Laporan Wartawan Tribun Gayo, Asnawi Luwi | Aceh Tenggara
TribunGayo.com, KUTACANE – Sebanyak empat murid binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Tenggara yang ditolak masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kutacane dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026, ternyata mampu membaca dengan lancar.
Hal itu diungkap oleh Kepala Disdikbud Aceh Tenggara, Julkifli, S.Pd., M.Pd., Rabu (17/6/2026).
"Kita sudah datang ke SMKN 1 Kutacane dan meminta data anak didik kita yang ditolak dengan alasan tak mampu membaca. Berdasarkan data itu, kita panggil Kepala Sekolah SMPN 1 Bambel, SMPN 3 Kutacane, SMPN 2 Kutacane, serta orang tua murid. Dihadapan mereka, kita tes kemampuan membaca anak-anak, ternyata mereka mampu membaca dengan lancar. Bahkan, dari empat murid itu ada yang juara 10 di SMPN 2 Kutacane. Tetapi tetap ditolak dengan alasan tak mampu membaca,” jelas Julkifli.
Baca juga: Miris, 4 Calon Siswa SMKN 1 Kutacane Ditolak karena Tak Bisa Membaca
Menurut Julkifli, pihaknya menyampaikan ke publik bahwa tidak benar jika empat murid tersebut ditolak karena tidak bisa membaca.
“Program membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) sudah tuntas di tingkat SD. Walaupun pernah ditemukan anak-anak kurang mampu membaca di SMP, hal itu sudah lama dituntaskan berkat bimbingan kepala sekolah dan guru,” katanya.
Ia menambahkan, “Kami merasa kecewa kalau ada anak-anak didik kami tak lulus SPMB dengan alasan tak mampu membaca. Ini memalukan Pemkab Aceh Tenggara, apalagi di bawah kepemimpinan Bupati/Wakil Bupati M Salim Fakhry – Heri Al Hilal yang fokus memajukan pendidikan dan SDM. Kalau ada kendala lain, sampaikan kepada kami agar bisa duduk bersama.”
Pantauan wartawan TribunGayo.com di lapangan yang ikut melakukan tes membaca, keempat murid tersebut memang mampu membaca dengan lancar.
Kepala SMKN 1 Kutacane, Sabri SPd, didampingi Panitia SPMB Syukur Pujianto, mengatakan pendaftaran dibuka secara online pada 30 Maret hingga 30 April 2026.
"Ada sekitar empat orang pendaftar yang terpaksa ditolak karena tidak mampu membaca,” ujar Sabri, Rabu (10/6/2026) lalu.
Namun, ia tidak merincikan asal sekolah keempat calon siswa tersebut.
Ironisnya, dalam proses wawancara juga ditemukan calon siswa yang tidak mampu mengucapkan dua kalimat syahadat. (*)