Hari Raya Galungan: Makna Kemenangan Dharma dan Sejarah yang Telah Berlangsung Sejak 882 Masehi
Putu Dewi Adi Damayanthi June 17, 2026 02:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Hari Raya Galungan 2026 dirayakan hari ini, Rabu 17 Juni 2026.

Di Bali, Hari Raya Galungan merupakan perayaan keagamaan yang cukup besar.

Anda dapat melihat penjor berjejer di pinggir jalan saat Galungan.

Biasanya umat Hindu Bali akan melakukan persembahyangan hingga berkumpul bersama keluarga saat Hari Raya Galungan.

Secara filosofis, Galungan merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta seluruh isinya sekaligus perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma.

Baca juga: Selamat Galungan! Harga Emas Batangan Hari Ini 17 Juni 2026 di Galeri24 Bali, 1 Gram Rp2.725.000

Galungan juga merupakan momentum refleksi untuk menilai apakah pikiran, perkataan, dan tindakan yang dilakukan selama ini telah berada di jalan Dharma.

Galungan mempunyai sejarah yang panjang. Menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) pada tahun 882 Masehi atau 804 Saka.

Dalam lontar tersebut, disebutkan bahwa perayaan ini berlangsung pada saat Pulau Bali digambarkan sebagai Indra Loka, tempat yang penuh dengan keindahan dan kebahagiaan, yang mencerminkan harmoni dan kesejahteraan spiritual masyarakat Bali pada masa itu.

Umat Hindu melakukan persembahan ke hadapan Sang Hyang Widi dan Dewa/Bhatara dengan segala manifestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk keselamatan selanjutnya.

Perayaan ini tidak hanya sebagai ungkapan syukur umat Hindu kepada Sang Hyang Widhi dan para dewa, tetapi juga sebagai momentum untuk mengingatkan diri akan pentingnya menjaga keseimbangan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan penjor yang dipasang di muka tiap-tiap perumahan merupakan persembahan ke hadapan Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung.

Galungan mengajarkan bahwa kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan keberhasilan menundukkan sifat-sifat negatif dalam diri sendiri. 

Sebab ketika Dharma mampu ditegakkan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, saat itulah kemenangan sejati sesungguhnya telah diraih.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.