TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Mataram menggelar kegiatan bedah buku "Desa Berdaya, Kota Setara" karya Mohamad Baehaqi Alkawy, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang untuk mengulas gagasan dan pesan yang terkandung dalam buku tersebut.
Acara dibuka oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Mataram HM Carnoto dan dihadiri pegiat literasi, akademisi, mahasiswa, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap isu sosial, budaya, dan perkembangan ruang perkotaan.
Dalam pengantarnya, penulis Mohamad Baehaqi Alkawy menjelaskan bahwa buku Desa Berdaya Kota Setara merupakan kumpulan esai yang sebagian besar pernah dipublikasikan di berbagai media massa pada periode 2014 hingga 2019.
Menurutnya, buku tersebut lahir dari renungan sekaligus pengamatannya terhadap perubahan Kota Mataram yang saat itu berkembang pesat sebagai kota jasa hingga pariwisata.
"Buku Desa Berdaya Kota Setara ini sebenarnya kumpulan esai. Hampir semua isi buku ini pernah dimuat di koran dan majalah. Saya membuat tulisan-tulisan ini sejak tahun 2014 sampai tahun 2019. Karena Kota Mataram pada saat itu sedang tumbuh, secara fisik dibangun berbagai hotel dan pusat perbelanjaan, sehingga menawarkan wajah baru sebagai kota jasa dan kota wisata," ujar Baehaqi.
Ia menilai perkembangan Kota Mataram memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kota-kota besar lain di Indonesia yang tumbuh melalui sektor industri manufaktur.
"Mataram tumbuh modern tanpa pabrik besar, tetapi berkembang sebagai kota jasa sekaligus kota wisata. Dalam tulisan ini saya mencoba mengulas ruang-ruang desa dan kota yang sedang tumbuh," katanya.
Baehaqi menjelaskan, buku tersebut merupakan refleksi atas berbagai fenomena sosial yang dilihat melalui perspektif ruang, mulai dari desa hingga kota. Ia menilai ruang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kebudayaan masyarakat Sasak.
"Ruang begitu berarti dalam kebudayaan kita. Tanpa ruang kita tak sepenuhnya bisa mengidentifikasi diri. Ruang-ruang tersebut membentuk lingkungan hidup dan kita selalu membentuk serta dibentuk oleh ruang," ujarnya.
Baca juga: Bedah Buku Merampas Laut, Walhi NTB Soroti Nasip Nelayan
Sementara itu, Ketua Baznas NTB, Lalu Muhamad Iqbal Murad, menilai buku tersebut mampu membawa pembaca seolah hadir langsung di lokasi yang sedang diceritakan.
"Melalui buku ini kita akan dibawa seperti berada dalam ruang cerita yang tengah diceritakan. Bahasanya mengalir sampai kita akan larut dalam tiap cerita yang dibangun," katanya.
Menurut Iqbal, kekuatan narasi dalam buku tersebut memungkinkan pembaca memahami dinamika sosial dan peradaban suatu daerah tanpa harus datang langsung ke lokasi.
"Tanpa harus ke Lombok atau daerah lain, dengan membaca buku ini kita akan tahu bagaimana kondisi suatu daerah dengan dinamika sosial dan peradaban yang ada," ujarnya.
Kolumnis sekaligus Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika NTB, Mujadid Muhas, menilai buku tersebut tidak hanya membahas desa dan kota dalam pengertian geografis semata, tetapi juga menawarkan pemaknaan yang lebih luas.
"Buku ini mencoba mencari makna yang lebih luas dari sekadar definisi desa dan kota," katanya.
Ia melihat adanya keterkaitan yang kuat antara desa dan kota yang digambarkan dalam berbagai tulisan Baehaqi.
"Di buku ini saya melihat gambaran bahwa kota dan desa memiliki keterkaitan yang kuat. Kita bisa melihat desa dari kota dan melihat kota dari desa," ujarnya.
Dedi juga menyoroti tiga dimensi utama yang menurutnya menjadi kekuatan buku tersebut.
"Saya melihat ada tiga dimensi pesan dalam buku ini, yakni kondisi ruang, gambaran waktu yang sangat detail, dan pesan literal yang kuat," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Tribun Lombok, Sirtupillaili menekankan pentingnya membangun budaya literasi melalui berbagai forum diskusi dan bedah buku.
“Kita harapkan kegiatan seperti ini diperbanyak, ruang-ruang dialog bertukar gaagasan sangat penting di tengah perkembangan kemajuan teknologi hari ini,” ungkap Sirtupilaili.
Menurutnya, perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi buku, tetapi juga harus menjadi ruang dialog yang produktif.
(*)