberadaannya di kelas yang didominasi mahasiswa generasi muda justru menjadi penyemangat bagi teman-temannya.
"Saya sering bilang ke mereka, saya saja masih kuat dan masih semangat. Mereka juga harus tetap semangat. Kadang malah mereka yang bertanya kepada saya soal tugas," tuturnya.
Dalam penyusunan tugas akhir, Lusy tetap memilih tema yang berkaitan dengan dunia kesehatan.
Penelitian yang ia lakukan membahas aspek hukum dalam penyelenggaraan layanan kesehatan di rumah sakit maupun klinik.
Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor yang membuatnya mampu menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana kedua.
Menurutnya, keluarga selalu memberikan dukungan penuh selama proses perkuliahan berlangsung.
Saat ini, Lusy bertugas di bagian manajemen sebuah klinik rehabilitasi medik di Surabaya.
Ia berharap ilmu hukum yang diperolehnya dapat semakin memperkuat pengabdiannya di bidang kesehatan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Rektor Ubhara Surabaya, Irjen Pol (Purn) Anton Setiadji, menilai semangat belajar yang ditunjukkan Lusy menjadi contoh bahwa pendidikan tinggi tidak mengenal batas usia.
Menurutnya, keberhasilan para wisudawan menyelesaikan studi merupakan bukti komitmen untuk terus meningkatkan kapasitas diri di tengah dinamika kehidupan dan dunia kerja.
Dalam wisuda yang mengukuhkan 207 lulusan program sarjana dan magister tersebut, Anton juga mengingatkan seluruh alumni agar tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar akademik.
"Jangan berpuas diri. Teruslah meningkatkan kemampuan, tetap rendah hati, hindari sikap angkuh, dan tingkatkan daya saing, baik untuk memasuki dunia kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Anton.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks sehingga dibutuhkan kemampuan beradaptasi, kemauan belajar sepanjang hayat, serta integritas dalam mengabdikan ilmu kepada masyarakat.
"Kami berharap para lulusan dapat menjaga nama baik almamater dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara," katanya.