Tak Peduli Kesepakatan AS-Iran, Israel Isyaratkan Tetap Berada di Lebanon dalam Jangka Waktu Lama
Garudea Prabawati June 17, 2026 03:34 PM

TRIBUNNEWS.COM - Tentara Israel dilaporkan bersiap untuk kehadiran yang berkepanjangan di Lebanon meskipun ada kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengakhiri perang di berbagai front.

Menurut laporan stasiun penyiaran publik Israel, KAN, yang mengutip sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya, tentara Israel "siap untuk tetap berada di Lebanon dalam jangka waktu lama" jika diperintahkan demikian.

Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa militer siap menghadapi “semua skenario di Lebanon,” bahkan ketika AS dan Iran bergerak menuju penandatanganan perjanjian pada Jumat (19/6/2026) di Swiss.

Menurut laporan tersebut, serangan Israel di Lebanon selatan masih berlanjut bersamaan dengan tembakan yang mengarah ke Israel utara.

Laporan itu muncul beberapa jam setelah Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan bahwa nota kesepahaman antara AS dan Iran mencakup komitmen untuk menghentikan eskalasi militer di seluruh wilayah, termasuk Lebanon.

Ketegangan regional meningkat pada akhir Februari 2026 setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Iran menanggapi dengan serangan terhadap negara-negara Teluk dan Israel, serta pembatasan lalu lintas melalui Selat Hormuz.

AS dan Iran mencapai gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan sebelum mengumumkan kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri konflik.

Kesepakatan tersebut diperkirakan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni 2026.

Israel telah melancarkan serangan terhadap Lebanon sejak 2 Maret 2026 yang telah menyebabkan ribuan orang tewas dan terluka serta lebih dari 1 juta orang lainnya mengungsi, menurut angka resmi terbaru.

Israel menduduki wilayah di Lebanon selatan, beberapa di antaranya selama beberapa dekade dan lainnya sejak perang sebelumnya antara tahun 2023 dan 2024.

Selama serangan saat ini, pasukan Israel maju lebih dari 10 kilometer (6,2 mil) ke wilayah Lebanon.

Baca juga: Kesepakatan AS-Iran Dianggap Jadi Pengubah Permainan, PM Kanada: Melebihi Ekspektasi Saya

Iran Minta Israel Menarik Diri dari Lebanon

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada hari Selasa bahwa berakhirnya perang regional harus mencakup berakhirnya konflik di Lebanon, termasuk "berakhirnya pendudukan" atas tanah Lebanon.

Araghchi menambahkan bahwa setiap serangan Israel terhadap Lebanon atau pendudukan berkelanjutan atas tanah Lebanon “menurut pandangan kami, akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman.”

Kesepakatan antara AS dan Iran ini belum dipublikasikan, dan para pejabat terkadang memberikan interpretasi yang kontradiktif mengenai isinya.

Meskipun Israel bukan pihak dalam perjanjian tersebut, Israel tetap terlibat dalam perang setelah bergabung dengan AS dalam melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Israel juga telah memerangi kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon dan merebut sebagian besar wilayah negara tersebut.

KERUSAKAN DI LEBANON - Tangkap layar YouTube AlJazeera Arabic 19 April 2026 memperlihatkan warga Lebanon kembali ke rumah mereka setelah gencatan senjata.
KERUSAKAN DI LEBANON - Tangkap layar YouTube AlJazeera Arabic 19 April 2026 memperlihatkan warga Lebanon kembali ke rumah mereka setelah gencatan senjata. (Tangkap layar YouTube AlJazeera Arabic)

Tanggapan Hizbullah

Kelompok militan Hizbullah mengatakan mereka yakin Iran tidak akan menandatangani kesepakatan nuklir final dengan Amerika Serikat (AS) kecuali Israel menarik diri dari Lebanon, Selasa (16/6/2026).

Diplomat utama Iran mengatakan kehadiran pasukan Israel yang berkelanjutan di Lebanon akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman AS-Iran.

