WARTAKOTALIVE.COM, CIPAYUNG - Jajaran Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur mengumpulkan ratusan pengusaha di SMKN 24 Jakarta untuk berkolaborasi mengelola sampah dengan cara membuat lubang biopori, Rabu (17/6/2026).
Camat Cipayung, Diman menjelaskan, para pengusaha di wilayahnya dikumpulkan agar mendukung program Gubernur DKI Pramomo Anung dan Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin dalam pengolahan sampah organik.
"Kenapa organik? Karena organik itu butuh penanganan ekstra, tidak seperti sampah anorganik. Gitu.
Jadi mereka nanti diminta untuk partisipasi. Jadi para pengusaha tadi sangat mendukung program ini, ya. Bahkan mereka siap untuk dibuatkan atau kolaborasi membuat lubang biopori, lubang biopori jumbo di tempat-tempat usahanya," kata Diman, Rabu.
Salah satunya adalah PO Sahara Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur yang bersedia membuat biopori jumbo.
Baca juga: OMG Ajak Warga dan Pemuda Bersama-sama Serukan Gerakan 100 Biopori untuk Mitigasi Banjir
Nantinya, lanjut Diman, pembuatan lubang akan dilakukan oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).
Sementara para pengusaha menyediakan hong atau tong dan beton itu untuk dimasukan ke dalam lubang biopori jumbo tersebut.
"Kalau dari antusias dari para pengusaha sih mayoritas memang siap mendukung, gitu ya. Dari teman-teman Green Tera, dari Kedai Mance, dari pondok pesantren, dari Gereja HKBP, dari resto oke semua," jelasnya.
Para pengusaha di Kecamatan Cipayung meminta kepada jajaran Pemkot Jakarta Timur untuk memgawasi secara rutin biopori jumbo tersebut.
Tujuannya adalah agar pengolahan sampah yang telah dijalani para pengusaha bisa terus berjalan dan merasa diperhatikan oleh pemerintah.
Baca juga: Soroti Krisis Sampah Jakarta, Yuke Yurike: Penghentian Open Dumping Jadi Momentum Benahi Sistem
"Tong plastiknya atau bahan material dari beton, bis beton atau hong itu dari teman-teman para pengusaha. Jadi kita ini modal tenaga, karena kita kan punya PPSU, punya teman-teman PJLP. Jadi di mana saja asalkan per, lahan enggak permasalahan, langsung kita tindak lamjuti saja, langsung," ungkapnya.
Menurut Diman, satu lubang memiliki diameter kedalaman sekira satu meter dengan lebar sekira 50 sampai 60 sentimeter.
Saat ini, biopori komunal yang telah direncanakan ada di Pondok Pesantren Ah-Hamid karena di sana dihuni oleh ribuan santri dan pastinya hasilkan sampah cukup banyak.
"Untuk nanti kedepannya mungkin nanti kita buatin ke Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin Lubang Buaya," imbuhnya. (*)