Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Persoalan penerimaan peserta didik baru di SMK Negeri 1 Puhpelem kembali memicu keluhan warga.
Sejumlah wali murid menyebut masalah serupa hampir selalu muncul setiap tahun, terutama terkait sistem seleksi yang dinilai membuat calon siswa dari wilayah sekitar sekolah justru kesulitan diterima.
Kondisi itu memuncak saat puluhan warga mendatangi SMK N 1 Puhpelem, Wonogiri, Rabu (17/6/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, lebih dari 20 orang tua siswa datang ke sekolah untuk menyampaikan aspirasi mereka.
Mereka menyampaikan keberatan atas hasil Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 yang dinilai kurang berpihak kepada calon siswa dari lingkungan sekitar sekolah.
Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya menilai persoalan ini bukan pertama kali terjadi.
Menurutnya, hampir setiap tahun warga mengeluhkan sistem penerimaan yang sama.
"Tadi penjelasan sekolah ada sistem dari atasan. Jadi karena sistemnya. Cuma, kalau di desa kan tidak seperti di kota. Di kota sekolah pilihan banyak, di Puhpelem ya cuma ini," katanya.
Wali murid ini mengaku anaknya tidak lolos melalui jalur domisili terdekat.
Menurutnya, kuota jalur tersebut hanya sekitar 10 persen atau 24 siswa untuk dua program keahlian yang tersedia.
Padahal, ia dan anaknya tinggal di Kelurahan Giriharjo, wilayah yang sama dengan lokasi sekolah tersebut.
Saat mencoba jalur prestasi, nilai anaknya juga kalah bersaing dengan peserta dari luar daerah.
"Warga Giriharjo tergeser. Terisi dari Jawa Timur. Ada yang dari Magetan dan Ponorogo juga ada," ujarnya.
Kekhawatiran terbesar adalah kemungkinan anak-anak tidak melanjutkan pendidikan karena keterbatasan pilihan sekolah di wilayah setempat.
Menurut wali murid tersebut, sebagian besar keluarga calon siswa berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah sehingga faktor jarak dan biaya menjadi pertimbangan penting.
Baca juga: SPMB SMK Negeri 1 Puhpelem Wonogiri Diprotes Warga, Siswa Sekitar Sekolah Terancam Tak Diterima
"Nyuwun sewu, sebagian ekonominya menengah ke bawah. Kalau sekolah jauh, masalah biaya juga berpengaruh. Kalau disini kan dekat, biayanya juga minim. Khawatirnya kan jadi putus sekolah," kata dia.
Terpisah, Wakil Kepala Sarana dan Prasarana SMK N 1 Puhpelem, Lulus Budiarto, membenarkan adanya kedatangan puluhan warga ke sekolah.
Menurutnya, para orang tua mempertanyakan solusi bagi anak-anak mereka apabila tidak diterima di SMK tersebut.
"Dengan pertimbangan jarak, biaya dan sebagainya. Itu dari warga," jelasnya.
Pihak sekolah telah memberikan penjelasan bahwa seluruh proses penerimaan siswa baru mengikuti sistem dan aturan yang telah ditetapkan pemerintah.
Meski demikian, aspirasi warga akan ditindaklanjuti melalui pertemuan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung Kamis (18/6/2026).
Baca juga: Muncul Aduan soal Proses SPMB di SMPN 1 Solo, Disdik Ungkap Penyebab Selisih Daya Tampung
Pertemuan tersebut rencananya melibatkan perwakilan orang tua siswa, pihak sekolah, serta anggota legislatif dari daerah pemilihan setempat guna mencari jalan keluar atas persoalan yang muncul.
Salah satu harapan yang disampaikan warga adalah penambahan rombongan belajar (rombel) agar lebih banyak siswa lokal dapat tertampung.
"Besok rencananya penyaluran aspirasi, harapannya ada masukan dan pendampingan yang diberikan. Harapannya bisa menambah rombel. Kami juga sudah melaporkan hal ini ke Cabdin," pungkas dia.