Harga LPG 3 Kg di Tanahbumbu Tembus Rp 48 Ribu, Asosiasi Pangkalan Sebut Aksi Pelangsir Luar Daerah
Hari Widodo June 17, 2026 09:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Harga gas elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer di wilayah Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan meroket tajam. 

Di pasaran, tabung gas hijau yang akrab disebut "gas melon" ini menembus angka Rp 45 ribu hingga Rp 48 ribu per tabung.

Berdasarkan pantauan di sejumlah kios kecil, keberadaan gas melon kini mulai tak terlihat.

Di lapak para pedagang, situasi justru didominasi oleh pasokan Bright Gas ukuran 5,5 kilogram hingga 12 kilogram berwarna merah muda.

Baca juga: Elipiji 3 Kg Cepat Habis di Pangkalan, Pertamina Klaim Tak Ada Pengurangan Pasokan di Kalsel

Salah seorang pedagang eceran di wilayah Simpang Empat mengakui lonjakan harga tersebut. Dirinya terpaksa menjual di angka Rp 47 ribu sampai Rp 48 ribu per tabung karena kondisi terbatasnya pasokan.

Kondisi serupa juga terlihat di warung kelontong lain di kawasan yang sama, pemilik kios mengaku sudah sepekan terakhir tidak mendapatkan pasokan gas melon dari distributor.

Kebetulan minggu ini habis dan tidak ada lagi yang mengantarkan gas ukuran 3 kilogram. Sekarang yang tersisa hanya gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.

Merespons fenomena ini, Ketua Asosiasi Perkumpulan Pangkalan LPG Tanahbumbu, Abdul Azis, akhirnya angkat bicara.

Menurutnya, stok dan ketersediaan gas 3 kilogram di wilayah Tanahbumbu sebenarnya masih dalam kondisi aman.

“Setahu kami stok kuota LPG 3 kg di Tanahbumbu yang peruntukannya untuk warga miskin (Pengguna Langsung) sudah tercukupi, dan pendistribusian ke pangkalan pangkalan masih Lancar, Tidak ada Hambatan,” kata Abdul Azis.

Terkait harga yang tidak bisa dikontrol, Azis menyebut hal ini akibat aksi oknum pedagang atau pelangsir LPG, mereka mendapatkan barang dari luar wilayah Tanahbumbu lalu menjualnya ke pengecer dengan harga tinggi.

Para pelangsir berdalih ongkos operasional mereka tinggi akibat kenaikan BBM non-subsidi, kondisi inilah yang memaksa para pengecer ikut menaikkan harga jual demi mendapatkan keuntungan.

Azis menambahkan, pengguna penjual eceran ini biasanya berasal dari kalangan menengah ke atas.

Baca juga: Harga Elpiji 3 Kg di HSU Naik, Pedagang Pentol Ini Sebut Isinya Seperti Berkurang

Sementara untuk masyarakat kurang mampu, mereka umumnya sudah mengambil langsung di pangkalan karena telah terdata sebagai penerima manfaat.

Di tingkat pengecer, pihak asosiasi mengaku tidak dapat campur tangan terlalu dalam. Kendati demikian, mereka tetap mengimbau kepada para pengecer agar tidak mematok harga yang terlalu tinggi ke masyarakat.

“Meskipun demikian kita tetap melakukan koordinasi dengan pihak terkait dan monitor harga-harga supaya tidak terlalu mahal. Untuk regulasinya memang belum ada, tetapi ini sifatnya imbauan saja,” pungkas Abdul Azis. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.