Sementara itu, pasukan Israel masih menduduki sebagian besar wilayah di Lebanon selatan yang mereka rebut dalam kampanye udara dan darat selama tiga bulan melawan Hizbullah, yang dimulai setelah kelompok yang didukung Iran itu menembaki Israel pada 2 Maret 2026 sebagai bentuk dukungan kepada Teheran.

Pertempuran di Lebanon telah mereda secara signifikan setelah nota kesepahaman Iran-AS, tetapi belum berhenti sepenuhnya, dan Israel mengatakan pasukan akan tetap berada di selatan negara itu.

Baca juga: Iran akan Diizinkan Jual Minyak Sesuai Kesepakatan dengan AS, Sanksi Dicabut setelah Ada Perjanjian

Saat ini, Hizbullah telah menentang pendudukan Israel yang berkelanjutan.

Kantor media kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka memahami bahwa Iran akan menuntut penarikan Israel sebagai bagian dari putaran pembicaraan AS-Iran berikutnya, yang akan dimulai setelah keduanya secara resmi menandatangani nota kesepahaman mereka pada Jumat (19/6/2026) mendatang.

Pembicaraan tersebut dijadwalkan untuk membahas isu-isu sulit seperti masa depan program nuklir Iran.

“Kami yakin tidak akan ada kesepakatan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat jika Israel tidak menarik diri,” kata kantor media Hizbullah kepada Reuters, ini adalah kali pertama kelompok tersebut mengaitkan penarikan Israel dengan kemungkinan kesepakatan nuklir.

Pernyataan itu juga menyebutkan telah menerima jaminan dari Iran bahwa setiap pelanggaran gencatan senjata Lebanon oleh Israel akan memengaruhi negosiasi yang akan datang tersebut.

Mempersulit Kesepakatan

Dilansir AP News, Pakistan mengatakan kesepakatan itu menyerukan penghentian operasi militer, termasuk di Lebanon.

Namun, seruan Araghchi untuk penarikan Israel menambah kerumitan baru.

Hal ini menempatkan Israel dalam dilema karena mereka berupaya melemahkan kemampuan militer Hizbullah tanpa merusak kesepakatan yang didukung oleh sekutu terpentingnya, Amerika Serikat.

Israel menginvasi Lebanon selatan setelah Hizbullah menembakkan rudal melintasi perbatasan selama minggu pertama perang.

Sejak itu, mereka telah memperluas jejak militer mereka ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade dan menyerang target jauh di dalam Beirut.

Meskipun Hizbullah telah melemah, mereka tetap memiliki kemampuan untuk menyerang Israel, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kampanye Israel.

Baca juga: Masalah Iran Dianggap Rampung, Trump Balik Fokus ke Perang Ukraina-Rusia

Hingga Selasa malam, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum melihat nota kesepahaman antara AS dan Iran, kata seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas detail tertutup.

Sumber lain, yang juga berbicara dengan syarat anonim untuk membahas percakapan pribadi antara Israel dan AS, mengatakan bahwa para pejabat Israel belum meminta nota kesepahaman tersebut kepada para negosiator AS.

Sementara, Gedung Putih menolak berkomentar apakah Netanyahu atau pejabat Israel telah meninjau perjanjian tersebut.

Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, mengatakan kepada NPR bahwa meskipun Israel tidak mengetahui detail kesepakatan tersebut, keterlibatan Lebanon yang tampak jelas adalah "tidak perlu dan tidak membantu."

Besarnya serangan Israel terkadang memicu keretakan publik antara para pemimpinnya.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa dia "tidak senang dengan cara Israel menangani masalah Lebanon dan Hizbullah."

“Strategi Israel ini seolah tak akan pernah berakhir,” katanya.

Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan hampir 4.000 orang, termasuk ratusan warga sipil, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi.

“Israel sudah terlalu lama memerangi Hizbullah, dan terlalu banyak orang yang tewas,” kata Trump.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.